Search This Blog

Friday, September 9, 2016

Berwisata ke Hutan Tambrauw di Papua Barat

Traveling to Tambrauw forest
Wisatawan Amerika Serikat di Hutan Tambrauw
Hutan hujan tropis merupakan habitat alami bagi ribuan spesies tumbuhan hewan dan tumbuhan. Di Indonesia, ada satu wilayah yang sebagian besar datarannya masih ditutupi hutan lebat. Wilayah itu namanya Kabupaten Tambrauw. Kabupaten ini terletak di Provinsi Papua Barat antara Sorong dan Manokwari. Meskipun tidak sepopuler Raja Ampat, kabupaten ini diam-diam telah dikunjungi oleh wisatawan asing yang datang dari berbagai negara. Beberapa di antaranya berasal dari Luxembourg, Amerika Serikat, Hongkong, Belanda, Prancis, Selandia Baru dan Jerman.
Hiking, camping, birding and wildlife watching in Tambrauw
Northern Coast of Tambrauw regency
Hutan Hujan Tropis
Kawasan hutan di Tambrauw merupakan habitat alami bagi bermacam species tumbuhan dan hewan. Beberapa jenis tumbuhan yang dikenal antara lain: pandan buah merah (Pandanus conoideus), bambu, kelapa, pisang, ketapang, barringtonia asiatica.
Tumbuh-tumbuhan di daerah pegunungan  Tambrauw juga unik sekali, salah satu yang menarik perhatian adalah pohon Pisang Raksasa.
Pengamatan Burung dan Satwa Liar
Kebanyakan wisatawan asing yang berkunjung ke Tambrauw ingin melihat burung yang berbulu indah seperti: Cendrawasih Kuning (Lesser Birds of Paradise/ Paradisaea minor), Cendrawasih Merah Raja (Cicinnurus regius), Magnificent Riflebird (Ptiloris magnificus), Kakaktua Putih (Sulphur Crested Cockatoo/ Cacatua galerita), Kakaktua Raja (Palm Cockatoo/ Probosciger aterrimus), Taun-taun (Rhyticeros plicatus)
Terumbu Karang
Snorkeling holiday in Indonesia
Orange skunk anemonefish
Perairan Tambrauw juga ditumbuhi oleh berbagai jenis terumbu karang yang berwarna-warni. Terumbu karang ini adalah rumah bagi berbagai macam ikan dan satwa laut lainnya seperti damselfish, butterflyfish, anemone fish, parrotfish, urchin, teripang, bintang laut dan lain-lain.
Coral reef in the coast of Tambrauw regency
Marine life in Coral reef
Berwisata ke Tambrauw
Kebanyakan wisatawan yang ke Tambrauw menikmati berkemah di tepi sungai yang berair jernih selama 2 atau 3 hari kemudian dilanjutkan dengan snorkeling selama 1 atau 2 hari di pinggir pantai.
Adapun rentetan perjalanan wisatanya adalah sbb (itinerari di bawah ini hanya sebagai referens saja dan bisa dirubah sesuai keperluan). 
Hari 1
Tiba di Sorong
Transfer ke Tambrauw dengan kapal atau kendaraan bermotor
Transfer ke hutan
Hari 2
Berkemah dan Jelajah sungai dan hutan
Pengamatan burung surga dan satwa liar
Hari 3
Berkemah dan Jelajah sungai dan hutan
Pengamatan burung surga dan satwa liar
Hari 4
Transfer ke tepi pantai
Snorkeling
Hari 5
Transfer ke kota Sorong
Hari 6
Transfer ke bandara

Biaya
Biaya perjalanan wisata ke Tambrauw ditentukan oleh jumlah peserta dan berapa lama wisatawan ingin menghabiskan waktunya di Tambrauw. 

Anda ingin berwisata ke Tambrauw? Silahkan menghubungi DPC HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Kabupaten Tambrauw Nico Nauw WA 082198060084

Catatan: Aktivitas Ekowisata ke Tambrauw hanya bisa dilaksanakan kembali setelah pandemi covid-19 mereda atau ketika pemerintah telah membuka akses ke Tambrauw dengan SOP New Normal. 

Friday, July 1, 2016

Arm Wrestling

This is an old drawing of mine that depicts a father and a son were playing Arm Wrestling. Actually its real title is "David Against Dad." I made this drawing in 2004 when I was still living in Malang city of East Java. I think I used colored pencil manufactured by Faber Castell and created the artwork on an A4 size drawing paper.
Father and son were playing arm wrestling. In Indonesia, it is called panco
Playing Arm-wrestling

I still have the original drawing. So, if you are interested in buying it, you can send me an email.

Tuesday, May 24, 2016

Saatnya Panen

Ini adalah gambar seorang petani tradisional di Pulau Jawa, Indonesia. Dia sedang bekerja memanen hasil pertanian di kebunnya. Saya membuat gambar ini beberapa tahun yang lalu saat masih tinggal di kota Malang - Jawa Timur. Kota itu memiliki udara yang sejuk dan dikelilingi oleh lahan pertanian yang produktif. Saya menggunakan pensil warna untuk membuatnya. Saya lupa nama perusahaan pembuat pensil itu. Mungkin Faber-Castell.

Gambar ini telah berada di dalam sebuah kotak karton, bersama-sama dengan lukisan-lukisan saya yang lain, selama bertahun-tahun. Saya senang sekali melihatnya masih dalam keadaan baik. Saya merasa perlu membagikannya di blog ini.
Harvest Time

Monday, May 23, 2016

Carrying a Cement

After guiding a German tourist named Katja in Raimuti island where we enjoyed snorkeling over coral reef, I accompanied her back to Manokwari city. It was approximately 2 p.m. We took a chance to visit Niko Asaribab - a Papuan artist who lived near Anggrem harbor. Most of his works were wooden carvings. There was a painting of underwater world that showed coral reef and tropical fish.
After spending half an hour with the artist, we continued our trip to the harbor. There were several wooden boats parking at the jetty. There were a pile of Cement Tonasa not far from where we were standing. The sun was shining fully with clear sky. The surrounding atmosphere was really hot. And I saw a porter was carrying cement on his back walking towards a boat. There was a sack of cement on the wooden jetty. Perhaps it fell while being carried by one of the porters.

I made a colored pencil drawing about the mid-day scene of the Anggrem harbor. It was a modest harbor. Several years later, the people's harbor has been changed into a concrete jetty with concrete construction and paving block floor. I heard that it was inaugurated by Jokowi - President of Indonesia last year.
Now the modest look of the people's harbor has disappeared. At least, I did a small drawing of the old harbor as a souvenir.
Please, support this blog by buying my artworks below:

Pikul Semen

Suatu hari setelah memandu seorang wisatawan Jerman bernama Katja menikmati kegiatan snorkeling di Pulau Raimuti, saya mengantarnya kembali ke kota Manokwari. Kebetulan saat itu waktu menunjukkan pukul 02.00. Kami menyempatkan diri berkunjung ke rumah, Niko Asaribab - seniman Papua yang tinggal di kawasan Pelabuhan Anggrem. Karya-karyanya sebagian besar berupa ukiran dari kayu. Ada juga lukisan tentang pemandangan bawah laut terutama terumbu karang dan ikan-ikan tropis.
Pekerja pelabuhan di Manokwari sedang memikul semen tonasa
Pekerja Pelabuhan di Anggrem Manokwari sedang pikul semen
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam di situ, kami melanjutkan perjalan kami ke pelabuhan Anggrem. Di situ ada beberapa kayu yang merapat di dermaga. Ada tumpukan Semen Tonasa tak jauh dari tempat kami berdiri. Matahari bersinar penuh dan langit cerah. Suasana saat itu terasa panas. Dan saya melihat seorang buruh angkut barang yang memikul semen untuk dimuat ke kapal. Ada satu sak semen tergeletak begitu saja di dermaga kayu. Mungkin semen itu jatuh dari punggung salah satu buruh yang bekerja.
Saya membuat sebuah gambar tentang pemandangan di pelabuhan Anggrem itu. Pelabuhannya sangat sederhana. Beberapa tahun kemudian, pelabuhan itu telah berubah menjadi pelabuhan rakyat dengan konstruksi beton, lantai paving block. Pelabuhan yang baru tersebut saya dengar telah diresmikan oleh Presiden Indonesia Jokowi.
Kini suasana pelabuhan rakyat yang serba sederhana telah hilang. Setidaknya saya telah membuat sebuah gambar tangan berukuran kecil sebagai kenang-kenangan.