Showing posts with label maluku. Show all posts
Showing posts with label maluku. Show all posts

Monday, July 6, 2020

Purple Naped Lory from Seram island

Indonesia is the largest archipelago in the world. It is also a natural paradise for birdwatchers who want to see great varieties of tropical birds. When I made a land tour across Seram island last June 2012, I saw a beautiful bird that had been captured by a Moluccan man. Its head was covered by purple and black feather whereas its wings were mostly green. Most of its body, bill and tail was red with some yellow stripe at his front neck or throat. The bus that was carrying me and other passengers stopped at a village in East Seram for a while to load rice. The man approached the bus and showed his pet. I immediately turned on my digital camera to make some pictures of the bird. I knew it was a lory but I was not able to identify it immediately.
The next day when I arrived in Ambon, I took out my book Birds of New Guinea trying to identify it. I saw several species that look like it but I was not really sure so, I made a little research on the internet. Finally, I found its pictures on several birding websites and on wikipedia. The bird is called Purple Naped Lory (Lorius domicela). According to wikipedia it is now an endangered species. Along the way from the town of Bula to Ambon city, I saw extensive deforestation. Endless rows of sawit palm trees, rice fields and other commodity plants have replaced pristine tropical rainforest. In addition to agriculture and logging activities, the hunting and trading of birds in Indonesia seem to be a serious problem to this country. 
When in Ambon, I was interviewed by Rodi Fofid from menamoria.com, an online radio about eco-tourism and the preservation of tropical rainforest. I expressed my concerns about bird trading in Maluku islands particularly in Seram and how we could stop it through responsible tourism that provides alternative income generation to local people. I hope that I can provide birding tour for birdwatchers who want to see endemic birds in Maluku islands. If you are interested in taking a birdwatching trip in Seram and its surrounding islands, please contact me by e-mail to peace4wp@gmail.com. I will be happy to arrange a trip for you. by Charles Roring/ E-mail: peace4wp@gmail.com
Also read:
Ikan bakar di Ambon memang lezat
Hamparan Sawah di Seram Timur

Azure Kingfisher in Halmahera

Wednesday, July 1, 2020

Hamparan Sawah di Seram Timur

Seram Bagian Timur, Maluku
Pelabuhan Sesar Bula di Kabupaten Seram Timur - Maluku
KM Sabuk Nusantara 32 yang saya tumpangi semalam menyusuri Selat Sele. Pagi harinya kapal ini singgah di Harapan Jaya Kepulauan Misool. Setelah itu kapal ini berlayar lagi menyeberangi laut Seram dan akhirnya tiba di Bula pada sore hari. Laut di sekitar Pelabuhan Bula nampak tenang. Padahal diluar perairan itu, ombak yang ditiup oleh angin tenggara tingginya mencapai beberapa meter. Karena pertimbangan keselamatan pelayaran maka, nakhoda memutuskan bahwa kapal tidak jadi melanjutkan perjalanan ke Geser, Gorom dan Fakfak. Oleh karena itu para penumpang yang ada di atas kapal terpaksa harus mencari alternatif lain. Sebelumnya, saya agak kecewa karena ingin sekali melihat Geser, Gorom serta Kesui yang katanya indah sekali pemandangannya. Apa boleh buat, perjalanan darat harus saya tempuh menembus Pulau Seram  untuk kemudian tiba di Pulau Ambon.
Sawah di Seram Bagian Timur
Sawah di Seram Bagian Timur
Bula adalah ibu kota Kabupaten Seram Bagian Timur. Kota ini kecil saja. Selama berada di sana, saya sempat melihat beberapa karyawan sebuah perusahaan eksplorasi minyak sedang lalu lalang di "dekat terminal bus." Siang harinya jumlah penumpang sudah semakin banyak dan bus pun berangkat menuju Ambon. Setelah cukup lama berjalan, pemandangan di luar bus mulai berubah. Hamparan sawah yang luas terbentang di sisi kanan dan kiri jalan. Nampaknya, bus sudah memasuki kawasan transmigrasi. Saya cukup kaget melihat pemandangan ini karena secara tradisional, orang Maluku dikenal sebagai pelaut ulung, pemburu, petani ladang atau pegawai negeri, dan bukan petani sawah. Saya bisa maklum melihat pemandangan sawah yang hijau menguning itu karena sebenarnya sebagian besar penduduk Maluku sekarang ini telah memilih beras atau nasi sebagai makanan pokok mereka. 
Maluku
Sawah yang hijau menguning di Seram Timur
Tak lama kemudian, sopir bus berhenti di sebuah warung dan memuat beberapa karung beras yang sudah digiling untuk dibawa ke kota Ambon. Walaupun saya cukup prihatin dengan perubahan konsumsi makanan pokok dari sagu, dan umbi-umbian ke beras, saya ikut bersyukur bahwa setidak-tidaknya Maluku memiliki lumbung padi yang mampu mencukupi kebutuhan pangan penduduknya. Selain, Seram Bagian Timur, daerah lain di Maluku yang memiliki lahan persawahan yang luas adalah di Pulau Buru. Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis terkenal dari Indonesia, telah menulis banyak tentang Pulau Buru dalam karya-karyanya. 
Perjalanan dari Pulau Seram ke Pulau Ambon ini membawa angan-angan saya ke masa 12 tahun silam ketika masih kuliah di Universitas Pattimura. Semoga suasana damai yang saya rasakan di Maluku akan tetap terpelihara sepanjang masa. oleh Charles Roring


Wednesday, April 17, 2013

Ikan Bakar di Ambon Memang Lezat

Suatu malam ketika berada di Ambon, saya merasa lapar sekali. Hari sudah menunjukkan jam 8 dan cuaca di luar masih hujan. Kepada wartawan senior - Rudi Fofid, saya menanyakan tempat makan ikan bakar yang bisa dijangkau di malam hari. Lima belas menit kemudian, saya diboncengi oleh Opa Rudi (demikian nama kerennya) menuju pusat kota. Hujan rintik-rintik masih terasa di badan ketika kami meninggalkan studio Radio Mena-Moeria.
Ikan bakar
Hidangan ikan bakar di kota Ambon
Kami pun tiba di sebuah rumah makan kecil yang berada tak jauh dari Ambon Plaza. Beberapa orang pengunjung sudah duduk di situ. Ikan bakar merupakan menu yang suka saya pesan ketika berkunjung ke Ambon. Harganya sekitar Rp. 40.000 per porsi. Saya dan Opa Rudi duduk di meja yang berhadapan dengan pintu masuk. Sambil menunggu kedatangan ikan bakar tersebut, kami bercerita tentang rekonsiliasi di Maluku, eko-wisata serta pelestarian alam dan terumbu karang Maluku. Opa Rudi mengutarakan angan-angannya untuk membangun museum sejarah alam di kampung halamannya Ngilngof.
Akhirnya ikan bakar pesanan kami pun tiba. Saya menyantapnya dengan lahap. Memang ikan bakar di Ambon ini lezat sekali rasanya.
Ambon adalah sebuah kota teluk yang indah di Maluku. Pemandangan indah kota ini, beserta laut biru di dalam teluknya bisa dinikmati wisatawan ketika berkunjung ke Tugu Christina Martha Tiahahu di kawasan Karang Panjang.  Para pelancong bisa juga menikmati berbagai aktivitas wisata alam di pulau ini. Snorkeling, diving, trekking, birdwatching merupakan kegiatan yang umum dilakukan wisatawan. Bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah perdagangan rempah-rempah dan interaksi Maluku dengan dunia luar, serta keanekaragaman budaya di Maluku, kunjungan ke Museum Siwalima adalah titik awal yang tepat.
Nah, jika Anda berkunjung ke Ambon - ibukota Provinsi Maluku, jangan lupa untuk mencoba ikan bakarnya. Catatan ini dibuat oleh Charles Roring/ E-mail: peace4wp@gmail.com