Search This Blog

Showing posts with label seni. Show all posts
Showing posts with label seni. Show all posts

Sunday, July 5, 2020

Jalan-jalan di Bali

Ekowisata di Bali
oleh Charles Roring
Bali mungkin adalah pulau yang paling terkenal di dunia. Pulau ini adalah pusatnya pariwisata Indonesia. Setiap tahun jutaan pengunjung datang ke Bali. Mereka ingin berenang dan berjemur di Pantai Kuta dan Legian atau menjelajah keindahan sawah terasering di daerah pegunungan. Meskipun pertanian masih merupakan sektor terbesar yang menyerap tenaga kerja, pariwisatalah yang menjadi kekuatan utama penggerak ekonomi. Bali juga adalah pusat seni. 
Para pencinta seni akan merasa bahwa kota Ubud cocok buat mereka. Galeri dan museum seni menyajikan kecekatan tangan para pelukis dan pengukir Bali yang luar biasa. Beberapa orang pengusaha menjadikan Bali sebagai tempat berdagang. Mereka mengimpor ukiran, perabotan, dan bahkan rumah-rumah kayu untuk klien mereka di Eropa, Amerika Selatan atau Australia. Tukang-tukang kayu Bali dapat membangun rumah dengan rangka kayu yang dihiasi relief seni pada dinding dan ukiran pada tiang-tiang. Bagi masyarakat Bali, seni merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari.

Restoran dan toko di Bali
Warung dan restoran di Ubud Bali
Di Bali - pulau Dewata, setiap hari adalah hari libur. Ada banyak atraksi bagi para pelancong yang dapat mereka lihat dan nikmati. Dari hiking di Gunung Batur, hingga menonton lumba-lumba di Lovina, pengunjung bisa memilih aktivitas dan paket petualangan yang mereka inginkan di pulau tropis ini. Pasangan-pasangan yang baru saja menikah datang ke Bali untuk menikmati bulan madu mereka juga. Merasa stress dengan pekerjaan di kantor? Jangan kuatir, Bali memiliki sederetan resort dan spa pantai di mana Anda bisa menginap untuk memesan jasa pijat dan mengambil kelas-kelas yoga.
Saya telah mengunjungi Bali beberapa kali. Kunjungan saya yang terakhir tahun ini adalah selama tiga bulan. Saya tinggal di sebuah rumah tropis yang cantik di Jalan Sukma, kota Ubud. Saya makan nasi campur, mengendarai sepeda gunung untuk melihat lereng-lerang Ubud. Saya mengunjungi galeri seni Neka dan Anthony Blanco serta Museum Puri Lukisan untuk melihat lukisan tradisional dan modern. Menggambar adalah hobi saya. Ketika saya berada di lantai dua galeri seni Neka, saya melihat lukisan-lukisan pastel karya Gerard Hofker. Karya seni yang fantastis dari seniman Barat tersebut menggambarkan gaya hidup tradisional orang Bali yang secara perlahan-lahan bercampur dengan buday dari seluruh penjuru dunia.
Orang Bali adalah masyarakat yang religius. Hinduisme adalah agama utama di sini. Namun demikian, masyarakat Bali cukup toleran dengan budaya dan agama lain. Pura ada di mana-mana bahkan di pusat bisnis sekalipun seperti pasar Ubud dan pusat perbelanjaan di jalan raya Kuta. Tapi budaya Bali tidak akan terhapus. Budaya ini akan terus ada berdampingan dengan budaya lain yang telah masuk di pulau yang indah ini. Jadi, budaya Bali tidak lagi menjadi milik Indonesia. Budaya Bali adalah milik dunia. Bali adalah sebuah kosmopolitan. Datanglah ke Bali dan Anda akan merasa seakan-akan berada di rumah sendiri.

Baca juga:


Saturday, June 27, 2020

Pelukis Belanda Willem Gerard Hofker

Tiga Gadis Bali karya William Gerard Hofker
Judul: Komposisi Tiga Gadis
Media: Pastel di atas kertas
karya Willem Gerard Hofker
Selama perjalanan saya berkeliling Bali, saya beberapa kali mengunjungi galeri dan museum seni di kota Ubud. Salah satu yang saya masuk adalah Museum Neka di Jalan Raya Campuhan. Di sana saya melihat banyak sekali lukisan, ukiran dan foto. Di antara sederetan seniman yang karya-karyanya dipamerkan di dinding museum itu, nama Willem Gerard Hofker sangat menarik perhatian saya. Seniman lukis asal Belanda ini pernah tinggal lama di Bali. Sebagian besar karyanya menggambarkan potret kehidupan masyarakat Bali sehari-hari. Wanita-wanita Bali dengan dandanan yang menarik kerap digambarkan sedang melakukan persiapan untuk mengikuti upacara keagamaan atau mementaskan tarian tradisional.
Willem Gerard Hofker adalah seorang pastelis yang mampu menuangkan kehidupan wanita-wanita Bali dalam kertas gambar secara apik dengan proporsi yang pas. Saya menghabiskan waktu yang lama sekali di lantai 2 sebuah gedung di dalam Museum Neka tersebut, tempat di mana karya-karya pastelis Belanda ini dipamerkan.
Dewasa ini, lukisan - lukisan Hofker menjadi incaran para kolektor seni dari berbagai penjuru dunia. Rumah Lelang Chritie's bahkan memasang foto-foto lukisan karya Willem Gerard Hofker yang telah laku. Salah satu di antaranya berjudul Ni Gusti Kompiang Mawar yang harganya mencapai 781.000 Euro. Sungguh fantastis.

Wednesday, November 14, 2012

Cenderamata dari Manokwari

Wisatawan Rusia sedang melihat-lihat ukir-ukiran kayu karya seniman Papua Niko Asaribab di Manokwari. Souvenir ini sangat laku dibeli oleh wisatawan asing dari Eropa, Amerika dan Australia.
Wisatawan yang telah menghabiskan waktu selama beberapa hari berkeliling hutan dan pulau-pulau di Manokwari tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk berbelanja cinderamata buat sahabat, keluarga atau teman kantor. Cinderamata atau souvenir yang dijual di kota Manokwari diproduksi oleh beberapa seniman Papua dan bisa langsung dibeli di rumah mereka. Berikut ini adalah nama para seniman yang bisa dikunjungi oleh turis-turis:
  • Lucky Kaikatui - seniman ini belajar di Institut Kesenian Jakarta. Lukisan yang dihasilkannya berukuran besar dan cocok bagi wisatawan yang benar-benar ingin mengoleksi lukisan Papua yang berkualitas. Media yang digunakan adalah cat minyak di atas kanvas. Lucky Kaikatui tinggal di Jalan Brawijaya, belakang SMP Katholik Manokwari.
  • Marice Fonataba - Perempuan Papua yang satu ini ahli dalam membuat kain tenun katun, gelang serta tas yang terbuat dari anyaman daun tikar. Ibu Marice Fontataba juga memproduksi kalung dan ikat kepala yang terbuat dari manik-manik. Salah satu produk yang sangat sumit pembuatannya adalah sireo atau rok yang terbuat dari manik-manik dan hanya dikenakan oleh para gadis Serui dalam upacara adat atau penyambutan orang-orang penting yang berkunjung ke kampung. Alamatnya adalah di kompleks Missi, belakang Gereja Katholik St. Agustinus, Jl. Brawijaya. Warga biasa memanggilnya Mama Fatie.
  • Joseph Awom - Seniman yang bertubuh tinggi ini tinggal di Jalan Merdeka tepatnya di samping toko Suri Bakery. Keahlian beliau adalah membuat ukir-ukiran yang terbuat dari kayu. Kualitas karya seni yang dibuatnya bagus dan halus sehingga layak untuk dibeli. Patung dan relief yang terbuat dari kayu yang beliau buat banyak yang dikoleksi oleh wisatawan asing terutama yang datang dari Rusia, Amerika Serikat, dan Belanda. 
  • Niko Asaribab - Seniman ukir yang prolifik ini dalam membuat berbagai ukir-ukiran selalu bertemakan budaya Papua. Patung korwar yang diukirnya dulu merupakan bagian identitas budaya masyarakat Biak Numfor. Karya-karyanya bisa dilihat di rumahnya di dekat Pelabuhan Anggrem Manokwari. 
  • Bert Suruan - Seniman Papua ini membuat lukisan-lukisan yang bertemakan kehidupan asli masyarakat Papua yang masih tradisional. Media yang digunakannya adalah cat air di atas kertas. Rumahnya tepat di belakang rumah bapak Niko Asaribab yang telah saya sebutkan di atas. Lukisan-lukisan Bert Suruan juga telah dikoleksi oleh sejumlah wisatawan asing yang berasal dari Eropa. 
  • Ester Kereway - Seniman yang biasa dipanggil Mama Rambut Putih rajin memproduksi souvenir yang dibuat dari limbah kerang-kerangan yang telah dikonsumsi dagingnya. Souvenir buatannya tersebut cocok sekali sebagai cinderamata untuk acara pernikahan. Ibu Kereway adalah salah satu seniman senior di Manokwari yang telah memamerkan produk kerajinan tangannya hingga ke beberapa negara di luar negeri.
Untuk info selengkapnya tentang Seniman Manokwari, silahkan download brosur berikut:

Bila Anda adalah salah satu calon wisatawan yang hendak berkunjung di Manokwari, jangan lupa untuk mengunjungi seniman-seniman Papua yang telah saya sebutkan tersebut dan membeli karya seni yang mereka buat. Setiap pembelian souvenir yang Anda lakukan telah secara langsung membantu upaya kami untuk melestarikan budaya Papua. oleh Charles Roring/ E-mai: peace4wp@gmail.com