Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Friday, June 2, 2023

Cendrawasih Merah di Hutan Saporkren

Beberapa minggu lalu, saya memandu Michael, seorang wisatawan dari Florida - Amerika di Pulau Waigeo, Kabupaten Raja Ampat. Kita melakukan aktivitas pengamatan burung dan satwa liar di sepanjang tepian jalan raya, di pesisir pantai serta di dalam hutan hujan tropis. Target utama kami adalah Cendrawasih Merah yang disebut juga Red Bird of Paradise (Paradisaea rubra). Burung ini, seperti umumnya spesies burung surga lainnya, suka berkumpul di dahan-dahan pohon yang tinggi untuk berdansa dan kawin. 

wisata pengamatan burung di Raja Ampat
Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra)

Waigeo Raja Ampat
Cendrawasih merah (Red Bird of Paradise)

Untuk menyaksikan tarian Cendrawasih Merah, kami harus bangun pagi sekali jam 04:30. Setelah melakukan sedikit persiapan, pada jam 05:00, kami pun mulai berjalan kaki dari pondok wisata tempat kami menginap di Kampung Saporkren menuju hutan perbukitan yang letaknya cukup jauh. 

Senter buat traveler
Senter LED ini tersedia di Tokopedia

Hari masih gelap, kami mulai melangkah perlahan menyusuri jalan setapak di tepi pantai. Setelah melewati jembatan kayu yang lumayan panjang, kami kemudian menanjak bukit. Udara terasa dingin, dan angin bertiup agak kencang. Lautan nampak bergelora. Untuk menerangi perjalanan kami saya menggunakan sebuah senter LED kecil yang cahayanya terang sekali. Baterainya sudah 'dicharge' malam sebelumnya sehingga energinya cukup untuk perjalanan panjang pagi itu. 

Kurang lebih 1 jam kami berjalan dan akhirnya tiba di bawah pohon. Nampak dahan pohon berayun ditiup angin. Suara burung-burung mulai terdengar di seluruh penjuru hutan. Ada suara burung Jagal Papua, ada burung Helmetted Friarbird serta Raja Ampat Pitohui. 

Ada juga suara beberapa Cendrawasih Merah yang mulai memanggil-manggil pasangan betinanya untuk datang melihat mereka berdansa. 

Sacred Kingfisher
Sacred Kingfisher

Cahaya matahari mulai nampak dari ufuk timur. Kami duduk di bangku-bangku sederhana yang dibuat oleh warga kampung. Sayang sekali angin bertiup dengan kencangnya. Burung Cendrawasih Merah yang kami harapkan segera berkumpul, tak kunjung datang. Hanya ada 1 ekor jantan yang bertengger di dahan pohon tinggi di hadapan kami. 

Michael, sang turis yang saya pandu mengarahkan kameranya ke burung Cendrawasih Merah itu dan memotretnya beberapa kali. Kami terus menanti dengan sabar hingga pukul 08:30. Sayang sekali, tarian burung surga yang kami nantikan tidak terjadi. Angin terus bertiup kencang. Kicauan-kicauan berbagai spesies burung semakin sedikit yang terdengar. Kami pun memutuskan untuk berjalan turun dan melanjutkan aktivitas pengamatan burung di sepanjang tepian jalan raya. 

Ada beberapa spesies burung tropis khas Raja Ampat yang berhasil kami lihat di pohon-pohon yang tumbuh di tepi jalan. Beberapa di antaranya Eclectus Parrot, Red-cheeked Parrot, Blyth's Hornbill, Kumkum Kelabu atau Pinon Imperial Pigeon, Pied Imperial Pigeon dan Rufous-bellied Kookaburra. Saat berjalan pulang ke kampung, kami melihat Sacred Kingfisher. Ada juga Glossy-mantled Manucode yang juga adalah satu spesies burung surga. 

Ada beberapa yang saya ambil fotonya menggunakan kamera Fujifilm HS50EXR. Ini adalah kamera lama tapi dilengkapi lensa tele yang cukup bagus. Saya juga membawa 2 baterai cadangan, senter, ponsel, 1 laser pointer dan 1 portable loudspeaker untuk memanggil burung. 

Michael - sang turis Amerika - yang saya pandu cukup puas karena berhasil melihat burung Cendrawasih Merah di habitatnya meskipun tidak ada tarian burung surganya. Siang harinya kami balik ke kota Sorong dengan menaiki kapal cepat. 

Dari perjalanan wisata nonton burung surga selama 3 hari/ 2 malam ditambah 1 pagi di hutan pesisir kota Sorong, kami berhasil melihat lebih dari 70 spesies burung termasuk Rainbow Bee-eater, Australian White Ibis, Papuan Black Myzomella, Shining Flycatcher, Yellow-faced Myna, Emperor Fairywren dan masih banyak lagi. 

ekowisata raja ampat
Wisata Pengamatan Burung Tropis di Raja Ampat

Saya membawa binocular ed lens 10×50 yang dipasang di sebuah tripod untuk meningkatkan kualitas pengamatan burung selama tur di Raja Ampat dan Sorong. 

Oh, iya, untuk para pembaca yang penasaran untuk menyaksikan seperti apa Burung Cendrawasih Merah menari, silahkan menyaksikan video klip singkat di atas. Video itu saya buat di tur yang sebelumnya. Semoga terhibur dan bermanfaat. 

Mari kita lestarikan hutan hujan tropis karena gas CO2 yang diserapnya, dan oksigen yang dihasilkannya bermanfaat bagi seluruh mahluk hidup di dunia ini. 🙏

Baca juga:

Friday, February 24, 2023

PERJALANAN WISATA PENGAMATAN BURUNG DAN SATWA LIAR DI TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT DAN WAY KAMBAS

Sebuah Laporan Perjalanan oleh Charles Roring

Pulau Sumatra adalah salah satu destinasi pengamatan burung dan satwa liar yang penting di Indonesia. Menurut website Avibase, ada sekitar 775 spesies yang secara ilmiah telah dicatat di sana. Dari jumlah itu, ada 31 spesies yang endemik dan 74 spesies yang terancam di dunia. 

Black and Crimson Oriole, Asian Fairy Bluebird dan Barred Cuckoo Dove

Mulai tanggal 18 sampai 23 Februari 2023, saya berkesempatan untuk memandu 2 wisatawan Eropa, Tuan Karsten dan Nyonya Sheila. Mereka adalah pengamat burung dan satwa liar yang tinggal di Jerman. 

Lokasi pertama yang kami tuju adalah Taman Nasional Kerinci Seblat. Untuk mencapainya, saya harus terbang dari Manokwari ke Jakarta. Karena hari sudah sore, saya masih harus menginap di Hotel Orchardz Jakarta selama 1 malam dan selanjutnya ke Padang - Provinsi Sumatra Barat keesokan harinya. Setelah menginap 1 malam di Hotel Daima, saya kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan minibus ke Desa Kersik Tuo di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Di sana, saya bertemu dengan Pak Subandi dan menginap di pondok wisata (homestay) miliknya. Kedua wisatawan Eropa tersebut datang beberapa jam kemudian dan menginap di Hotel Bintang Kerinci. 

Daerah dataran tinggi Kerinci terutama di Kecamatan Kayu Aro sudah sangat terkenal sejak zaman Belanda sebagai sentra produksi kopi Arabica dan teh hitam.   

pemandangan perkebunan teh di desa kersik tuo
Gunung Kerinci menyemburkan abu vulkanik

Di seberang jalan tempat kami menginap, hamparan luas kebun-kebun teh dan sayuran menjadi latar depan bagi Gunung Kerinci yang menjulang tinggi ke angkasa. Di pagi hari ketika kami berada di sana, gunung api itu nampak menyemburkan abu, namun nampaknya aktivitas vulkanik tersebut hanya sebentar saja.  Oleh karena itu, kami tetap bisa menjalankan aktivitas pengamatan burung di hutan kaki Gunung Kerinci dengan aman.

Perjalanan wisata ini diselenggarakan oleh Vacation Indonesia Tours (VIT Tours). 

birdwatching in sumatra
Black-browed Barbet

Selama berada di Kerinci, kami dibantu oleh pemandu lokal yang sudah berpengalaman yakni Bapak Subandi dan anaknya Budi. Mereka telah bertahun-tahun memandu wisatawan pengamat burung yang datang dari berbagai penjuru dunia ke Sumatra Barat dan Jambi. 

Dari kiri pada posisi membelakangi kamera Budi dan Pak Subandi
Ibu Sheila dan Bpk. Karsten - wisata pengamatan burung di Jalan Tapan, Taman Nasional Kerinci Seblat, Provinsi Jambi

Waktu terbaik untuk mengamati burung adalah di pagi dan sore hari. Burung-burung yang sempat kami lihat dan identifikasi adalah Sumatran Trogon, Scarlet Minivet, Golden Babbler dan White-throated Fantail. Ada juga burung-burung umum di lahan pertanian milik petani seperti Cattle Egret, Long-tailed Shrike, Black-winged Kite, dan Barn Swallow. Selain burung, ada juga kupu-kupu, dan tupai yang sempat kami dapati ketika menyusuri jalan setapak di lereng Gunung Kerinci. 

Fire-tufted Barbet - Burung Takur Api
Fire-tufted Barbet

Aktivitas wisata pengamatan burung dan satwa liar kami lakukan pula di sore hari terutama di Rawa Bento. Kami menggunakan perahu motor yang dikemudikan oleh warga setempat. Selama menyusuri sungai kecil di rawa itu, kami berhasil melihat beberapa spesies burung yang menarik seperti Common Myna, Purple Heron, Cattle Egret, Grey Wagtail, Barn Swallow, Wood Sandpiper, dan lain-lain.

Kerbau, monyet ekor babi adalah mamalia yang umum terdapat di sana. 

Southern Pig-tailed Macaque
Monyet Selatan Ekor Babi (Southern Pig-tailed Macaque)

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke kota Sungai Penuh dan melakukan aktivitas pengamatan burung maupun satwa liar di sepanjang Jalan Tapan. Berbagai jenis burung Sumatra dapat diamati dengan mudah sambil menyusuri jalan yang berkelok-kelok di pinggir tebing. Kami melihat Hill Prinia, Black-browed Barbet, Yellow-eared Spiderhunter, Little Spiderhunter, Sumatran Trogon, Fire-tufted Barbet, Sumatran Treepie, Sunda Forktail, Graceful Pitta, Black-headed Bulbul, Black and Crimson Oriole, Orange-bellied Flowerpecker, Long-tailed Broadbill, Asian Fairy Bluebird, Wreathed Hornbill, dan masih banyak lagi. Jalan Tapan adalah lokasi pengamatan burung (birding) dan satwa liar yang sangat direkomendasikan bagi para pencinta alam. 

Kami kembali ke Padang di hari berikutnya dengan menaiki Toyota Avanza yang dikemudikan oleh Oky. Di sepanjang jalan, kami berhenti beberapa kali untuk mengamati burung termasuk di tepi pantai untuk mencari plover, tern, dan frigatebird. Warga membangun gedung-gedung besar untuk dijadikan rumah burung walet (Edible-nest Swiftlet) yang akan dipanen sarangnya. Sarang tersebut dibuat oleh burung menggunakan salivanya. Sarang itu dijadikan sebagai makanan terutama oleh masyarakat Tionghoa. Indonesia mengekspor sarang burung walet ke Hongkong - China, Singapura, Vietnam, Malaysia dan berbagai negara lainnya di seluruh dunia.

Keesokan paginya (22 Feb. 2023), kami melanjutkan perjalanan dari Padang ke Lampung dengan Batik Air melalui Jakarta. 

Taman Nasional Way Kambas adalah destinasi wisata pengamatan flora fauna yang sudah terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Sayang sekali, taman nasional ini masih ditutup sehingga wisatawan belum bisa beraktivitas di dalamnya. Sebagai gantinya, kami melakukan aktivitas pengamatan satwa hanya di sepanjang tepian hutan sambil menyusuri kebun singkong dan hutan karet. Di sore dan malam hari kami dipandu oleh local guide Hariyono dan Angga serta Moko. Selama night birding, kami melihat Sunda Scops Owl dan Large-tailed Nightjar. Di pagi hari, aktivitas pengamatan burung tetap dipandu oleh Hariyono dan Angga. Ada banyak burung yang hinggap di cabang dan ranting pohon seperti Blue-throated Bee-eater, Brown-throated Sunbird, Red-throated Barbet, Yellow-vented Bulbul, Ashy Tailorbird, Brown Shrike, Plaintive Cuckoo, Sunda Pygmy Woodpecker, Collared Kingfisher, Javan Munia, dan Black-bellied Malkoha, Collared Kingfisher, Sooty-headed Bulbul, Zebra Dove, Spotted Dove, Orange-belied Flowerpecker, serta masih banyak lagi.  

Saya, Bpk. Karsten dan Ibu Sheila dan pramuwisata lokal Hariono saat melakukan aktivitas pengamatan burung dan satwa liar di Way Kambas Sumatra. - Foto oleh Angga

Setelah makan siang, aktivitas selanjutnya dilakukan dengan menyusur sungai menggunakan speedboat yang dipandu oleh Hariyono. Ia adalah birding guide yang sudah dikenal di kalangan para pengamat burung domestik maupun manca-negara yang berkunjung ke Way Kambas. Keesokan harinya (24 Feb 2023), kami berangkat ke Jakarta.

Secara pribadi, ini adalah perjalanan wisata pertama saya ke Sumatra. Keindahan alam, keramahan masyarakat serta keunikan budaya di Sumatra telah meninggalkan kesan yang baik bagi saya dan wisatawan yang telah berkunjung ke sana. Semoga di masa datang, jumlah wisatawan yang berlibur di Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Way Kambas bisa terus bertambah, sehingga bisa membuka kembali lapangan pekerjaan bagi para pramuwisata lokal yang sempat terhenti selama 2 tahun, sebagai akibat dari Pandemi Covid-19. 

Kamera

Untuk memotret burung, saya menggunakan kamera bridge bekas Fujifilm HS50EXR yang optical zoomnya adalah 42× atau setara dengan lensa 35 sepanjang 1,000 mm. Karsten menggunakan kamera yang lebih bagus yakni Nikon Coolpix P1000 yang memiliki optical zoom 125× yang setara dengan lensa 35 dengan panjang 3,000 mm. Para pengamat burung di seluruh dunia menyukai kamera Nikon P1000 karena bisa memotret burung di pepohonan yang tinggi. Kamera ini bisa juga memotret obyek yang dekat seperti serangga atau bunga. Karena ukuran sensornya yang kecil maka foto yang dihasilkan tidak bisa diperbesar terlalu banyak. 

Binoculars

Teropong dua barrel (binoculars) adalah peralatan pengamatan flora fauna yang sangat diperlukan ketika kita berada di hutan. Yang saya rekomendasikan adalah Nikon Action EX 10×50CF.

Semoga tulisan di atas dapat menambah kecintaan dan komitmen kita terhadap keindahan dan upaya-upaya pelestarian alam. 

Tas Ransel 

Kebanyakan guide membawa tas ransel sebagai tempat untuk mengisi kamera, air minum, binocular, hp, laser pointer, senter, portable mini loudspeaker untuk pemanggilan burung, dan lain-lain. Saat ini tas ransel bisa dengan mudah dibeli lewat market place. 

Semoga artikel ini bisa semakin meningkatkan kecintaan kita pada keindahan alam dan kepedulian kita terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup terutama hutan hujan tropis.

Baca juga:

Monday, February 13, 2023

Wisata Snorkeling di Kepulauan Raja Ampat

Saya sering sekali berkunjung ke Raja Ampat untuk memandu wisatawan yang umumnya adalah dari mancanegara. Kegiatan kami beragam. Ada pengamatan burung dan satwa liar di sepanjang pesisir pantai dan hutan, ada juga aktivitas kunjungan ke pulau-pulau terpencil serta snorkeling di perairan yang ada terumbu karangnya. 

Ada banyak sekali spot snorkeling di Raja Ampat. Lokasi yang paling sering saya kunjungi adalah di Friwen, pulau-pulau Urai, perairan pesisir selatan Waigeo, Tanjung Kri, Pulau Mansuar, Sawondarek serta Pulau Mamiaef dan Pulau Waim di Kampung Urbinasopen, Waigeo. 

ekowisata bahari
Snorkeling in Raja Ampat

Terumbu Karang

Saya biasanya memotret terumbu karang, bintang laut dan ikan-ikan yang berenang ria di sela-sela bebatuan karang yang beragam bentuk dan warnanya. Ada mahluk laut lainnya yang menarik untuk diabadikan dengan kamera bawah laut seperti: bintang laut, "pohon natal." Bintang laut sendiri ada beragam jenis dan warnanya. "Pohon natal" sebenarnya adalah cacing laut (Spirobranchus giganteus) berukuran kecil yang hidup di permukaan bebatuan karang di perairan terumbu karang. 

Pohon Natal Laut
 Cacing "Pohon Natal"

Ketika sedang snorkeling, saya merasakan seakan-akan berada di dunia lain. Ada ikan Nemo Merah Hitam (Red and Black Anemonefish), Pink Anemonefish, ikan kakaktua serta ikan hiu karpet Tasselled Wobbegong. 

wobbegong di raja ampat
Ikan Hiu Karpet Tasselled Wobbegong di Pulau Waigeo Kab. Raja Ampat

terumbu karang di kepulauan Raja Ampat
Terumbu karang di Raja Ampat yang padat dengan berbagai spesies ikan

Perlengkapan Snorkeling

Ketika menikmati olahraga snorkeling, saya biasanya memakai kacamata bawah air (snorkeling mask), pipa napas (snorkel) dan kaki bebek (swim fins). Perlengkapan yang biasa dipakai oleh wisatawan pada umumnya adalah baju renang dan pelampung. 

Kamera

Untuk melakukan pemotretan di bawah permukaan laut, saya menggunakan kamera seperti Canon G1X, Nikon AW 130, dan Fujifilm XQ2. Saya juga pernah menggunakan Brica B-Pro5 alpha edition kamera aksi yang ukurannya lebih kecil. Perkembangan teknologi yang begitu cepat saat ini memungkinkan kita untuk membeli produk kamera yang semakin canggih dengan kualitas foto dan video yang lebih bagus.  Ada juga kamera Olympus TG-6 yang ukuran sensornya relatif sama dengan Nikon W-300. Namun demikian, Olympus TG-6 dilengkapi dengan underwater housing yang semakin melindunginya dari kebocoran air laut. Jadi kamera ini cocok untuk dipakai menyelam. Karena dilengkapi dengan underwater housing maka harganya relatif lebih mahal daripada Nikon W-300.

Olympus TG-6
Olympus TG-6

Saat memotret ikan dan terumbu karang, saya biasanya menyelam ke kedalaman sekitar 1,5 - 3 meter agar lebih dekat dengan obyek yang hendak di foto. Biasanya ikan-ikan akan menjauh ketika saya mulai turun ke dasar. Oleh karena itu, ketika sudah sampai di dasar, saya biasanya mencari batu yang bisa saya pegang dengan tangan kiri agar tidak terdorong oleh arus dan gelombang sambil tetap menjaga keseimbangan kaki yang menggunakan sepatu bebek melayang di dalam air. Ketika saya sudah dalam posisi tenang sambil menahan napas, ikan-ikan mulai mendekat lagi. Ketika itulah, saya memotret ikan dan obyek menarik lainnya yang berada di sekitar saya. Rata-rata saya hanya bisa menahan napas selama 1 menit lebih sedikit. 

jelajah pulau-pulau
Wisatawan Jerman di Laguna Insouduwer di kawasan timur Waigeo 

Selain wisata snorkeling, saya juga sering menemani wisatawan dengan perahu motor atau speedboat ke pulau-pulau untuk melihat pemandangan karst yang indah. Sinar mentari yang cerah di lautan terkadang memiliki intensitas yang cukup tinggi. Wisatawan yang kulitnya sensitif perlu mengusapkan krim pelindung kulit agar kulit tidak terbakar dan terkelupas. 

Pantai pasir putih di Pulau Waigeo
Pantai Yenandau di Pulau Waigeo Raja Ampat

Rute Penerbangan

Wisatawan yang ingin berwisata ke Raja Ampat, perlu terbang terlebih dahulu ke kota Sorong. Ini adalah ibukota Provinsi Papua Barat Daya. Setelah tiba di bandara Domine Eduard Osok - Sorong, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke kota Waisai Sorong dengan naik kapal cepat dengan durasi waktu kurang lebih 2 jam. 

wisata bahari ke Raja Ampat
Rute Penerbangan ke Kota Sorong

Ada banyak hotel di kota Sorong. Wisatawan bisa memilih untuk menginap di Swissbel, Aston, Vega, Belagri atau di hotel lain yang lebih terjangkau harganya. 

Begitu pula halnya dengan penginapan di Raja Ampat. Ada resort-resort mewah di tepi pantai yang harganya lebih dari 1 juta per malam tapi ada juga homestay atau pondok wisata yang harganya cukup terjangkau yakni sekitar 400 ribu per orang per malam.

Baik pengelola homestay dan resort membantu mengatur perjalanan wisata Anda melihat keindahan alam Raja Ampat. Artikel ditulis oleh Charles Roring, email: peace4wp@gmail.com,  whatsapp.

Baca juga:


Saturday, January 28, 2023

Teropong untuk Pengamatan Burung dan Satwa Liar

Saya bekerja sehari-hari sebagai pemandu turis yang tertarik dengan aktivitas pengamatan burung dan satwa liar. Daerah-daerah yang kami kunjungi adalah hutan dataran rendah di Kabupaten Sorong, hutan pesisir dan perbukitan di Raja Ampat, hutan pegunungan rendah dan tinggi di Arfak Manokwari. Terkadang saya juga memandu tamu ke luar Tanah Papua seperti ke Sulawesi Selatan (Makassar, Karaenta, Ramang-Ramang dan Malino), Sulawesi Tengah (Palu, Lore Lindu), Sulawesi Utara (Manado, Kotamobagu, Tangkoko di Bitung, dan Tomohon di Minahasa)

teropong untuk pengamatan burung dan satwa liar
Wisatawan Amerika sedang mengamati burung di Pulau Waigeo, Raja Ampat

Kebanyakan peralatan yang digunakan adalah teropong dua lensa (binoculars), kamera telefoto serta spotting scope serta laser pointer berwarna hijau. 

Teropong adalah salah satu peralatan yang penting sekali dalam kegiatan pengamatan flora-fauna maupun pemandangan alam. Mereknya bermacam-macam. Yang terkenal namun mahal harganya antara lain Swarovski, Leica, Zeiss dan Nikon. Contohnya untuk 1 buah binocular Zeiss ukuran 8×42 Terra ED, harganya di Amazon.com adalah 485.80 atau sekitar 7,27 juta rupiah. 

Umumnya, ukuran binoculars yang digunakan adalah 8×43 dan 10×42. Ada juga ukuran 10×50, 15×56. 

Desain binoculars ada 2 tipe yakni dengan prisma porro dan prisma roof. Kebanyakan binoculars tipe roof yang dipakai oleh para pengamat burung dan satwa liar karena ukurannya yang lebih kecil dan ringan serta kedap air. Ada dua jenis prisma yang umum dipakai dalam binoculars yakni Prisma bak7 dan bak4. Dari segi kualitas, prisma bak 4 memiliki kualitas penerusan cahaya yang lebih baik namun harganya lebih tinggi.

Saya menggunakan binoculars 10×50 Model SV202 dari SVBONY. Binoculars ini dilengkapi dengan prisma Bak4, dan lensa ED. Citra yang dihasilkan oleh binoculars ini cukup terang dan tajam. Saya pernah mencoba berbagai tipe binoculars yang dibawa oleh para wisatawan seperti beberapa merek terkenal tersebut di atas. Binoculars SVBONY Model SV202 ini memiliki kualitas yang cukup setara.  ED adalah singkatan dari Extra-low Dispersion. Ini adalah jenis gelas berkualitas tinggi yang mampu meneruskan sebagian besar cahaya yang masuk ke dalam binocular serta memfokuskannya ke satu titik. Dengan demikian pembiasan cahaya di titik fokus bisa dikurangi semaksimal mungkin. Hasilnya adalah citra yang dilihat oleh mata pengamat melalui lensa binoculars nampak terang dan tajam. 

Di Tanah Papua ada ratusan spesies burung yang bisa diamati. Beberapa di antaranya adalah Red-breasted Paradise Kingfisher, Rufous-bellied Kookaburra, Orange-fronted Fruit Dove, Palm Cockatoo, Spice Imperial Pigeon, Ornate Melidectes, Elfin's Myzomela, dan masih banyak lagi. 

Coconut Lorikeet (Trichoglossus haematodus)
Coconut Lorikeet
Untuk mengamati burung-burung yang indah tersebut, penggunaan binocular atau teropong 2 lensa adalah hal yang mendasar.  

Nah, jika ada dari Anda sekalian yang membaca artikel ini tertarik membeli binocular yang saya sebut di atas, silahkan lihat binocular tersebut di sini: SVBONY SV202 binoculars.

Aktivitas pengamatan burung, kupu-kupu, kadal, biawak dan berbagai jenis flora dan fauna dapat meningkatkan kecintaan kita pada alam semesta. Hal tersebut bermanfaat sekali dalam mendorong upaya kita semua untuk melestarikan lingkungan hidup agar tetap terjaga bagi generasi masa sekarang maupun masa depan. 

Baca juga:

Tuesday, September 28, 2021

Cendrawasih Terkenal Dengan Keindahan

Burung Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) terkenal dengan warna bulunya yang kuning keemasan dipadu dengan warna coklat di sekujur badannya serta hijau di bagian lehernya. Ciri-ciri keindahan fisik ini bisa kita lihat juga di spesies serupa lainnya yaitu Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda) yang hidup di hutan hujan tropis Kepulauan Aru dan dataran Tanah Papua bagian selatan sekitar Taman Nasional Lorentz hingga ke wilayah hutan sekitar Merauke.  
tarian cendrawasih jantan
Cendrawasih jantan sedang bertanding dansa
Arti bahasa Latin di atas sebenarnya adalah Burung Surga Tak berkaki. Mungkin kita burung ini tiba di Eropa dalam keadaan telah dikeringkan/ diawetkan, daging, isi perut dan kakinya sudah dikeluarkan atau dilepas oleh pemburu, sehingga tinggal kulit, tengkorak dan bulunya yang indah. Akibatnya para ilmuan barat yang saat itu memeriksanya kemudian memberi nama Paradisaea apoda.
Burung Cendrawasih Kuning indah sekali warnanya
Cendrawasih jantan didampingi dua ekor betina
Sebenarnya keindahan Burung Cendrawasih tidak terbatas pada warna bulunya yang kuning keemasan itu. Burung surga ini memiliki kemampuan berdansa yang tidak dimiliki spesies burung lain. Di pagi dan sore hari, burung Cendrawasih Kuning jantan berkumpul di cabang-cabang pohon tertentu untuk menggelar pertandingan dansa di antara mereka. Tujuannya adalah untuk memikat dan kawin dengan pasangan burung betina. 
Cendrawasih kuning kecil secara alami adalah poligami
Secara alami burung Cendrawasih Kuning adalah poligami
Burung Cendrawasih Kuning Kecil maupun Cendrawasih Kuning Besar bisa memiliki pasangan kawin lebih dari satu. Jadi secara alami Cendrawasih menganut poligami.  Burung Cendrawasih jantan yang berhasil mementaskan tarian pemikat betina dengan baik akan memenangkan kontes dansa. Hal ini bisa dengan mudah kita lihat di foto. Ada beberapa burung surga betina di kedua sisi burung jantan yang tampil sebagai pemenang dansa. 
Di sinilah fenomena seleksi alam dalam teori evolusi seperti yang dikemukakan oleh Darwin berlaku. Namun demikian nampak ada keunikan tersendiri dalam burung Cendrawasih Kuning Kecil, bukan hanya burung kuat dan bisa memperoleh makanan saja yang akan bertahan tapi burung yang bisa memperagakan Tarian Cendrawasih dan keindahan warna bulunya yang bagus akan menang. Kadang dalam berkompetisi di antara sesama jantan, ketika persaingan dalam tari-tarian berlangsung sengit, terjadi perkelahian di antara mereka. Ada yang bahkan sampai jatuh ke tanah. Namun dengan gigihnya burung yang jatuh tersebut akan bangkit dan terbang lagi ke atas pohon serta melanjutkan pertandingan tari-tarian tersebut. 
Dalam dunia avifauna Tanah Papua, burung lain yang memiliki tarian pemikat betina adalah flame bowerbird dan masked bowerbird. Burung api masked ini, menurut pendapat saya pribadi, memiliki keindahan tarian yang terbaik di antara banyak spesies burung di dunia. Saya pernah menonton tariannya selama lebih dari satu jam. Mengenai spesies burung api ini, dan juga spesies burung surga Parotia Barat yang suka berdansa, akan saya bahas di lain waktu.
Tempat-tempat Wisata Pengamatan Burung Cendrawasih
Ada beberapa tempat wisata pengamatan burung Cendrawasih di  Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Beberapa di antaranya adalah: Manokwari, Sorong, Wondama, Tambrauw, dan Jayapura. Ini ditulis oleh Charles Roring. 
Baca juga:

Saturday, June 5, 2021

Birding in Sorong and Raja Ampat of Indonesia

Azure Kingfisher on a vine above a small river in Sorong regency
Kingfisher
I offer birding tours for visitors who are interested in watching tropical birds both in the forests of Raja Ampat and Sorong. The duration of the tour can be customized into a few days up to more than one week.
Birds that can be watched during the tour include Pinon Imperial Pigeon, Olive-backed Sunbird, Rainbow Bee-eater, Olive-crowned Flowerpecker, Amboyna Cuckoo-Dove, Wompoo Fruit-Dove, Beautiful Fruit-Dove, Pink-spotted Fruit-Dove, Western Black-capped Lory, Rainbow Lorikeet, Eclectus Parrot, Sulphur-crested Cockatoo, Red-cheeked Parrot and Palm Cockatoo, Large Fig Parrot, Black Parrot, Dollarbird, Yellow-billed Kingfisher, Magnificent Riflebird, King Bird of Paradise, Glossy-mantled Manucode, Lesser Birds of Paradise, Red Bird of Paradise, Wilson's Bird of Paradise, Hooded Butcherbird, Spangled Drongo, Beach Kingfisher, Torresian Crow, Hook-billed Kingfisher, Rufous-bellied Kookaburra, Crested-Tern, Papuan Hornbill, Willie Wagtail, etc.
Things to prepare:
  • Binoculars such as Swarovski EL 8.5× 42 or any binoculars that are good enough to produce clear images og birds in distant trees.
  • Camera with telephoto lens. A bridge camera such such Canon SX60HS, and Nikon P900 are very powerful photographic device for taking picture of birds. If you have got spotting scope, you could bring it too.
  • Watershoes or hiking boots, t-shirts and pants that are suitable for hiking and watching birds in the forest.
How to get to Sorong?
Male Lesser Birds of Paradise
Sulphur-crested Cockatoo
  • For international flights, you can fly from your country to Jakarta - the capital of Indonesia. 
  • For domestic flights, you can continue your trip by flying to Sorong city. Daily regular flights are provided by such airlines as Garuda, Sriwijaya, Batik, Nam, and Lion Air.
Booking
Please, contact me (Charles Roring) by email to: peace4wp@gmail.com or use whatsapp: +6281332245180

Saturday, July 18, 2020

Bali Tropical Lifestyle

Bali is perhaps the most famous tropical island in the world. It is a tourist hub of Indonesia. Every year millions of visitors come to Bali. They want to enjoy swimming and sunbathing at Kuta and Legian beach or explore the beauty of terraces of rice fields in the inland areas. Although agriculture still provides the the largest employment, tourism is the driving power of the economy. Bali is also the center of art. Art lovers will feel that Ubud town is more suitable for them. Art galleries and museums present the superior craftsmanship of Balinese woodcarvers and painters.
Some businessmen make Bali as their trading hub. They import carvings, furniture, or even wooden houses for their clients in Europe, South America or Australia. Balinese carpenters can build timber frame houses that are decorated with artistic reliefs on the walls and carvings on the pillars. For Balinese, art is an integral part of their daily life.
In Bali - the island of the gods, everyday is a holiday. There are plenty of attractions which travelers can see, and enjoy. From hiking the mount Batur to watching dolphins at Lovina, travelers may choose activities and adventure packages which they want to experience in this tropical island. Lovers come to Bali to enjoy their honeymoon too. Feeling stressed with office works? Don't worry, Bali has got endless rows of tropical beach resorts and spas where you can stay to book for massage service or taking some yoga classes.
I have visited Bali several times. My last visit this year lasted for 3 months. I stayed in a nice tropical house in Ubud on Jalan Sukma. I ate Balinese nasi campur, I rode a mountain bike to explore the slopes of Ubud. I visited Neka and Anthony Blanco art galleries and Museum Puri Lukisan to see traditional and modern paintings. Drawing is my hobby. When I was on the second floor or Neka art gallery, I saw pastel paintings of Gerard Hofker. Such fantastic artworks from Western painters depict the traditional Balinese lifestyle that are slowly being mixed with cultures from all corners of the world.
Balinese are a religious society. Hinduism is the main religion here. However, the Balinese are tolerant to other cultures and religions. Temples are every where even in business centers such as Ubud market or the shopping center at Kuta main street. Yet, the Balinese culture will not be eliminated. It continues to exist side by side with other cultures that have entered this beautiful tropical island. So, culturally Bali does not belong to Indonesia anymore. It belongs to the world. It is a cosmopolitan. Come to Bali and you will feel as if you are at home. This was written by Charles Roring

Also read:

Monday, July 6, 2020

Purple Naped Lory from Seram island

Indonesia is the largest archipelago in the world. It is also a natural paradise for birdwatchers who want to see great varieties of tropical birds. When I made a land tour across Seram island last June 2012, I saw a beautiful bird that had been captured by a Moluccan man. Its head was covered by purple and black feather whereas its wings were mostly green. Most of its body, bill and tail was red with some yellow stripe at his front neck or throat. The bus that was carrying me and other passengers stopped at a village in East Seram for a while to load rice. The man approached the bus and showed his pet. I immediately turned on my digital camera to make some pictures of the bird. I knew it was a lory but I was not able to identify it immediately.
The next day when I arrived in Ambon, I took out my book Birds of New Guinea trying to identify it. I saw several species that look like it but I was not really sure so, I made a little research on the internet. Finally, I found its pictures on several birding websites and on wikipedia. The bird is called Purple Naped Lory (Lorius domicela). According to wikipedia it is now an endangered species. Along the way from the town of Bula to Ambon city, I saw extensive deforestation. Endless rows of sawit palm trees, rice fields and other commodity plants have replaced pristine tropical rainforest. In addition to agriculture and logging activities, the hunting and trading of birds in Indonesia seem to be a serious problem to this country. 
When in Ambon, I was interviewed by Rodi Fofid from menamoria.com, an online radio about eco-tourism and the preservation of tropical rainforest. I expressed my concerns about bird trading in Maluku islands particularly in Seram and how we could stop it through responsible tourism that provides alternative income generation to local people. I hope that I can provide birding tour for birdwatchers who want to see endemic birds in Maluku islands. If you are interested in taking a birdwatching trip in Seram and its surrounding islands, please contact me by e-mail to peace4wp@gmail.com. I will be happy to arrange a trip for you. by Charles Roring/ E-mail: peace4wp@gmail.com
Also read:
Ikan bakar di Ambon memang lezat
Hamparan Sawah di Seram Timur

Azure Kingfisher in Halmahera

Wednesday, April 15, 2020

Wisata Nonton Burung di Hutan Sorong

Beberapa waktu yang lalu, saya memandu 3  wisatawan pengamat burung dari Inggris. Mereka adalah Alan, Jill, dan Alison yang perjalanan wisatanya diatur oleh Naturetrek. Kami pergi ke hutan-hutan di pinggiran kota Sorong dari kawasan pantai hingga wilayah perbukitan. Kami mencarter sebuah kendaraan untuk melakukan perjalanan wisata ini. Kami membawa binocular, dan spotting-scope. Di hari pertama tur pengamatan burung, saya menjemput mereka di Pelabuhan Usaha Mina. Jalanan nampak sepi. Mobil Toyota Avanza yang membawa kami bergerak laju ke luar kota dan terus ke daerah yang ada hutannya.
Burung Luri Kepala Hitam
Burung Luri Kepala Hitam

Friday, December 27, 2019

Melihat-lihat Buku di Surabaya

Toko Buku Periplus di Galaxy Mall, Togamas di Jalan Semarang, Toko-toko Buku Bekas di Jalan Semarang
Tempat-tempat Penjualan Buku di Surabaya
Salah satu hobi saya adalah membaca. Ya, setiap hari saya membaca. Sering kali saya membaca e-book memakai tablet Samsung Tab A yang saya miliki tetapi terkadang juga saja membaca buku secara fisik. Kebanyakan buku yang saya baca adalah tentang ekologi, pariwisata, burung, serta teknologi informatika. Ketika saya bepergian ke kota-kota besar, saya akan selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke lapak-lapak penjual buku.
Kali ini, saya sedang berlibur di Surabaya dengan keluarga. Saya sudah berada di sini dari tanggal 23 Desember. Saya menjelajah toko-toko buku di Surabaya ini sejak tanggal 24 Desember. Toko Buku TOGAMAS di Jalan Diponegoro, Gramedia di Tunjungan Plaza 1 serta Bazar Buku di Lantai 1 City of Tomorrow Mall sudah saya kunjungi. Hari ini, di pagi hari, saya berkunjung ke toko-toko buku bekas di Jalan Semarang. Ternyata koleksi buku di sini banyak sekali. Saya menemukan beberapa judul menarik yang dijual dengan harga murah.