Search This Blog

Showing posts with label papua barat. Show all posts
Showing posts with label papua barat. Show all posts

Friday, August 21, 2015

Berwisata di Hutan Hujan Tropis Tambrauw

Berkemah di pinggir sungai
Suasana perkemahan di tepi Sungai Cuan di Kabupaten Tambrauw
Hutan hujan tropis Papua Barat kaya akan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, kita semua perlu melestarikannya dengan tidak merusak atau mengotorinya. Salah satu cara untuk membantu masyarakat lokal dalam memperoleh pendapatan alternatif tanpa menebang pohon adalah lewat program eko-wisata.
Di Kabupaten Tambrauw ada sebuah sungai yang bagus sekali untuk dijadikan sebagai kawasan wisata. Namanya Sungai Cuan. Sungai ini memiliki bantaran yang datar sehingga mudah sekali untuk dijelajahi. Sungai Cuan bisa dicapai dengan naik kendaraan 4WD selama 4 jam dari kota Sorong. Wisatawan yang hendak pergi ke sana bisa membangun tenda-tenda di pinggir sungai. Air sungai yang jernih merupakan lokasi berenang yang menyegarkan.
Sulphur-crested Cockatoo
Burung Kakaktua Putih
Di samping berenang, wisatawan bisa melihat atau mengamati beragam spesies burung-burung Papua. Beberapa di antaranya adalah Cendrawasih, kakaktua putih, kakaktua raja, taun-taun, dan bangau. Selain burung, hutan hujan tropis di dataran rendah dari Pegunungan Tambrauw ini kaya dengan berbagai jenis serangga terutama kupu-kupu dan kumbang. Salah satu yang unik bentuk maupun warnanya adalah kumbang Eupholus schoenherri.
Eupholus schoenherri beetle in Tambrauw forest
Kumbang Eupholus schoenherri
Hutan merupakan habitat alami bagi berbagai tanaman yang memiliki fungsi sebagai tanaman pangan, tanaman obat, tanaman hias maupun bahan konstruksi. Oleh sebab itu, ekowisata yang tidak merusak hutan, perlu kita kembangkan dengan baik.
Kegiatan berkemah di hutan Papua sudah sering dilakukan oleh wisatawan asing khususnya dari Eropa. Saat malam berkemah di hutan, mereka bisa menikmati suara gemericik air yang mengalir, kicauan burung dan ayunan dahan maupun ranting pohon yang ditiup angin. Semua ini merupakan nyanyian alam yang mampu memberikan menyegarkan kembali ketegangan pikiran orang-orang kota yang stress dengan pekerjaan mereka di kantor atau kerumitan hidup di kota.
Bird's head region of Papua Barat
Pegunungan Tambrauw berada di antara Sorong dan Manokwari
Biaya untuk bepergian dan berkemah di bantaran Sungai Cuan memang tergolong mahal sekali. Harganya tergolong mahal karena bisa mencapai belasan juta untuk 2 orang selama 5 hari/ 4 malam. Ini termasuk biaya transportasi pergi pulang dari kota Sorong dengan kendaraan charter 4WD, bahan makanan, penyediaan peralatan berkemah (tenda, kasur udara, alat masak maupun alat makan), biaya untuk pemandu lokal, tukang masak, serta kontribusi bagi masyarakat kampung.
Jika, Anda tertarik untuk berwisata di kawasan hutan tropis sekitar Sorong dan Raja Ampat, silahkan menghubungi saya lewat WA lewat link kontak atau email: peace4wp@gmail.com.

Baca juga:

Thursday, February 14, 2013

Panorama Gunung Botak Yang Memukau

Wisata Alam di Papua Barat
Oma Gertraud bersama dua tukang ojek di Gunung Botak
Seorang Oma dari Jerman yang bernama Gertraud mengirim e-mail dan meminta saya mengantarnya melihat beberapa kampung di sekitar Manokwari sehingga dia bisa bertemu penduduk asli Papua. Sewaktu masih sekolah dulu, Oma Gertraud sering diceritakan oleh gurunya tentang pemandangan Papua yang indah sekali dan keramahan penduduknya. Gurunya Oma Gertraud itu pernah tinggal lama di Papua. Sayang sekali saya lupa menanyakan nama dari guru itu.
Ketika tiba di Manokwari, saya pun mengantar Oma Gertraud ke Ransiki. Kami naik kendaraan umum yang mengantar kami melewati kawasan pesisir sebelah timur Pegunungan Arfak. Di sebelah kiri kami adalah tebing-tebing yang curam dengan pemandangan lautan biru yang menakjubkan. Sementara itu di kanan adalah Pegunungan Arfak yang terjal dan gagah perkasa, tempat burung-burung surga berdansa di dahan-dahan pohon di pagi hari.
Setelah tiba di kota Ransiki, saya segera mencari 2 tukang ojek yang bersedia membawa kami ke Gunung Botak. Masing-masingnya meminta 100 ribu rupiah. Kendaraan yang akan kami tumpangi ke sana adalah satu buah sepeda motor merek Honda Revo dan sepeda motor 2 tak merek Yamaha. Sebelum berangkat, kami singgah sebentar di sebuah warung yang menjual bensin. Tak lama kemudian, perjalanan ke Gunung Botak dimulai. Kami melewati Distrik Momi Waren dengan kampung-kampungnya yang berjejer di kedua sisi jalan. Sesekali kami melihat anak-anak Papua yang bermain di halaman rumah. Ada yang melambaikan tangan mereka kepada kami. 
Ekowisata di Manokwari Selatan
Panorama Gunung Botak yang indah Sekali
Dari penuturan seorang tua bapak Jan Manusawai di Manokwari, bahwa sebelum  masa Perang Pasifik, daerah ini dikuasai oleh para petani Jepang. Mereka menanam tanaman jute yang memiliki serat yang panjang dan kuat. Tiba-tiba saja sebelum Perang Pasifik pecah, mereka pulang ke negaranya. Kini tanaman serat jute yang berguna dan memiliki nilai ekonomis pembuatan tali maupun industri kertas terbengkalai begitu saja di sana.
Dua sepeda motor yang dikendarai oleh dua tukang ojek Papua ini melaju menyusuri jalan beraspal yang berlobang-lobang. Anak-anak muda ini lincah sekali. Sayang sekali, ketika hampir sampai di Gunung Botak, salah satu motor tiba-tiba mogok. Setelah memeriksa isi tangkinya, ternyata bahan bakarnya sudah habis. Maklum motor dua tak meskipun dapat berlari kencang, ternyata sangat boros bahan bakar. Salah satu kawannya, kembali ke kampung terdekat untuk membeli bahan bakar. Hari sudah sore ketika dia kembali dan kami pun bisa melanjutkan perjalanan ke Gunung Botak. Mengapa disebut Gunung Botak? Seperti yang tampak pada foto-foto di artikel ini, sebagian besar permukaannya tidak ditumbuhi pepohonan.
Kami berhenti di sebuah tanjung untuk mengambil gambar pemandangan pegunungan, teluk dan perairan yang indah sekali. Panorama Gunung Botak di daerah Manokwari Selatan ini indah sekali dan layak dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. 
Hasil tangkapan ikan wargga nelayan
Anak-anak Papua yang baru saja kembali dari laut setelah memancing ikan
Beberapa kali Oma Gertraud berdiri bersama dengan tukang ojek itu dan beberapa anak muda Papua yang baru saja pulang dari laut untuk menangkap ikan. Mereka senang difoto bersama Oma Gertraud. Langit mulai ditutupi awan tebal pertanda sebentar lagi hujan lebat segera turun. 
Saya segera memasukkan kamera digital Nikon Coolpix P500 ke dalam tas dan menyelubunginya lagi dengan kantong plastik agar tidak dirusaki oleh air hujan. Kami pun kembali dan tiba di Ransiki di malam hari.
Ingin Jalan-jalan ke Gunung Botak?
Gunung Botak yang indah ini terletak di tepi Teluk Cendrawasih yang indah sekali pemandangannya. Selain menikmati pemandangan, Anda bisa berenang dan snorkeling di sana. Kalau Anda tertarik ke Gunung Botak, terbanglah ke kota Manokwari. Cara yang paling murah adalah dengan naik kapal PELNI. Setelah itu, naiklah kendaraan umum (harganya kira-kira Rp. 50.000/orang) yang akan membawa Anda ke kota Ransiki. Sesampainya di sana carilah tukang ojek (antara Rp. 200 ribu hingga 250 ribu per orang) yang akan mengantar Anda ke Gunung Botak. Di kota Ransiki ada penginapan yang harganya cukup terjangkau (kurang lebih Rp. 300 ribu/malam). 
Masih bingung dan perlu tambahan info? Silahkan hubungi saya lewat email: peace4wp@gmail.com