Wildlife watching in tropical rainforest and marine environment of Indonesia from snorkeling in Raja Ampat to hiking and birding in Manado city, Minahasa highland and Tangkoko Nature Reserve.
My e-mail: peace4wp@gmail.com
Burung surga yang umum di kenal di masyarakat adalah Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor). Burung ini mirip dengan Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda) yang hidup di pesisir selatan Tanah Papua dan di Kepulauan Aru. Warna dan bentuk mereka sangat mirip sedangkan ukuran badannya saja yang berbeda.
Cendrawasih Kuning Kecil
Cendrawasih adalah daya tarik wisata yang penting sekali di beberapa tempat di Tanah Papua. Wisata pengamatan burung selama pandemi telah lumpuh sebagai akibat dari pembatasan pergerakan masyarakat serta penutupan wilayah Indonesia dari masuknya wisatawan asing. Hal ini mengakibatkan banyak sekali pemandu kehilangan pekerjaan.
Situasi di Indonesia semakin membaik, jumlah penderita Covid-19 sudah berkurang drastis di akhir tahun 2021. Pemerintah mulai melonggarkan pembatasan pergerakan masyarakat dan orang asing sudah mulai diizinkan masuk lagi ke Indonesia.
Para pelaku usaha perjalanan wisata bisa berpengharapan lagi bahwa wisatawan di tahun 2022 akan berkunjung untuk menonton burung Cendrawasih Kuning-Kecil berdansa di pepohonan di dalam hutan hujan tropis yang indah dan permai.
Toowa Cemerlang atau Burung Cendrawasih Toowa adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan hujan tropis Tanah Papua khususnya dataran rendah hingga daerah lereng gunung atau perbukitan. Bulunya berwarna hitam dengan beberapa bagian di dada dan ekor berwarna biru kemilau.
Cendrawasih Toowa
Kicauan Toowa Cemerlang ini terdengar nyaring di pagi, siang hingga sore hari. Burung surga jantan biasanya bertengger sendirian di cabang pohon, Cendrawasih Toowa tidak hidup berkelompok seperti Cendrawasih Kuning Kecil yang biasanya berkelompok di pagi dan sore hari ketika mereka berdansa untuk memperebutkan pasangan betina, kecuali ketika sedang makan buah di pohon bersama-sama burung lain. Sering terlihat burung Cendrawasih Toowa jantan duduk di dahan pohon yang datar dalam waktu yang cukup lama. Ia akan berkicau untuk memanggil pasangan betinanya. Ia akan mementaskan tarian pemikat yang mirip pemandu sorak (cheerleader) menyemangati tim olah raga football atau basketball yang mereka dukung di lapangan. Ketika burung Cendrawasih Toowa betina terkesan dengan tarian itu maka ia akan berkenan dikawini oleh sang Cendrawasih Jantan.
Ia adalah pemakan buah-buahan di hutan. Oleh karena itu, burung Cendrawasih Toowa ikut berperan sebagai penyebar biji-bijian yang penting sekali bagi ekosistem hutan hujan tropis.
The English name of Cendrawasih Toowa is Magnificent Riflebird (Ptilorismagnificus). This is one of the birds of paradise that lives in lowland and lower montane forest of New Guinea. The male one likes to sit alone in the mornings and in the afternoons at a horizontal branch of a tree while calling his female mating partner. If the female bird comes, he will perform his courtship dance to impress his female counterpart. The way he dances looks like the dance of a cheerleader in a football or basketball match. Magnificent Riflebird eats tropical fruits in the forest. This is an important seed disperser in the ecosystem of tropical rainforest. This species is still abundant in the forest but its habitat is shrinking rapidly due to logging, conversion of forest into human settlements, roads and monoculture palm oil, or other agricultural commodities.
Burung Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaeaminor) terkenal dengan warna bulunya yang kuning keemasan dipadu dengan warna coklat di sekujur badannya serta hijau di bagian lehernya. Ciri-ciri keindahan fisik ini bisa kita lihat juga di spesies serupa lainnya yaitu Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaeaapoda) yang hidup di hutan hujan tropis Kepulauan Aru dan dataran Tanah Papua bagian selatan sekitar Taman Nasional Lorentz hingga ke wilayah hutan sekitar Merauke.
Cendrawasih jantan sedang bertanding dansa
Arti bahasa Latin di atas sebenarnya adalah Burung Surga Tak berkaki. Mungkin kita burung ini tiba di Eropa dalam keadaan telah dikeringkan/ diawetkan, daging, isi perut dan kakinya sudah dikeluarkan atau dilepas oleh pemburu, sehingga tinggal kulit, tengkorak dan bulunya yang indah. Akibatnya para ilmuan barat yang saat itu memeriksanya kemudian memberi nama Paradisaea apoda.
Cendrawasih jantan didampingi dua ekor betina
Sebenarnya keindahan Burung Cendrawasih tidak terbatas pada warna bulunya yang kuning keemasan itu. Burung surga ini memiliki kemampuan berdansa yang tidak dimiliki spesies burung lain. Di pagi dan sore hari, burung Cendrawasih Kuning jantan berkumpul di cabang-cabang pohon tertentu untuk menggelar pertandingan dansa di antara mereka. Tujuannya adalah untuk memikat dan kawin dengan pasangan burung betina.
Secara alami burung Cendrawasih Kuning adalah poligami
Burung Cendrawasih Kuning Kecil maupun Cendrawasih Kuning Besar bisa memiliki pasangan kawin lebih dari satu. Jadi secara alami Cendrawasih menganut poligami. Burung Cendrawasih jantan yang berhasil mementaskan tarian pemikat betina dengan baik akan memenangkan kontes dansa. Hal ini bisa dengan mudah kita lihat di foto. Ada beberapa burung surga betina di kedua sisi burung jantan yang tampil sebagai pemenang dansa.
Di sinilah fenomena seleksi alam dalam teori evolusi seperti yang dikemukakan oleh Darwin berlaku. Namun demikian nampak ada keunikan tersendiri dalam burung Cendrawasih Kuning Kecil, bukan hanya burung kuat dan bisa memperoleh makanan saja yang akan bertahan tapi burung yang bisa memperagakan Tarian Cendrawasih dan keindahan warna bulunya yang bagus akan menang. Kadang dalam berkompetisi di antara sesama jantan, ketika persaingan dalam tari-tarian berlangsung sengit, terjadi perkelahian di antara mereka. Ada yang bahkan sampai jatuh ke tanah. Namun dengan gigihnya burung yang jatuh tersebut akan bangkit dan terbang lagi ke atas pohon serta melanjutkan pertandingan tari-tarian tersebut.
Dalam dunia avifauna Tanah Papua, burung lain yang memiliki tarian pemikat betina adalah flamebowerbird dan maskedbowerbird. Burung api masked ini, menurut pendapat saya pribadi, memiliki keindahan tarian yang terbaik di antara banyak spesies burung di dunia. Saya pernah menonton tariannya selama lebih dari satu jam. Mengenai spesies burung api ini, dan juga spesies burung surga Parotia Barat yang suka berdansa, akan saya bahas di lain waktu.
Tempat-tempat Wisata Pengamatan Burung Cendrawasih
Ada beberapa tempat wisata pengamatan burung Cendrawasih di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Beberapa di antaranya adalah: Manokwari, Sorong, Wondama, Tambrauw, dan Jayapura. Ini ditulis oleh Charles Roring.
Cendrawasih Kuning Kecil atau Burung Surga Kuning Kecil memiliki warna bulu yang indah sekali.
Cendrawasih Kuning Kecil Jantan
Oh ya, untuk memaksimalkan aktivitas pengamatan burung Cendrawasih serta flora fauna apa saja di dalam hutan, wisatawan perlu membawa teropong (binoculars). Beberapa teropong yang harganya terjangkau adalah bisa dibeli di marketplace Blibli, Shopee dan Tokopedia. Selain itu juga wisatawan perlu membawa krim atau lotion pelindung kulit dari terpaan cahaya matahari.
Untuk memotret flora fauna di selama melakukan aktivitas ekowisata, wisatawan memerlukan camera dengan optical zoom yang tinggi seperti Canon Powershot SX70HS, atau Nikon Coolpix P1000. Wisatawan yang hobinya adalah fotografi tentu akan membeli kamera D-SLR atau mirrorless dengan lensa 150-600 mm.
Burung Cendrawasih bisa diamati oleh wisatawan pencinta alam di berbagai kawasan hutan yang ada di Tanah Papua. Beberapa di antaranya adalah:
Kabupaten Wondama adalah lokasi wisata pengamatan burung yang sangat berpotensi untuk menjadi terkenal di dunia karena memiliki ekosistem hutan hujan tropis yang hampir lengkap. Ada hutan bakau, hutan tropis pulau, hutan dataran rendah, hutan pegunungan rendah hingga menengah. Hal ini menjadikan spesies burung dan satwa liar di Kabupaten Wondama sangat bervariasi. Cendrawasih Kuning Kecil (Lesser Birds of Paradise), Cendrawasih Raja, Lowland Peltop, Myzomela Merah, Jagal Papua (Hooded Butcherbird), Nuri Bayan (Eclectus Parrot), Taun-taun (Blyth'sHornbill), Kumkum (Pinon Imperial Pigeon) bisa ditemukan di hutan dataran dan pegunungan rendah di sekitar Teluk Wondama dan burung seperti Magnificent Bird of Paradise dan Black Sicklebill bisa ditemukan di sekitar puncak Pegunungan Wondiboy.
Rute penerbangan dari Jakarta dan Denpasar ke Manokwari Lalu ke kota Wasior di Wondama
Hutan Susnguakti di Manokwari - Ini adalah lokasi wisata pengamatan burung Cendrawasih Kuning Kecil yang bisa dijangkau menggunakan kendaraan bermotor dari kota Manokwari dengan lama tempuh kurang lebih 1 jam 15 menit. Karena lokasinya yang agak terpencil maka hutan ini tidak diketahui oleh masyarakat luas. Hanya orang-orang tertentu yang biasa bekerja sebagai pemandu turis pengamatan burung saja yang mengetahui keberadaannya. Untuk mencapainya, wisatawan harus mendaki gunung yang terjal selama kurang lebih 1 jam 15 menit.
Burung Cendrawasih Kuning Kecil aktif di pagi hari dan di sore hari. Wisatawan yang ingin ke sana harus memiliki kondisi fisik yang benar-benar prima agar bisa sampai di lokasi pengamatan burung surga tersebut. Selama beberapa tahun belakangan ini sampai saat sebelum pandemi covid, kebanyakan wisatawan asing yang ke hutan Susnguakti berasal dari luar negeri. Persentasi wisatawan lokal/ dalam negeri adalah kurang dari 1%. Wisatawan internasional ini menghabiskan waktu selama 3 sampai 4 hari untuk melihat burung Cendrawasih Kuning Kecil, Toowa Cemerlang, Cendrawasih Raja, Cekakak Pita Biasa (Common Paradise Kingfisher), Raja Udang Paruh Kuning atau Cekakak Toro-toro (Yellow-billed Kingfisher), Paok Hijau (Hooded Pitta) serta kasuari. Selain burung, hutan susnguakti merupakan habitat asli dari kuskus, ular putih, soa-soa duri, tikus tanah (bandicoot) dan berbagai jenis serangga. Untuk melihatnya, penjelajahan hutan di malam hari dilakukan bersama warga setempat pemilik hutan.
Cendrawasih Kuning Kecil Jantan
Kabupaten Tambrauw memiliki banyak sekali kawasan hutan yang merupakan habitat asli dari burung Cendrawasih Kuning Kecil. Lokasi yang terkenal adalah Pantai Weyos di pesisir utara daerah Abun, Hutan Ayapokiar, Lembah Ases, serta hutan sekitar kota Fef. Selain burung surga kuning kecil, ada banyak sekali satwa asli Papua yang bisa dilihat di Tambrauw termasuk soa-soa bintang, berbagai jenis kupu-kupu dan kumbang serta ikan di sungai berair jernih. Masih banyak lokasi hutan di Kabupaten Tambrauw belum disurvei secara seksama sehingga potensi wisata alam di sana belum benar-benar berkembang. Fef sebagai ibukota Kabupaten Tambrauw memiliki daya tarik wisata alam yang bagus sekali karena dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang masih bagus.
Kabupaten Sorong adalah gerbang utama bagi wisatawan yang ingin berlibur di Kepulauan Raja Ampat. Kawasan hutan di Lembah Klasouw sudah dikunjungi oleh wisatawan domestik dan manca negara yang ke sana untuk melihat flora dan fauna Papua. Cendrawasih Kuning Kecil bisa dilihat di Kampung Malagufuk. Untuk burung surga Toowa Cemerlang, Burung Surga Raja, serta Cendrawasih Dua Belas Antena, Kampung Klatomok adalah lokasi yang gampang untuk dikunjungi. Ini ditulis oleh Charles Roring.
Burung Cendrawasih adalah daya tarik wisata alam yang terkenal di berbagai negara. Salah satu destinasi pengamatan burung surga ini adalah Kabupaten Manokwari. Sebelum Pandemi Covid-19, ada ratusan wisatawan domestik maupun internasional yang datang untuk mengamati burung-burung Cendrawasih tersebut.
Dalam Bahasa Inggris, burung Cendrawasih lebih dikenal dengan istilah Birds of Paradise atau Burung Surga. Menurut Wikipedia, ada 42 spesies yang dikenal dalam dunia sains dan sebagian besar hidup di Tanah Papua.
Sebagai salah satu destinasi penting wisata pengamatan burung surga, ada beberapa lokasi yang dituju oleh wisatawan pengamat burung dan satwa liar ketika menjelajah hutan-hutan di Kabupaten Manokwari. Beberapa di antaranya adalah:
Hutan Susnguakti - Hutan ini terletak di sebelah timur Pegunungan Arfak dan merupakan habitat alami bagi Cendrawasih Kuning Kecil (LesserBirdsof Paradise), Cendrawasih Raja (King Bird of Paradise), Cendrawasih Dada Biru atau Toowa Cemerlang (Magnificent Riflebird), Glossy-mantled Manucode, dan lain sebagainya.
Burung Parotia Barat
Hutan Soyti - Hutan ini terletak di Distrik Mokwam dan merupakan habitat alami bagi burung Parotia Barat, Vogelkop Superb Bird of Paradise, Burung Black Sicklebill, Cendrawasih Belah Rotan atau dalam bahasa lokal disebut Knang (Magnificent Bird of Paradise) dan Lesser Bird of Paradise, Long-tailed Paradigala, dan lain-lain.
Hutan Syioubri juga adalah kawasan hutan di Distrik Mokwam yang sangat terkenal dengan wisata pengamatan burung di mana jumlah spesiesnya mirip dengan yang terdapat di hutan Soyti. Burung-burung di Hutan Soyti, Syioubri dan kawasan pegunungan tinggi dari Arfak memiliki tingkat endemisitas yang tinggi sekali sehingga menarik perhatian dunia.
Hutan di elevasi ini juga merupakan habitat alami berbagai spesies burung lainnya seperti Kumkum Pegunungan (Papua Mountain Pigeon), beberapa spesies burung hantu, burung wajah emas (golden face), dan masih banyak lagi.
Selain itu pula, kawasan lain di Manokwari yang dikunjungi oleh wisatawan manca negara adalah Hutan Mesirrokow yang terletak di Pantai Utara Manokwari. Karena jalan mobil tidak tersedia maka kawasan hutan ini tidak terlalu diketahui oleh wisatawan lokal.
Parotia Barat sedang berdansa
Wisatawan yang berkunjung ke hutan-hutan tersebut di atas selalu didampingi oleh masyarakat lokal sehingga manfaat ekonomi mereka juga bisa dirasakan. Mereka bisa bekerja sebagai porter, pemandu, penyedia jasa homestay, penjual buah dan sayuran.
Di seluruh Tanah Papua, ada ratusan kawasan hutan yang menjadi lokasi pengamatan Burung Surga, beberapa di antaranya akan saya bahas di kesempatan lain. Yang jelas, wisata pengamatan burung ini cukup bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga memotivasi warga setempat, masyarakat umum dan pemerintah untuk saling mendukung dalam melestarikan hutan hujan tropis tersebut.
Perlengkapan Pengamatan Burung dan Satwa Liar (Wildlife Watching Equipment)
Rata-rata wisatawan pengamat burung dan satwa liar membawa peralatan seperti binocular, spotting scope dan kamera d-slr dengan lensa panjang. Ada juga yang membawa laser pointer dengan cahaya berwarna hijau untuk memudahkan penunjukkan satwa yang hendak diamati. Buku panduan lapangan yang dibawa adalah Birds of New Guinea karya Bruce Beehler dan Thane K. Pratt atau buku lain dengan judul serupa yakni Birds of New Guinea including Bismarck Archipelago and Bougainville karya Phil Gregory.
Burung Cendrawasih terkenal dengan keindahan warnanya. Kebanyakan masyarakat umum mengenal satu atau dua spesies saja seperti Cendrawasih Kuning Kecil (Lesser Birds of Paradise) di dataran utama Pulau Papua dan Cendrawasih Merah (Red Bird of Paradise) yang hidup di beberapa pulau besar di Raja Ampat. Sebenarnya dalam dunia sains, berdasarkan artikel di wikipedia, ada 42 spesies.
Seekor Cendrawasih Kuning Kecil Jantan dan dua ekor betina
Keindahan warna Cendrawasih Kuning Kecil akan nampak jelas ketika kita melihatnya di pagi hari saat beberapa ekor jantan berdansa untuk memperebutkan betina. Burung Cendrawasih Jantan yang menang akan bisa kawin dengan pasangan betinanya. Kadang kala, sang jantan bisa kawin dengan beberapa ekor betina. Burung Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaeaminor) dalam perilaku kawinnya adalah poligami.
Aktivitas dansa dan kawin umumnya berlangsung di pagi hari dari jam 06.00 sampai sekitar jam 09.00 atau lebih serta di sore hari mulai 15.00 hingga 17.30 sore hari.
Sinar matahari yang menembus celah-celah pohon dan mengenai sekujur tubuh burung-burung surga tersebut akan membuat warna kuning, putih, hijau dan coklat semakin kontras dan cerah. Keindahan burung Cendrawasih yang dipadu dengan tari-tarian alamnya di dahan-dahan pohon yang tinggi tersebut memukau setiap orang yang menontonnya.
Para wisatawan pengamat burung sangat suka menonton Burung Cendrawasih. Mereka akan membawa binoculars dan kamera telefoto untuk melihat dan memotret atau membuat video burung tersebut.
Wilson's Bird of Paradise
Sebenarnya, tidak semua spesies burung surga memiliki warna bulu kuning keemasan. Ada yang juga yang berwarna hitam mengilap seperti Black Sicklebill dan Western Parotia serta yang berwarna merah dan putih seperti Burung Surga Raja (King Bird of Paradise). Ada juga yang berwarna biru seperti Blue Bird of Paradise. Di Kepulauan Raja Ampat, ada Wilson's Bird of Paradise yang bulunya berwarna-warni dan di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Cendrawasih Botak. Burung Cendrawasih sebagian besar bisa ditemukan di Tanah Papua (Papua New Guinea dan West Papua yang terdiri dari Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat).
Burung Toowa Cemerlang (Magnificent Riflebird)
Tetapi ada sejumlah spesies yang bisa ditemukan di daerah lain seperti Wallace Standard Wing di Halmahera, Greater Bird of Paradise di Kepulauan Aru dan Victoria's Riflebird di Benua Australia.
Di Indonesia, burung Cendrawasih adalah satwa yang dilindungi. Fungsinya sebagai penyebar biji-bijian dari buah yang dimakannya penting bagi kelangsungan hidup hutan hujan tropis. Burung Cendrawasih juga banyak dipakai sebagai nama lembaga pendidikan, toko, perusahaan, gedung-gedung pemerintah maupun swasta. Hal yang sama juga kita temukan di berbagai lirik lagu, puisi hingga cerita-cerita rakyat.
Habitat Burung Cendrawasih semakin berkurang karena perluasan pemukiman manusia, pembukaan lahan pertanian dan perkebunan, pembukaan jalan raya ke berbagai daerah terpencil, aktivitas penebangan logging hingga pertambangan.
Kita perlu lebih sungguh-sungguh lagi melindungi satwa burung surga ini, dan melestarikan ekosistem hutan hujan tropis, agar generasi sekarang maupun yang akan datang, tetap bisa melihat tari-tarian Burung Cendrawasih dengan kemilau warna bulunya yang indah. Ditulis oleh Charles Roring.
Saya memiliki banyak sekali foto burung Cendrawasih Kuning Kecil/ Lesser Birds of Paradise (Paradisaeaminor). Foto-foto tersebut saya buat ketika memandu wisatawan di dalam hutan hujan tropis Papua Barat. Burung ini indah sekali warnanya sehingga menjadi target pengamatan yang utama di kalangan para wisatawan pengamat burung baik di dalam dan luar negeri.
Lesser Birds of Paradise
Untuk menontonnya, kami harus bangun pagi sekali dan pergi ke pohon tempat biasanya burung surga ini berkumpul untuk berdansa dan kawin. Cendrawasih Kuning Kecil hidup di dataran rendah dan hutan perbukitan di Tanah Papua. Burung ini suka berdansa di pagi dan sore hari.
Lokasi burung berdansa biasanya terletak lebih ke dalam hutan. Di Manokwari, saya suka mengantar wisatawan ke hutan Susnguakti yang terletak di kawasan pegunungan rendah dari Pegunungan Arfak. Di Kabupaten Tambrauw dan Teluk Wondama serta Sorong, Burung Cendrawasih dapat pula diamati. Wisatawan perlu berjalan kaki ke lokasi pohon tempat burung surga ini biasa berkumpul.
Burung Cendrawasih dan burung-burung tropis Papua lainnya memakan buah dan menyebar biji-bijiannya ke seluruh penjuru hutan. Ini artinya, burung Cendrawasih bermanfaat dalam melestarikan hutan tropis.
Cendrawasih Jantan dan Betina
Perkembangan penduduk, pembangunan jalan, gedung perkantoran serta perumahan telah mengakibatkan luasan hutan hujan tropis Papua, yang adalah habitat alami dari burung Cendrawasih, semakin berkurang. Hal ini diperparah lagi oleh masih adanya perburuan satwa burung cendrawasih di Tanah Papua. Akibat dari semua ini, populasi Cendrawasih juga ikut terancam.
Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian burung Cendrawasih?
Tidak membeli burung Cendrawasih baik yang masih hidup atau yang sudah diawetkan.
Tidak ikut merusak hutan hujan tropis Papua
Memperkenalkan satwa Cendrawasih ini kepada sesama kita agar mereka ikut peduli.
Cendrawasih Jantan
Saya juga suka menggambar burung-burung surga baik secara manual menggunakan pensil warna dan kertas, maupun secara digital menggunakan gambar vektor inkscape dan bitmap seperti Adobe Autodesk Sketchbook. Gambar-gambar itu selanjutnya saya upload ke situs Redbubble untuk kemudian bisa dibeli cetakannya oleh pembaca dalam bentuk mug, t-shirt, tas, sarung bantal, dan lain sebagainya. Pembaca bisa melihatnya di link berikut:
Ini adalah gambar burung Cendrawasih Merah jantan (Paradisaearubra) yang hidup di hutan hujan tropis pulau-pulau Waigeo, Gam dan Batanta. Sketsa awalnya saya buat menggunakan pensil biasa. Setelah itu saya warnai dengan pensil warna cat air. Setelah itu gambar tersebut difoto dan diolah lagi secara digital memakai Autodesk Sketchbook.
Cendrawasih Merah
Hasilnya adalah gambar yang lebih tajam dan bisa dipakai untuk dicetak di t-shirt, mug, ponsel, tas dan notebook dan lain-lain. Pembaca bisa membeli produk-produk yang bisa dibeli di halaman ini: Red Bird of Paradise.
Selain Cendrawasih Merah, ada juga Cendrawasih Wilson atau Wilson's Bird of Paradise (Diphyllodes respublica) di pulau-pulau yang saya sebutkan di atas.
Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan hutan tropis Raja Ampat terutama di Pulau Waigeo, Gam dan Batanta. Burung ini memiliki perilaku yang unik yaitu berdansa di dahan-dahan pohon tinggi baik di pagi dan di sore hari. Dalam bahasa Inggris, namanya adalah Red Bird of Paradise. Satwa ini dilindungi sehingga siapa saja tidak boleh menangkapnya.
Seekor Cendrawasih Merah jantan sedang menari di cabang pohon yang tinggi
Di Raja Ampat, wisata pengamatan burung Cendrawasih Merah semakin diminati oleh wisatawan nusantara maupun manca negara. Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan seperti wilayah selatan (Saporkren) dan utara (Urbinasopen) Pulau Waigeo serta kawasan Teluk Kabui.
Untuk menontonnya, wisatawan perlu membawa binokular. Saya sarankan yang bermerek Nikon (seperti Nikon Monarch 5 10×42mm), Leica, Swarovski, atau Bushnell. Binokular bisa dibeli lewat Tokopedia, Lazada dan Bukalapak. Ada juga yang membawa kamera d-slr dengan lensa telefoto. Kalau lensanya cuma 300 mm, lebih baik, pemakainya menambah tele-converter 2×. Ada juga kamera bridge seperti Canon SX70 HS, Nikon P1000, Sony RX10 IV atau kamera jadul Fujifilm HS50EXR.
Cendrawasih Merah/ Red Bird of Paradise
Ketika matahari terbit dan langit cerah, burung-burung Cendrawasih Merah jantan akan terbang ke tempat di mana mereka biasa berkumpul untuk berdansa. Sebenarnya mereka menari untuk memikat pasangan betinanya supaya diajak kawin. Kadang persaingan terlalu sengit sehingga mengakibatkan perkelahian. Mereka juga menari di sore hari. Durasinya rata-rata dari jam 06.00-09.00 atau dari jam 14.30-17.30. Sebenarnya waktu tersebut di atas bukan jadwal standard. Jam dansa sangat dipengaruhi oleh cuaca.
Selama berkeliling kawasan hutan dan pantai di Raja Ampat, kita bisa melihat banyak sekali burung yang lain seperti Rufous-bellied Kookaburra, Beach Kingfisher (Raja Udang Pantai), Common Paradise Kingfisher, Eclectus Parrot (Nuri Bayan), Palm Cockatoo (Kakaktua Raja), Sulphur-crested Cockatoo (masyarakat lokal umumnya menyebutnya Kakaktua Putih), White-bellied Sea Eagle (Eagle Perut Putih), Brahminy Kite (Elang Bondol), Pinon Imperial Pigeon (Kumkum), dan masih banyak lagi.
Nama Diphyllodesrespublica diberikan oleh Charles Lucien Bonaparte, seorang keponakan dari Napoleon yang adalah pendukung sejati republik. Ada kecenderungan umum di kalangan para zoologist pada masa itu untuk memberi nama pada spesies baru menurut nama raja, ratu, atau bangsawan tertentu. Ia tidak setuju dengan hal tersebut. Sebagai gantinya, burung surga asal Raja Ampat ini diberi nama ilmiah seperti yang tertulis di atas. Burung Cendrawasih Wilson atau Cendrawasih Botak adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di Kepulauan Raja Ampat bagian utara terutama di Waigeo, Gam dan Batanta.
Cendrawasih Wilson
Tubuhnya kecil, yang dewasa sekitar 16 centimeter. Yang jantan memiliki punggung sayap berwarna merah, tengkuk kuning, kulit kepala biru bergaris hitam dan dada yang berwarna hijau tua kegelapan. Ada dua antena melingkar di ekornya. Yang betina warnanya coklat biasa dengan dada krem bergaris coklat kehitaman.
Burung ini hidup jauh di dalam hutan hujan tropis Raja Ampat. Perilakunya mirip dengan Cendrawasih Belah Rotan yang hidup di hutan pegunungan menengah di daratan utama Tanah Papua. Mereka sama-sama membuat tempat memikat betina di menggunakan tanaman kecil di dekat tanah sebagai tempatnya bertengger.
Cendrawasih Wilson jantan sedang memanggil-manggil pasangan betinanya
Burung Cendrawasih Wilson membersihkan tanah dari daun dan ranting yang jatuh lalu memanggil-manggil pasangan betinanya untuk kawin. Kalau sang betina sudah datang, ia akan menggoyang-goyangkan antena di ekornya, melompat dari tanaman tongkat yang satu ke tongkat lain sambil memamerkan keindahan bulunya yang berwarna-warni.
Burung Cendrawasih Wilson telah menjadi daya tarik ekowisata yang penting di Kepulauan Raja Ampat. Banyak sekali wisatawan pengamat burung yang telah berkunjung ke sana. Mereka datang dari berbagai negara baik Eropa, Inggris, Australia, dan Amerika serta Asia. Meskipun di pinggir hutan Waigeo tidak ada hotel berbintang 5, warga setempat dan para pengusaha di Raja Ampat telah membangun akomodasi yang cukup memadai terutama di Pulau Waigeo, Gam dan Batanta. Ada homestay dengan kualitas kamar standard dan ada juga resort dengan kualitas kamar ber AC yang lebih nyaman. Lokasi pengamatan burung Wilson agak jauh ke dalam hutan, wisatawan perlu berjalan kaki atau menggunakan kendaraan 4 WD. Ada sebuah lokasi pengamatan burung Wilson di bagian selatan pulau Waigeo yang agak terpencil. Untuk menjangkaunya, wisatawan perlu naik perahu motor selama kurang lebih 20 menit dari kampung Saporkren kemudian dilanjutlan dengan jalan kaki selama 1 jam.
Pemandangan di Raja Ampat
Peralatan Pengamatan Burung dan Fotografi
Untuk mengamati burung-burung tropis di hutan Papua, biasanya para pengamat burung menggunakan binokular (teropong dua tabung lensa). Ukuran yang umum dipakai adalah 8×42 mm, 10×42mm jenis prisma roof. Binokular untuk pengamatan burung yang terkenal kualitasnya adalah yang bermerek Leica, Swarovski, Zeiss, Nikon, Vortex Viper HD, Bushnell, dan lain-lain. Teropong yang berkualitas tinggi biasanya menggunakan lensa extra low dispersion, kedap air, ruang tabung diisi gas nitrogen, serta prisma Bak 4, serta cat multi lapisan pelindung lensa yang mencegah silau.
Di samping binokular, peralatan fotografi sering juga dibawa oleh wisatawan. Kamera D-SLR, dengan lensa telefoto seperti Sigma 150-600mm sport adalah pilihan yang baik. Tapi peralatan ini perlu tripod sebagai penstabil kamera. Karena berat dan banyak memakan tempat, banyak wisatawan pengamat burung memilih membawa kamera point and shoot seperti Nikon P1000 atau Nikon P900. Beberapa tahun lalu, saya menggunakan kamera Fujifilm HS50EXR. Meskipun bukan merupakan yang terbaik di pasaran, setidaknya saya bisa membuat gambar Cendrawasih Wilson yang baik untuk keperluan identifikasi dan penulisan jurnal ekowisata pengamatan burung di blog ini.
Selama berada di Raja Ampat, wisatawan bisa juga melihat banyak burung yang lain serta jalan-jalan menggunakan speedboat untuk melihat kepulauan Raja Ampat yang indah dan permai. Ditulis oleh Charles Roring.
Cendrawasih Kuning Kecil atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor) adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah dari Tanah Papua. Burung ini dikenal luas oleh masyarakat karena memiliki bulu yang indah kuning keemasan, putih, coklat serta hijau sehingga menjadikannya sebagai salah satu burung tercantik di dunia. Di wikipedia, menurut IUCN status burung ini adalah leastconcern yang artinya tidak terlalu memprihatinkan. Memang benar bahwa populasi Cendrawasih Kuning Kecil masih banyak di alam karena sebarannya bisa ditemukan di hampir semua wilayah hutan hujan tropis Papua dan Papua Barat dari wilayah Vogelkop, Bomberai, Kaimana, Nabire, Yapen Waropen, Sarmi, Jayapura; hingga ke kawasan utara Papua New Guinea.
Burung Cendrawasih Kuning Kecil di hutan Susnguakti Manokwari
Meskipun masih banyak, populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaeaminor) mengalami tekanan yang semakin besar. Habitat asli dari Cendrawasih adalah hutan hujan tropis. Di berbagai tempat di Tanah Papua, hutan tersebut ditebang dan lahannya dialihfungsikan menjadi lokasi perkebunan monokultur kakao, kelapa sawit, pala, kebun pertanian hortikultura, wilayah pemukiman penduduk dan perkantoran maupun gedung milik pemerintah dan swasta, lokasi konsesi tambang, hingga jalan raya.
Hilangnya habitat dan masih adanya perburuan liar merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil dan burung-burung tropis Papua secara drastis.
Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) Jantan di hutan Susnguakti Manokwari
Pertambahan jumlah penduduk, serta aktivitas ekonomi di bidang logging, agrobisnis, agroindustri dan pertambangan telah menyebabkan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran. Meskipun pembukaan lahan tidak dapat dicegah 100%, hal ini bisa ditekan lewat perencanaan wilayah yang hati-hati. Desain tata ruang, dan desain tapak yang komprehensif diperlukan oleh para pengambil kebijakan dalam pembangunan untuk menyelaraskan kebutuhan pembukaan lahan bagi berbagai kepentingan manusia dengan upaya pelestarian hutan hujan tropis yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Teknologi informasi yang berkembang sangat cepat diiringi dengan ketersediaan peralatan fotografi yang semakin canggih dengan harga yang lebih terjangkau telah memungkinkan setiap orang yang berkunjung ke hutan hujan tropis di Tanah Papua untuk memotret dan membuat video tentang satwa burung yang indah ini. Hasil pemotretan dan perekaman video tersebut kemudian dibagikan ke media sosial, blog dan website di dunia maya. Ternyata foto dan video dari burung surga tersebut menarik minat banyak sekali pengamat burung dan pencinta alam untuk datang ke Tanah Papua guna menyaksikannya secara langsung.
Wisatawan Spanyol nonton burung di Manokwari
Kedatangan para wisatawan pencinta alam ini semakin membantu penyebaran informasi mengenai keberadaan burung Cendrawasih Kuning-Kecil dan kekayaan keanekaragaman hayati di Tanah Papua ke masyarakat internasional yang terhubung ke dunia maya. Ekowisata pengamatan burung yang tadinya kecil sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang ikut membantu pemerintah untuk mendatangkan devisa, membuka lapangan kerja sekaligus membantu masyarakat melestarikan alamnya sendiri.
Menurut laporan US Fish and Wildlife Service, Pengamatan burung adalah salah satu aktivitas outdoor tercepat di Amerika. Trend ini terjadi juga di berbagai wilayah lain termasuk di Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Ini adalah peluang ekonomi strategis bagi berbagai negara yang memiliki hutan.
Ekowisata pengamatan burung dan satwa liar sudah berkembang sejak akhir tahun 1990an di Tanah Papua. Jumlah lokasi pengamatan burung semakin bertambah. Di Provinsi Papua Barat beberapa nama tempat yang cocok untuk dikunjungi wisatawan pengamat burung dan satwa liar:
Hutan Cagar Alam Pegunungan Wondiboi, dan Hutan Dataran Rendah di Distrik Naikere di Kabupaten Teluk Wondama.
Hutan Susnguakti, Hutan Soyti di Kwau, Hutan Syioubri, Hutan Susnguakti di Manokwari;
Hutan Ayapokiar, Hutan Ases dan Gunung Sakofsiah, serta sekitar kota Fef, Hutan Weyos di Kabupaten Tambrauw;
Hutan Malagufuk, Kampung Klatomok, dan Malaumkarta Raya di Kabupaten Sorong;
serta Pulau Waigeo di Raja Ampat (bukan habitat Cendrawasih Kuning Kecil, tapi ada Cendrawasih Merah)
Aksesibilitas ke berbagai lokasi pengamatan burung menjadi faktor penentu keberhasilan program ekowisata di wilayah-wilayah tersebut.
Di samping itu juga, ketersediaan akomodasi yang memadai dapat mempercepat peningkatan jumlah kunjungan wisata ke lokasi-lokasi hutan tersebut di atas. Namun demikian akomodasi bukan merupakan faktor yang sangat vital. Lokasi wisata pengamatan burung di hutan Susnguakti, misalnya, tidak memiliki fasilitas guesthouse yang memadai. Namun demikian, jumlah wisatawan yang telah berkunjung ke sana sudah mencapai ratusan orang. Persentase wisatawan asing yang hutan Susnguakti adalah 99%.
Basecamp untuk wisatawan di Hutan Susnguakti Manokwari
Kisah sukses program ekowisata terjadi juga di Lembah Klasow. Dua kampung yang sudah dikunjungi wisatawan asing adalah Klatomok dan Malagufuk. Di sini, spesies burung-burung surga lainnya seperti Magnificent Riflebird, King Bird of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Glossy Mantled Manucode bisa ditemukan.
Sebenarnya ekowisata pengamatan burung tidak hanya terbatas pada pengamatan burung Cendrawasih saja. Semua burung tropis yang ada di hutan Papua baik untuk diamati.
Tanah Papua adalah surga bagi burung-burung tropis. Dari yang kecil seperti Tit Berrypecker di Pegunungan Arfak dan yang paling besar seperti Northern Cassowary di Hutan Kampung Malagufuk dan Kampung Klatomok merupakan daya tarik ekowisata yang patut kita jaga bersama.
Untuk bisa menyaksikan secara langsung burung-burung tropis yang indah ini, wisatawan perlu terbang ke Papua Barat. Ada dua kota yang bisa dituju yakni Manokwari dan Sorong. Batik dan Sriwijaya adalah airline yang bisa melayani kedua kota tersebut. Wisatawan pengamat burung internasional kebanyakan lebih memilih Manokwari karena wisatawan bisa mengamati burung di dataran rendah, hingga ke Pegunungan Tinggi sehingga spesies yang bisa dilihat menjadi lebih bervariasi.
Manokwari
Selain berwisata ke hutan untuk menonton burung dan satwa liar, wisatawan bisa menikmati aktivitas wisata bahari. Ada terumbu karang yang bisa dilihat di pesisir pantai dengan bermacam-macam jenis ikan. Sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat, ada puluhan hotel di kota ini dari yang harga murah hingga yang mahal. Ada juga banyak toko, restoran dan rumah makan. Oleh karena itu wisatawan tidak akan menemui banyak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan mereka selama berlibur di Manokwari.
Pada akhirnya, semua hingar-bingar industri pengamatan burung dan satwa liar di Papua Barat haruslah membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal pemilik hutan. Jika mereka bisa mendapat pekerjaan dan penghasilan dari program ekowisata ini, niscaya kicauan Cendrawasih Kuning Kecil dan nyanyian burung-burung surga di Tanah Papua akan terus terdengar sampai ke akhir zaman. Ini ditulis oleh: Charles Roring.
Baca juga:
Cendrawasih Toowa
Cendrawasih Kuning Kecil dan Lokasi Wisata Pengamatannya
Burung Cendrawasih Raja memiliki ukuran yang agak kecil dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain seperti Lesser Birds of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Western Parotia, Long-tailed Paradigala, dan lain-lain. Burung ini memiliki bulu di sayap, punggung dan kepala yang berwarna merah. Dadanya ada buku berbentuk perisai berwarna hijau. Bagian bawah dada, perut hingga buntutnya berwarna putih. Burung Cendrawasih Raja memiliki 2 antena dengan bulatan hijau di ekornya. Paruhnya kuning oranye.
Karena ia sering dilihat orang sedang hinggap di sela-sela tanaman tali atau rotan yang menggantung di pepohonan maka ia agak sulit dilihat.
Cendrawasih Raja / King Bird of Paradise (Cicinnurus regius)
Cendrawasih Raja hidup di pohon yang ada tali-tali rotan menggantung dan melilit batang utama maupun cabang-cabangnya. Kebanyakan di satu pohon berukuran sedang hanya ada 1 ekor jantan. Ia akan berteriak memanggil pasangan betinanya untuk kawin di pagi hari dari sekitar jam 8 hingga 11 siang dan di sore hari kira-kira jam 14.30 - 16.00. Jika burung-burung betina yang datang ke sebuah pohon ada beberapa ekor, hal ini akan membuat Cendrawasih Raja yang ada di beberapa pohon lain di sekitarnya menjadi cemburu. Mereka akan datang ke pohon tersebut untuk mengejar para betina itu.
Cendrawasih Raja di hutan hujan tropis
Cendrawasih Raja jantan yang menjadi tuan rumah di pohon tersebut akan marah dan mengusir jantan-jantan lain pesaingnya tersebut. Maka hal yang tak diinginkan pun terjadi, yakni, perkelahian dan kejar-kejaran di antara mereka.
Di sinilah hukum alam berlaku, siapa yang kuat maka ia akan bertahan.
Wisata Nonton Burung Cendrawasih
Di Tanah Papua, ada banyak tempat yang bisa dikunjungi khususnya untuk wisatawan yang ingin menonton burung-burung Cendrawasih.
Wisata Prancis di hutan Tambrauw
Di Kabupaten Sorong, hampir semua lokasi hutan dataran rendah dan pegunungan rendah, ada burung Cendrawasih Raja. Beberapa kampung yang bisa dikunjungi antara lain: Malaumkarta, Klatomok, Malagufuk, Asbaken, memiliki habitat burung tersebut dan burung tropis lainnya. ada banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk
Di Kabupaten Tambrauw, burung ini hidup di sepanjang kawasan pesisir terutama di hutan dataran rendah hingga pegunungan rendah dari Mega, Sausapor, Werur, Saubeba, Jen Womom, Weyos, Waibeem, Wau, dan sekitarnya hingga ke Imbuan dan Distrik Saukorem.
Di Manokwari, salah satu lokasinya adalah di Hutan Susnguakti yang terletak sekitar 1 jam perjalanan dengan kendaraan roda 4 dari Manokwari, ditambah lagi 1 jam jalan kaki naik gunung.
Di hutan ini ada beberapa spesies burung surga seperti Cendrawasih Kuning Kecil, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Dada Biru/ Toowa Cemerlang, Glossy-mantled Manucode, dll.
Wisatawan memerlukan teropong (binocular) jika ingin menontonnya. Untuk kamera, Canon SX70HS atau Sony H400 adalah pilihan yang cocok dengan harga yang cukup terjangkau.
Burung surga atau yang umumnya dikenal dengan sebutan Cendrawasih memiliki warna bulu indah sekali. Yang paling banyak dipublikasikan di media sosial saat ini adalah Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor). Kita bisa melihat foto, gambar atau ornamennya di mana-mana, baik di baliho para politisi, baju batik Papua, atau di berbagai logo organisasi, maupun perusahaan di dalam dan di luar Tanah Papua.
Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaeaminor)
Burung Cendrawasih Kuning Kecil (LesserBirds of Paradise) ini hidup di daerah dataran rendah hingga pegunungan rendah dari wilayah vogelkop sampai ke Nabire, wilayah Yapen Waropen, Sarmi, Jayapura sampai kawasan utara Papua New Guinea. Karena sebarannya yang luas sekali maka burung ini poluler di Tanah Papua. Foto Cendrawasih di atas, saya buat di hutan Susnguakti Manokwari.
Sebenarnya ada 42 spesies burung surga yang dikenal dalam ilmu pengetahuan. Tidak semuanya memiliki warna kuning emas seperti Cendrawasih Kuning Kecil. Namun setiap spesies cendrawasih yang ada dalam keluarga besar burung surga (birds of paradise) memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Berikut ini adalah sebagian kecil spesies yang sempat saya potret ketika menjelajah hutan hujan tropis Papua bersama wisatawan.
Burung Surga Merah dari Raja Ampat
Red Bird of Paradise (CendrawasihMerah) ini mirip dengan burung Cendrawasih Kuning Kecil. Tapi Red BOP hidup di Kepulauan Raja Ampat terutama di Waigeo, Gam dan Batanta serta beberapa pulau yang berdekatan di satu kawasan tersebut.
Western Parotia (Parotia sefilata)
Burung Western Parotia, misalnya, meskipun tidak memiliki warna seindah Cendrawasih Kuning Kecil, ia memiliki tarian yang indah sekali. Burung ini hidup di hutan pegunungan tinggi di wilayah kepala burung (vogelkop) dari Provinsi Papua Barat. Berbeda dengan manusia, dalam dunia perburungan, burung jantanlah yang berdansa. Tariannya mirip seorang penari balet. Oleh karena itu, para pengamat burung ini sering menyebutnya ballerina bird. Sebelum berdansa, tanah tempat ia berdansa akan dibersihkannya terlebih dahulu dari ranting, dan daun-daun yang gugur. Setelah itu, ia akan memanggil para burung Western Parotia betina untuk datang ke lokasi dansa. Ketika mereka telah datang dan berkenan untuk menonton pergelaran tari maka ia akan berdansa.
Masih di wilayah Raja Ampat, ada spesies Cendrawasih Botak (Wilson's Bird of Paradise). Burung ini ukuran badannya kecil sekali dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.
Burung Cendrawasih Botak dari Pulau Waigeo Raja Ampat
Long-tailed Paradigala (Paradigala Ekor-panjang) - burung ini memiliki sebaran yang sangat terbatas yakni di kawasan hutan pegunungan tinggi dari Pegunungan Arfak. Oleh karena itu, burung surga tersebut sulit untuk dilihat orang kecuali jika ia sedang beruntung. Secara pribadi, setelah menjalankan profesi sebagai tourist guide selama 10 tahun baru pertama kali itulah saya melihat burung Long-tailed Paradigala di tempat ditaruhnya buah merah.
Long-tailed Paradigala
Magnificent Bird of Paradise (Diphyllodesmagnificus) hidup di daerah transisi hutan pegunungan rendah ke pegunungan tinggi. Ada beberapa lokasi yang bisa dikunjungi wisatawan untuk mengamati burung ini. Beberapa di antaranya adalah Hutan Ayapokiar dan Fef di Pegunungan Tambrauw, serta Hutan Soyti di Pegunungan Arfak. Di hutan Andaer Kampung Ayapokiar Pegunungan Tambrauw, lokasi pengamatan burung Magnificent Bird of Paradise hanya berjarak 50 meter dari lokasi pengamatan burung Lesser Birds of Paradise. Oleh karena itu, wisatawan pengamat burung sangat dianjurkan untuk berkunjung ke sana.
Magnificent Bird of Paradise di Hutan Andaer Pegunungan Tambrauw, Papua Barat
Magnificent Bird of Paradise
Burung Toowa Cemerlang atau Magnificent Riflebird
Toowa Cemerlang atau Magnificent Riflebird di hutan hujan tropis Papua
Magnificent Riflebird (Ptilinorismagnificus) hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah. Dalam bahasa Indonesia, burung ini disebut ToowaCemerlang. Bulunya hitam dan dadanya ada semacam perisai biru gelap yang berkilau ketika terkena cahaya. Jika sang jantan berdansa untuk memikat betina, polanya berdansa mirip seorang pemandu sorak (cheerleader) di sebuah pertandingan olah raga. Ditulis oleh Charles Roring WA: +6281332245180
Burung surga adalah ikon Papua - pulau tropis terbesar di dunia. Burung-burung itu hidup di hutan hujan tropis yang saat ini habitat alaminya sedang dirusak lewat penebangan pohon berskala besar. Naiknya harga bahan bakar telah memicu terjadinya pencarian bahan bakar alternatif selain petroleum. Ketika minyak sawit dipercaya bisa menjadi bahan bakar alternatif bagi mesin diesel yang menggerakkan mobil dan truk, perkebunan monokultur kelapa sawit saat ini sedang dibuka di Papua Barat dan Papua New Guinea. Dengan persetujuan pemerintah daerah, puluhan ribu hektar hutan hujan tropis kemudian ditebang bagi pengembangan perkebunan kelapa sawit. Hutan hujan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati semakin menciut setiap menitnya.
Burung Cendrawasih Kuning Kecil di Hutan Susnguakti Manokwari
Burung surga atau burung cendrawasih sudah diburu sejak ratusan tahun yang lalu. Burung-burung itu diperdagangkan baik dalam keadaan hidup ataupun mati kepada para kolektor yang senang menggantungnya di dinding rumah mereka atau menaruhnya di dalam kotak kaca.
Tur pengamatan burung adalah sebuah skema pembangkitan pendapatan alternatif yang saya coba perkenalkan bagi penduduk lokal di Kabupaten Manokwari pada saat ini. Para pengamat burung dari Eropa dan Amerika Serikat datang untuk menonton burung surga di habitat alami mereka. Ada tiga lokasi di kabupaten ini yang menjadi tempat tujuan para wisatawan yang ingin menonton burung-burung surga.
Hutan Kali Dopi di Manokwari
Tempat-tempat itu adalah Camp Susnguakti,Camp Dopi di Manokwari, dan Kampung Ayapokiar di Pegunungan Tambrauw. Yang terdekat dengan kota Manokwari adalah Camp Dopi. Para pengamat burung yang ingin melihat burung surga di camp tersebut harus berjalan menembus hutan belantara selama 3 jam untuk mencapai tempat pengamatan burung. Saya sengaja tidak menaruh koordinat GPS tempat tersebut di website ini untuk mencegah para pemburu datang ke hutan dan menembak burung-burung tersebut.
Jika Anda tertarik untuk mengamati burung surga di hutan Manokwari, silahkan menghubungi saya lewat email: peace4wp@gmail.com.Untuk menekan biaya perjalanan, datanglah dalam 1 kelompok yang beranggotakan 2 hingga 10 orang. Jangan lupa membawa peralatan pengamatan burung seperti teropong (kijker), digiscope, atau telephoto camera. Catatan tambahan:
Pada umumnya para pengamat burung yang berpengalaman menggunakan digiscoping system. Selain harganya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan kamera D-SLR, kemampuan digiscope dalam memotret subyek burung yang ada di pepohonan yang tinggi sangatlah bagus. Oleh karena itu, saya merekomendasikan agar Anda membeli peralatan digiscoping yang baik. Ditulis oleh Charles Roring