Wildlife watching in tropical rainforest and marine environment of Indonesia from snorkeling in Raja Ampat to hiking and birding in Manado city, Minahasa highland and Tangkoko Nature Reserve.
My e-mail: peace4wp@gmail.com
Wisatawan Amerika Serikat sedang memotret burung di malam hari ditemani masyarakat kampung.
Salah satu aktivitas ekowisata yang sangat diminati oleh wisatawan terutama dari manca negara adalah jelajah hutan di malam hari. Sebagai seorang pramuwisata, saya telah melaksanakan kegiatan ini banyak kali, bekerja sama dengan warga kampung di Manokwari, Sorong, Pegunungan Arfak, Tambrauw hingga Raja Ampat.
Burung Large-tailed Nightjar yang dipotret di malam hari di pinggir sungai Hutan Mesirrokow, Manokwari
Hutan hujan tropis di Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Ada burung-burung surga seperti Cendrawasih Kuning Kecil, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Dada Biru (Toowa Cemerlang), Cendrawasih Magnificent (knang), Cendrawasih Ballerina (Western Parotia), Cendrawasih Botak (Wilson's Bird of Paradise) dan masih banyak lagi.
Ada juga hewan lainnya seperti rusa, kuskus, tikus tanah, lao-lao, ular, serangga belalang, kumbang, kunang-kunang, jangkrik, moth (kupu-kupu malam). Hewan ini terkadang lebih mudah dijumpai di malam hari ketika mereka keluar dari persembunyiannya untuk mencari makan atau kawin.
Kuskus Pohon di Hutan Susnguakti, Manokwari
Kegiatan jalan malam di hutan biasanya dilakukan setelah makan malam, kira-kira sekitar jam 20.30. Di hutan Susnguakti Manokwari, target utama dalam pengamatan adalah kuskus pohon, dan soa-soa duri. Di hutan Lembah Klasow, biasanya yang kita lihat adalah Lao-lao (semacam kanguru tanah berukuran kecil yang dalam bahasa Inggris kita sebut wallaby).
Burung Pitta Perut Merah Papua di Hutan Susnguakti, Manokwari
Ada banyak ular di hutan Susnguakti, baik ular pohon maupun yang berjalan di tanah. Yang paling berbahaya adalah Ular Putih (ikaheka). Ular ini telah memakan banyak korban jiwa. Oleh karena itu, setiap tur yang kami jalankan di hutan ini selalu mewajibkan peserta untuk mengenakan sepatu. Di samping itu pula, jalan setapak yang ada di dalam hutan kami bersihkan dengan sapu lidi secara teratur.
Setelah berjalan selama beberapa menit di hutan, kami biasanya berhenti di pepohonan yang ada talinya. Pada saat itu, orang kampung akan memanggil kuskus dengan meniru suara betinanya. Kalau terdengar suara di cabang-cabang pohon, kemungkinan besar, kuskusnya mulai turun. Kalau lama tidak ada kehadiran kuskus, saya, wisatawan dan warga kampung yang menemani kami akan pindah ke lokasi lain. Tingkat keberhasilan untuk melihat kuskus cukuplah tinggi ketika bulan mati (saat tidak ada cahaya bulan di langit sehingga hutan lebih gelap, tetapi tetap ada kerlap-kerlip bintang, atau cahaya dari kunang-kunang dan jamur yang bercahaya di malam hari).
Aktivitas jelajah hutan bisa berlangsung hingga jam 23.00 atau bahkan jam 01.00 lewat tengah malam.
Di Tambrauw obyek utama pengamatan adalah rusa, ada lokasi tertentu di hutan Lembah Ases tempat minum rusa dan satwa liar lainnya. Biasanya kami ke sana sekitar jam 21.00. Kami melihat rusa minum air di tempat itu. Lembah Ases adalah lokasi wisata pengamatan burung dan satwa liar yang indah sekali di Pegunungan Tambrauw.
Burung Pitta Kepala Hitam (Hooded Pitta) di Hutan Sorong
Kawasan Pesisir Tambrauw juga layak dijelajahi terutama di malam hari. Ada penyu yang suka mendarat terutama dari bulan April hingga September. Penyu belimbing adalah target pengamatan yang utama tetapi ada juga penyu lekang, hawksbill dan hijau yang juga mendarat di pantai untuk bertelur.
Hal yang sama juga bisa kita temui di Pantai di Pulau Waigeo, Raja Ampat. Ketika menjelajah pesisir pantai di malam hari di utara pulau itu, kita bisa melihat penyu mendarat untuk bertelur.
Wisatawan Russia Jelajah Hutan Susnguakti Manokwari dipandu warga setempat
Nah, jika Anda tertarik untuk berkunjung ke Papua Barat untuk menikmati aktivitas ekowisata baik di hutan dan di pantai (snorkeling untuk melihat keindahan terumbu karang dan ikan yang berwarna-warni), silahkan menghubungi saya lewat whatsapp; +6281332245180 atau email: peace4wp@gmail.com.
Cendrawasih Kuning Kecil atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor) adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah dari Tanah Papua. Burung ini dikenal luas oleh masyarakat karena memiliki bulu yang indah kuning keemasan, putih, coklat serta hijau sehingga menjadikannya sebagai salah satu burung tercantik di dunia. Di wikipedia, menurut IUCN status burung ini adalah leastconcern yang artinya tidak terlalu memprihatinkan. Memang benar bahwa populasi Cendrawasih Kuning Kecil masih banyak di alam karena sebarannya bisa ditemukan di hampir semua wilayah hutan hujan tropis Papua dan Papua Barat dari wilayah Vogelkop, Bomberai, Kaimana, Nabire, Yapen Waropen, Sarmi, Jayapura; hingga ke kawasan utara Papua New Guinea.
Burung Cendrawasih Kuning Kecil di hutan Susnguakti Manokwari
Meskipun masih banyak, populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaeaminor) mengalami tekanan yang semakin besar. Habitat asli dari Cendrawasih adalah hutan hujan tropis. Di berbagai tempat di Tanah Papua, hutan tersebut ditebang dan lahannya dialihfungsikan menjadi lokasi perkebunan monokultur kakao, kelapa sawit, pala, kebun pertanian hortikultura, wilayah pemukiman penduduk dan perkantoran maupun gedung milik pemerintah dan swasta, lokasi konsesi tambang, hingga jalan raya.
Hilangnya habitat dan masih adanya perburuan liar merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil dan burung-burung tropis Papua secara drastis.
Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) Jantan di hutan Susnguakti Manokwari
Pertambahan jumlah penduduk, serta aktivitas ekonomi di bidang logging, agrobisnis, agroindustri dan pertambangan telah menyebabkan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran. Meskipun pembukaan lahan tidak dapat dicegah 100%, hal ini bisa ditekan lewat perencanaan wilayah yang hati-hati. Desain tata ruang, dan desain tapak yang komprehensif diperlukan oleh para pengambil kebijakan dalam pembangunan untuk menyelaraskan kebutuhan pembukaan lahan bagi berbagai kepentingan manusia dengan upaya pelestarian hutan hujan tropis yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Teknologi informasi yang berkembang sangat cepat diiringi dengan ketersediaan peralatan fotografi yang semakin canggih dengan harga yang lebih terjangkau telah memungkinkan setiap orang yang berkunjung ke hutan hujan tropis di Tanah Papua untuk memotret dan membuat video tentang satwa burung yang indah ini. Hasil pemotretan dan perekaman video tersebut kemudian dibagikan ke media sosial, blog dan website di dunia maya. Ternyata foto dan video dari burung surga tersebut menarik minat banyak sekali pengamat burung dan pencinta alam untuk datang ke Tanah Papua guna menyaksikannya secara langsung.
Wisatawan Spanyol nonton burung di Manokwari
Kedatangan para wisatawan pencinta alam ini semakin membantu penyebaran informasi mengenai keberadaan burung Cendrawasih Kuning-Kecil dan kekayaan keanekaragaman hayati di Tanah Papua ke masyarakat internasional yang terhubung ke dunia maya. Ekowisata pengamatan burung yang tadinya kecil sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang ikut membantu pemerintah untuk mendatangkan devisa, membuka lapangan kerja sekaligus membantu masyarakat melestarikan alamnya sendiri.
Menurut laporan US Fish and Wildlife Service, Pengamatan burung adalah salah satu aktivitas outdoor tercepat di Amerika. Trend ini terjadi juga di berbagai wilayah lain termasuk di Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Ini adalah peluang ekonomi strategis bagi berbagai negara yang memiliki hutan.
Ekowisata pengamatan burung dan satwa liar sudah berkembang sejak akhir tahun 1990an di Tanah Papua. Jumlah lokasi pengamatan burung semakin bertambah. Di Provinsi Papua Barat beberapa nama tempat yang cocok untuk dikunjungi wisatawan pengamat burung dan satwa liar:
Hutan Cagar Alam Pegunungan Wondiboi, dan Hutan Dataran Rendah di Distrik Naikere di Kabupaten Teluk Wondama.
Hutan Susnguakti, Hutan Soyti di Kwau, Hutan Syioubri, Hutan Susnguakti di Manokwari;
Hutan Ayapokiar, Hutan Ases dan Gunung Sakofsiah, serta sekitar kota Fef, Hutan Weyos di Kabupaten Tambrauw;
Hutan Malagufuk, Kampung Klatomok, dan Malaumkarta Raya di Kabupaten Sorong;
serta Pulau Waigeo di Raja Ampat (bukan habitat Cendrawasih Kuning Kecil, tapi ada Cendrawasih Merah)
Aksesibilitas ke berbagai lokasi pengamatan burung menjadi faktor penentu keberhasilan program ekowisata di wilayah-wilayah tersebut.
Di samping itu juga, ketersediaan akomodasi yang memadai dapat mempercepat peningkatan jumlah kunjungan wisata ke lokasi-lokasi hutan tersebut di atas. Namun demikian akomodasi bukan merupakan faktor yang sangat vital. Lokasi wisata pengamatan burung di hutan Susnguakti, misalnya, tidak memiliki fasilitas guesthouse yang memadai. Namun demikian, jumlah wisatawan yang telah berkunjung ke sana sudah mencapai ratusan orang. Persentase wisatawan asing yang hutan Susnguakti adalah 99%.
Basecamp untuk wisatawan di Hutan Susnguakti Manokwari
Kisah sukses program ekowisata terjadi juga di Lembah Klasow. Dua kampung yang sudah dikunjungi wisatawan asing adalah Klatomok dan Malagufuk. Di sini, spesies burung-burung surga lainnya seperti Magnificent Riflebird, King Bird of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Glossy Mantled Manucode bisa ditemukan.
Sebenarnya ekowisata pengamatan burung tidak hanya terbatas pada pengamatan burung Cendrawasih saja. Semua burung tropis yang ada di hutan Papua baik untuk diamati.
Tanah Papua adalah surga bagi burung-burung tropis. Dari yang kecil seperti Tit Berrypecker di Pegunungan Arfak dan yang paling besar seperti Northern Cassowary di Hutan Kampung Malagufuk dan Kampung Klatomok merupakan daya tarik ekowisata yang patut kita jaga bersama.
Untuk bisa menyaksikan secara langsung burung-burung tropis yang indah ini, wisatawan perlu terbang ke Papua Barat. Ada dua kota yang bisa dituju yakni Manokwari dan Sorong. Batik dan Sriwijaya adalah airline yang bisa melayani kedua kota tersebut. Wisatawan pengamat burung internasional kebanyakan lebih memilih Manokwari karena wisatawan bisa mengamati burung di dataran rendah, hingga ke Pegunungan Tinggi sehingga spesies yang bisa dilihat menjadi lebih bervariasi.
Manokwari
Selain berwisata ke hutan untuk menonton burung dan satwa liar, wisatawan bisa menikmati aktivitas wisata bahari. Ada terumbu karang yang bisa dilihat di pesisir pantai dengan bermacam-macam jenis ikan. Sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat, ada puluhan hotel di kota ini dari yang harga murah hingga yang mahal. Ada juga banyak toko, restoran dan rumah makan. Oleh karena itu wisatawan tidak akan menemui banyak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan mereka selama berlibur di Manokwari.
Pada akhirnya, semua hingar-bingar industri pengamatan burung dan satwa liar di Papua Barat haruslah membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal pemilik hutan. Jika mereka bisa mendapat pekerjaan dan penghasilan dari program ekowisata ini, niscaya kicauan Cendrawasih Kuning Kecil dan nyanyian burung-burung surga di Tanah Papua akan terus terdengar sampai ke akhir zaman. Ini ditulis oleh: Charles Roring.
Baca juga:
Cendrawasih Toowa
Cendrawasih Kuning Kecil dan Lokasi Wisata Pengamatannya
Kumkum adalah nama yang dipakai oleh masyarakat di Tanah Papua untuk burung Pinon Imperial Pigeon (Ducula pinon) dan sejenisnya. Burung ini memiliki fungsi yang penting sekali dalam ekosistem hutan hujan tropis sebagai penyebar biji-bijian. Masih sebangsa dengan burung merpati, burung kumkum sering dijadikan simbol untuk pengungkapan cinta sejati, dan kesetiaan.
Sebenarnya burung-burung yang sejenis dengan kumkum tetapi dengan ukuran tubuh dan warna yang berbeda di seluruh Tanah Papua dan pulau-pulau satelit di sekitarnya ada banyak. Keluarga pigeons dan doves ada sekitar 52 spesies di daerah ini. Beberapa di antaranya (dalam Bahasa Inggris) adalah sebagai berikut:
Pinon Imperial Pigeon (Duculapinon) di Bukit Aiwatar Kabupaten Tambrauw- Foto oleh Wim Boyden
Pinon Imperial Pigeon - warnanya abu-abu dan hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah di Tanah Papua. Makanannya adalah buah-buahan yang ada di hutan. Masyarakat suka berburu burung kumkum karena dagingnya yang cukup lezat. Burung Kumkum Kelabu atau Pergam Papua kadang terlihat berpasangan di dahan-dahan pohon. Namun demikian burung ini sering berkumpul dalam kelompok besar ketika sedang makan di sebuah pohon yang berbuah lebat. Ciri khas utamanya adalah adanya gari putih di ekor serta mata yang berwarna merah.
Spice Imperial Pigeon
Spice Imperial Pigeon - sekilas bentuk dan warna burung ini mirip dengan Pinon Imperial Pigeon. Tetapi burung ini memiliki knob di atas paruhnya. Burung Spice Imperial Pigeon (Duculamyristicivora) mudah dilihat di pulau-pulau kecil yang ada di Kepulauan Raja Ampat.
Pied Imperial Pigeon di Waigeo
Pied Imperial Pigeon (Ducula bicolor)- saya sering melihat burung ini ketika bepergian ketika berada di Pulau Waigeo di Raja Ampat. Mereka sering makan buah di pepohonan di pinggir pantai dalam jumlah besar. Burung ini disebut juga Pergam Laut warnanya putih dengan tepian sayap berwarna hitam. Lokasi yang gampang dicapai untuk melihat burung ini adalah di Pantai Warduwer di sebelah selatan Waigeo.
Mountain Fruit Dove
Mountain Fruit Dove - saya memotret burung di atas ketika berada di Pegunungan Arfak. Thane K. Pratt dan Beehler et al dalam buku Birds of New Guinea atas pertimbangan ilmiah tertentu memisahkan spesies ini dengan White-bibbed Fruit Dove.
Brown Cuckoo Dove di Raja Ampat
Brown Cuckoo Dove - Kalau kita berjalan lebih jauh ke dalam hutan, burung ini akan kita jumpai. Burung ini bisa dijumpai di Kawasan Hutan Dataran hingga Pegunungan Rendah bahkan sampai di kawasan transisi ke hutan Pegunungan Tinggi terutama saat musim buah. Dalam buku Birds of New Guinea: including Bismark Archipelago and Bougainville karya Phil Gregory, spesies burung ini telah dipecah menjadi beberapa spesies sesuai dengan lokasi habitatnya di pulau-pulau yang berbeda. Sebagian orang mengatakan pemisahan (split) species burung tersebut agak dipaksakan.
Great Cuckoo Dove - Foto: Wim Boyden
Great Cuckoo Dove (Reinwardtoenareinwardti) hidup di sebagian besar wilayah hutan Papua termasuk pulau-pulau di sekitarnya. Di dahan pohon yang sedang berbuah di pinggir sungai dan bahkan di pinggir laut, saya kerap melihatnya.
Cinnamon Ground Dove di Pegunungan Arfak
Cinnamon Ground Dove (Gallicolumba rufigula) - Burung ini menurut IUCN masuk dalam status Least Concern, artinya populasinya cukup banyak. Namun demikian, burung ini tergolong sulit untuk dilihat dan dipotret oleh para wisatawan pengamat burung. Warna bulu yang coklat mirip tanah di punggung dan kepala menjadikannya agak sulit untuk dipotret. Foto di atas saya buat ketika memandu seorang wisatawan Amerika Serikat di hutan Gunung Soyti di Pegunungan Arfak.
Wompoo Fruit Dove - Burung ini termasuk yang paling indah warnanya dalam keluarga pigeon dan dove. Foto di atas saya ambil saat berada di hutan Tambrauw. Burung ini bersarang di dahan pohon yang cukup rendah dari tanah namun masih terlindung oleh dedaunan dan ranting-ranting. Saya berhasil mendapat celah untuk memotretnya dengan baik. Sarang yang relatif kecil dibandingkan tubuhnya nampak rentan terhadap serangan predator. Demikian pula, jika terjadi angin kencang, dahan bisa bergoyang kuat. Induk burung tetap setia mengerami telurnya.
Wompoo Fruit Dove di Pegunungan Tambrauw
Salah satu hal yang membuat saya kagum dengan burung kumkum adalah kemampuan mereka untuk terbang cepat sekali menembus celah-celah dahan dan ranting pohon tanpa menabraknya.
Untuk sementara ini dulu ulasan saya tentang burung-burung dalam keluarga kumkum. Nanti saya tambah lagi di lain waktu. Ditulis oleh: Charles Roring
Salah satu cara murah untuk menikmati keindahan pesisir pantai Tambrauw adalah dengan naik kapal perintis. Saya pernah memandu wisatawan Belanda melihat kampung-kampung di pesisir pantai utara Tambrauw dengan naik KM Kasuari Pasifik 3. Sebelum berlayar, kami berbelanja bahan makanan terlebih dahulu di supermarket di Manokwari. Kami meninggalkan Pelabuhan Manokwari di sore hari. Sang nakhoda berbaik hati mengizinkan kamarnya untuk disewa oleh wisatawan yang jumlahnya 5 orang dari Negeri Belanda.
Wisatawan Belanda di KM Kasuari Pasifik 3
Kapal tersebut singgah di Saukorem, Imbuan, Waibem, Wau, Warmandi, Saubeba, Kwor, Opmare, Werur, Sausapor, lalu ke Sorong.
Kapal tersebut menghabiskan waktu selama 2 - 3 jam di setiap persinggahan untuk menurunkan serta menaikkan barang dan penumpang. Umumnya kapal tidak sandar di pelabuhan tapi hanya berlabuh di laut. Wisatawan dan penumpang boleh turun ke darat dengan perahu-perahu motor milik warga kampung yang merapat di samping lambung kapal. ABK akan menurunkan tangga kapal untuk memudahkan naik- turunnya penumpang dan barang.
Wisatawan bisa memanfaatkan waktu kosong tersebut untuk keliling kampung, mandi di pantai, mancing ikan di buritan kapal atau memotret keindahan alam yang ada di daerah itu.
Wisatawan Belanda mencoba rasa pinang
Kapal Kasuari Pasifik III yang membawa kami dengan ratusan penumpang lainnya tersebut ternyata sangat besar manfaatnya dalam meningkatkan putaran ekonomi di kampung-kampung pesisir Tambrauw. Rata-rata masyarakat membawa hasil bumi berupa pisang, kelapa, bijih kakao untuk dijual di kota Sorong. Ada yang menjualnya juga ke ABK untuk kemudian dijual lagi ke kota Sorong.
Warga masyarakat di pantai Saubeba dengan pisang dan kelapa sedang menunggu perahu motor untuk dimuat ke kapal.
Wisatawan Belanda bersama para guru yang diperbantukan oleh pemerintah ke sekolah-sekolah di Kabupaten Tambrauw
Pegawai pemerintah, guru, mahasiswa juga memanfaatkan kapal tersebut. Harga tiket per orang dari Manokwari ke Sausapor sangatlah murah yaitu Rp. 50,000. Mungkin harganya telah naik sekarang, tetapi saya yakin bahwa hal tersebut masih terjangkau bagi masyarakat umum.
Wisatawan Belanda sedang berpose bersama seniman Papua yang membuat hiasan manik-manik ikat kepala dan tas anyaman yang dikenakannya.
Selama berada dalam perjalanan, masyarakat dan ABK memperlakukan wisatawan dengan ramah. Wisatawan dan para penumpang lainnya saling berbagi bahan makanan, berbagi cerita dan berfoto bersama.
KM Kasuari Pasifik 3 memang bukan kapal mewah. Namun demikian kapalnya lumayan bersih ketika kami menaikinya.
KM. Kasuari Pasifik 3 yang sarat dengan muatan kelapa dan pisang untuk dijual ke Sorong
Setelah menikmati keindahan alam dan keramahan masyarakat Tambrauw, kami melanjutkan perjalanan ke Sorong dengan menaiki kapal penumpang kecil. Ini adalah pengalaman wisata yang indah dan murah serta bisa dinikmati oleh siapa saja yang berminat untuk liburan ke Tambrauw.
Semoga Pandemi Covid-19 ini segera berlalu sehingga aktivitas wisata bisa pulih kembali. Ditulis oleh Charles Roring
Kawasan pesisir dari Kabupaten Tambrauw, sama seperti daerah pegunungan, memiliki pemandangan yang indah sekali. Saya beberapa kali melintasinya baik dengan kapal maupun speedboat saat menemani wisatawan.
Wisatawan Selandia Baru di perairan Tambrauw
Hutan hujan tropis yang ada di kawasan ini juga kaya dengan berbagai spesies hewan dan tumbuhan.
Di beberapa lokasi pantai, karena berhadapan langsung dengan lautan bebas, pada bulan-bulan tertentu yakni Desember, Januari, dan Februari, ombaknya cukup besar. Itu adalah saat yang tepat bagi pencinta olah raga selancar air untuk berkunjung ke Tambrauw.
Pada beberapa tempat tertentu dari pesisir pantai Kabupaten Tambrauw ada terumbu karang dengan air lautnya yang jernih. Ikan-ikan tropis dari ukuran kecil seperti Orange-skunk Anemonefish, Moorish Idol, Stripe Surgeonfish, parrotfish sampai yang berukuran besar seperti Humphead Wrasse bisa kita lihat saat menikmati aktivitas snorkeling.
Terumbu karang di Perairan Tambrauw
Para wisatawan yang ingin snorkeling di pesisir pantai utara Tambrauw sebaiknya membawa kamera bawah air agar keindahan dunia bawah laut di daerah tersebut bisa dipotret atau direkam dalam bentuk video.
Untuk wisatawan yang ingin menghabiskan waktu selama beberapa hari mengunjungi kampung-kampung, hutan dan pantai di Tambrauw, sebaiknya menghubungi pramuwisata resmi dari DPC HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Cabang Kabupaten Tambrauw yang cukup mengerti kondisi alam dan budaya masyarakat setempat. Salah satu yang saya rekomendasikan adalah Bapak Anis Sundoi. Beliau tinggal di kota Sausapor dan dapat dihubungi lewat nomor hp: 085243497666.
Beliau bisa memandu para wisatawan pencinta alam untuk melihat berbagai hal yang menarik di kawasan pantai utara Tambrauw dari pesona alam seperti Weyos yang adalah habitat alami bagi berbagai satwa burung tropis; rusa, soa-soa, kuskus, penyu, hingga ke Pulau Dua dan Werur yang pada masa Perang Dunia II adalah pangkalan militer tentara sekutu.
Wisatawan Eropa di Pantai Werur
Ada cara murah meriah untuk menikmati keindahan pesisir pantai utara Tambrauw dengan harga yang sangat terjangkau. Wisatawan bisa naik kapal penumpang barang yang berlayar antar Sorong dan Manokwari tetapi singgah di kampung-kampung yang ada di Kabupaten Tambrauw.
Meskipun rasanya sepat, wisatawan asing banyak yang penasaran dan ingin mencoba mengunyah sirih pinang kapur seperti yang dilakukan oleh wisatawan Belanda ini.
Sebelum melakukan perjalanan, ada baiknya wisatawan menghubungi pramuwisata HPI untuk mendapat informasi mengenai jadual kapal perintis yang akan berangkat dari Sorong atau Manokwari menuju Tambrauw. Hal ini penting karena dengan demikian wisatawan bisa merencanakan perjalanan liburannya ke Tambrauw dengan baik dan tidak tertahan terlalu lama di daerah itu.
Ini adalah perjalanan wisata petualangan yang sangat digemari oleh wisatawan karena mereka bisa melihat dari dekat kehidupan warga setempat dalam kesehariannya. Durasi perjalanan dari Manokwari adalah sekitar 3 hari hingga sampai di Sausapor (salah satu kota pesisir di kabupaten Tambrauw). Setelah tiba di kota Sausapor, perjalanan berikutnya bisa dilanjutkan ke daerah pedalaman dengan menggunakan kendaraan 4WD.
Saat ini, Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Untuk sementara, perjalanan wisata ke Tambrauw terutama buat wisatawan asing belum bisa dilakukan. Ketika pandemi telah mereda dan sudah ada izin dari pemerintah, wisatawan internasional dan nasional bisa datang lagi ke Papua Barat. Ditulis oleh: Charles Roring
Baca juga:
Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan melintasi Pulau Seram dari Bula hingga ke Waipirit. Perjalanan yang singkat ini meninggalkan kenangan indah, kebahagiaan tetapi juga keprihatinan yang mendalam. Konversi Hutan Hujan menjadi Daerah Pertanian
Kabupaten Bula di sebelah timur Pulau Seram memiliki dataran yang cukup luas sehingga cocok untuk dijadikan sebagai daerah pertanian. Walaupun hamparan sawah di kedua sisi jalan menyuguhkan pemandangan yang memukau, secara pribadi saya kuatir bahwa daerah itu dulunya adalah tempat bertumbuhnya pohon-pohon sagu (Metroxylon rumphii) yang menjadi makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua di daerah pesisir. Begitu pula dengan daerah perkebunan kelapa sawit yang baru saja dibuka. Hal ini semakin memperkecil luas hutan hujan tropis di Seram Timur.
Taman Nasional Manusela - pabrik spesies
Kebetulan saja bus yang saya tumpangi melewati kawasan Taman Nasional Manusela. Sopir busnya cukup berpengalaman. Tanjakan panjang di Manusela bisa dilalui dengan lancar meskipun kecepatan bus agak pelan. Hutan hujan tropis Pulau Seram yang kaya dengan ribuan spesies tumbuhan dan hewan bisa saya saksikan secara sepintas sambil duduk di dalam bus yang membawa saya ke Pulau Ambon.
Pada umumnya orang melihat hutan sebagai sesuatu yang menyeramkan. Tapi bagi para petualang dan pencinta alam, hutan adalah sahabat sejati yang perlu dipelihara dan dilindungi. Hutan di Pulau Seram memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sekali. Ada ratusan spesies burung termasuk beberapa di antaranya yang terancam punah seperti luri kepala hitam (Lorius domicella) dan maleo (Eulipoa walacei).
Purple-naped Lory
Naturalis Georg Eberhard Rumphius
Semasa masih mahasiswa, saya tinggal di sebuah asrama yang bernama Rumphius di kawasan Poka, Pulau Ambon. Ini adalah sebuah asrama mahasiswa Katholik. Nama asrama itu tidak diambil dari nama santo-santa seperti yang umumnya dikenal oleh Gereja. Sebaliknya nama tersebut merupakan nama seorang naturalis Jerman, George Eberhard Rumphius, yang pernah melakukan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan, dan hewan yang ada di Ambon antara tahun 1657 hingga 1702. Dan dia adalah seorang Protestan (hal ini saya ketahui setelah menonton 5 video wawancara antara Lynn Margulis dengan alm. Prof. E.M. Beekman tentang buku Ambonese Herbal yang diterjemahkan dari buku karya Rumphius yakni Herbarium Amboinense).
Jujur saja, ketika itu saya tidak memiliki informasi apa pun tentang Rumphius. Pernah, saya mencoba mencari tahu siapa itu Rumphius dengan membuka World Encyclopedia yang ada di perpustakaan asrama tapi tidak menemukan apa-apa. Ensiklopedi tua terbitan Amerika Serikat sekitar tahun 1945 tersebut tidak menyebutkan nama Rumphius dalam indeks G, E atau pun R.
Sekarang dengan adanya internet, informasi tentang Rumphius mulai terkuak. Minggu lalu senior saya, Rudi Fofid menggagas pembentukan Komunitas Rumphius di kota Ambon. Hal ini diumumkan di Facebook, sejumlah website dan beberapa surat kabar tentang Maluku. Rasa keingintahuan saya tentang Rumphius muncul lagi setelah membaca berita itu. Meskipun apa yang saya ketahui tentang Rumphius masih tergolong minim sekali, saya mulai menyadari bahwa karya-karya Rumphius begitu erat kaitannya dengan alam Maluku. Dia mencatat ribuan spesies tumbuhan dengan kegunaannya baik dari segi medis maupun ekonomis. Informasi ini sungguh berharga tidak hanya bagi VOC yang berdagang di Maluku ketika itu tetapi juga bagi kita semua yang hidup di zaman modern ini. Pengetahuan pengobatan tradisional yang dicatatnya dari para herbalis Maluku pada abad ke-17 tersebut, kini bisa kita pelajari lagi berkat buku Herbarium Amboinense.
Dari menonton 5 video tentang Rumphius di Youtube, ada beberapa hal baru yang mengejutkan saya, antara lain:
Alfred Russel Wallace yang menjelajah nusantara dan menulis buku The Malay Archipelago, tidak pernah menyebut nama Rumphius. Kemungkinan besar Wallace tidak memiliki akses terhadap karya-karya Rumphius.
Georg Eberhard Rumpf adalah seorang ilmuan yang juga peka dengan kondisi sosial masyarakat Maluku. Pakar sejarah tentang Rumphius, yakni Prof. E.M. Beekman menyebutkan bahwa Rumphius membela masyarakat lokal dengan berani mengritik kebijakan VOC tentang perbudakan. Hal sensitif ini beserta dengan informasi penting mengenai manfaat medis tumbuh-tumbuhan (yang penting bagi monopoli dagang VOC) yang ditulisnya dalam Herbarium Amboinense bisa jadi merupakan alasan utama perusahaan dagang Belanda tersebut untuk tidak menerbitkannya.
Ketika manuscript Herbarium Amboinense tiba di Belanda, buku itu kemudian berpindah tangan ke seorang ahli botani yang bernama Johannes Burman. Karena ia adalah seorang intelektual yang kaya dan berpengaruh di Belanda maka ia bisa memperoleh manuscript tersebut dari tangan VOC. Pada tahun 1735, Carl Linnaeus berkunjung ke Belanda dan tinggal beberapa waktu lamanya di rumah Prof. Burman. Oleh karena itu Carl Linnaeus bisa memperoleh akses terhadap manuscript Herbarium Amboinense. Beekman mengatakan bahwa Carl Linnaeus mencatat (baca: menyontek) banyak sekali spesies tumbuhan yang telah dikumpulkan dan diidentifikasi oleh Rumphius. Catatan tersebut selanjutnya dijadikan acuan bagi Linnaeus untuk mengembangkan sistem klasifikasi serta tata nama hewan dan tumbuhan yang dewasa ini lebih dikenal dengan istilah taksonomi. Sayang sekali Linnaeus tidak menyebutkan Rumphius dalam karya-karyanya.
Pada 19 September 2011, karya Rumphius yang ditulis memakai bahasa Belanda tua dan Latin akhirnya diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Yale University Press dengan judul The Ambonese Herbal berjumlah 6 volume. Buku ini mendapat Penghargaan Literatur 2012 dari Council on Botanical and Horticultural Libraries untuk kategori teknis.
Penghargaan itu sekali lagi menempatkan posisi Rumphius sebagai ilmuan penting yang patut dihormati oleh masyarakat intelektual dunia sekaligus memberi appresiasi yang tinggi terhadap alam Maluku yang kaya dengan spesies hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jadi sudah sewajarnya jika kita semua bekerja keras untuk melestarikannya buat generasi sekarang maupun yang akan datang.
Pelestarian flora dan fauna di Pulau Ambon memang sangat mendesak. Menurut Prof. Beekman separuh dari tumbuh-tumbuhan yang digambarkan oleh Rumphius dalam buku Herbarium Amboinense itu telah punah sebagai akibat dari konversi lahan hutan menjadi daerah pemukiman. Pulau Ambon yang kecil tersebut tidak memiliki tanah datar yang luas.
Kota Ambon
Catatan ringkas tentang Rumphius yang disajikan di atas sengaja saya buat untuk mengenang jasa-jasa Georg Eberhard Rumphius terhadap pengembangan ilmu pengetahuan alam. Bila suatu saat Anda berkunjung ke Ambon, jangan lupa mampir di Perpustakaan Rumphius yang terletak di dekat Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius atau bertemu dengan para pencinta alam dari Komunitas Rumphius.
Saya tinggal beberapa hari lamanya di Studio Radio Menamoria. Sebuah radio komunitas yang bertujuan untuk memupuk rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan orang Maluku yang di tahun 1999 hingga 2002 mengalami penderitaan yang luar biasa beratnya sebagai akibat dari konflik sektarian.
Kini Maluku telah menikmati kedamaian dan masyarakatnya tengah berjuang untuk membangun lagi daerahnya. Saya senang melihat berbagai perkembangan positif di sana tapi juga berharap bahwa kota yang indah ini tetap ramah terhadap lingkungan.
Ditulis oleh Charles Roring
Referens:
Video percakapan antara alm. Prof E.M. Beekman dan Lynn Margulis tentang Ambonese Herbal di http://www.youtube.com/watch?v=8hQGk31uW78 (dan empat seri video lanjutannya)
Tiiu Kull and Joseph Arditti; Orchid Biology: Reviews and Perspectives, VIII; Kluwer Academic Publishers 2002
Saya telah memandu banyak pencinta alam dalam berbagai perjalanan hiking dan pengamatan burung di Papua Barat selama beberapa tahun terakhir ini. Dalam penjelajahan tersebut, saya telah melihat bermacam species endemik Papua.
Wisatawan Prancis di Pegunungan Tambrauw
Foto: Charles Roring
Bukit Aiwatar situs pengamatan burung terbaik di Papua Barat
Dari ratusan perjalanan pengamatan burung yang telah saya lakukan, saya bisa mengatakan bahwa spot pengamatan terbaik adalah Bukit Aiwatar di Kampung Senopi. Saya mengunjungi daerah itu bersama dengan Wim dan Vicky Boyden, dua wisatawan Belgia yang menikmati penjelajahan hutan dan pengamatan satwa liar selama satu minggu di Senopi. Pendapat ini mungkin terkesan subyektif tetapi itulah tempat di mana saya melihat banyak sekali spesies burung. Di sana saya melihat burung surga/ Cendrawasih (Paradisaea minor) yang terkenal itu, burung taun-taun, mambruk, kumkum, myna berwajah kuning, kakaktua raja dan banyak lagi spesies lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu dalam artikel ini.
Setiap pagi ratusan burung dari seluruh sudut hutan mendarat di bukit Aiwatar untuk meminum air hangat yang muncul dari dalam tanah. Menurut orang kampung yang menunjuk jalan ke sana, burung-burung meminumnya hingga mabuk. Saya tidak tahu kadar mineral apa yang terkandung di dalamnya yang membuat burung-burung sampai mabuk. Meskipun ada sebuah sungai besar di dekat bukit tersebut yang bernama Sungai Kamundan, kebanyakan burung lebih suka terbang ke bukit Aiwatar. Air itu kemungkinan besar mengandung garam.
Karang yang ada di bukit adalah terumbu karang purba. Ini indikasi yang jelas bahwa kawasan itu, dulunya adalah laut. Fenomena alam yang menarik karena Senopi dan Lembah Kebar berada jauh sekali dari lautan serta dibatasi oleh Pegunungan Tambrauw yang menjulang tinggi.
Katak hijau
Kehidupan Satwa Liar di Hutan Senopi
Burung bukanlah satu-satunya satwa yang bisa Anda lihat di hutan. Ketika saya sedang menjelajah hutan antara Senopi dan Bukit Aiwatar, saya melihat kanguru, sapi, rusa dan ular. Ada juga babi hutan, bermacam-macam kupu-kupu dan kumbang. Saat berjalan turun dari bukit Aiwatar, saya sempat melihat seekor katak hijau sedang tidur di atas daun.
Bukit Aiwatar di Pegunungan Tambrauw
Di mana Aiwatar Hill berada?
Bukit Aiwatar jauhnya sekitar 5 jam berjalan kaki dari Kampung Senopi. Kampung, atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan distrik tersebut, terletak antara Manokwari dan Sorong. Anda harus bangun pagi-pagi sekali dan berangkat jam 6 untuk mencapai bukit itu di siang hari. Sepanjang perjalanan, Anda bisa melihat kakaktua putih, luri kepala hitam, dan luri ornate di cabang dan ranting pohon. Bagaimana berangkat ke bukit Aiwatar?
Untuk mencapai bukit ini, baca instruksi berikut:
Bila Anda adalah wisatawan asing, terbanglah ke Jakarta (ibukota Republik Indonesia).
Setelah itu ikutlah salah satu penerbangan dalam negeri yang dilayani oleh Sriwijaya Air, Lion air atau BatikABatik ke kota Manokwari.
Pramuwisata dari DPC HPI Tambrauw atau DPD HPI Papua Barat bisa mengatur kendaraan untuk mengantar Anda ke Senopi menghubungi penduduk setempat untuk menyiapkan perjalanan ke Bukit Aiwatar.
Ketika Anda telah tiba di Kampung Senopi, keesokan harinya, dengan ditemani penerjemah dan satu atau dua orang penduduk sebagai penunjuk jalan, Anda akan melanjutkan perjalanan ke situs pengamatan burung terbaik di Papua Barat tersebut.
Jika Anda masih membutuhkan informasi yang lebih terperinci tentang Distrik Senopi dan perjalanan petualangan alam dan pengamatan burung di Kabupaten Manokwari, Anda bisa menghubungi Kepala Kampung Senopi atau Dinas Pariwisata Tambrauw. Saya yakin Anda akan melihat banyak sekali burung-burung di Bukit Aiwatar (terutama di pagi) saat cuaca bagus.
Daerah Kepala Burung di Papua Barat
Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan sebelum berangkat
Bawalah kamera digital dengan lensa telefoto. Karena listrik di Senopi terbatas, beberapa buah baterai ekstra harus Anda persiapkan.
Para pengamat burung suka membeli alat digiscoping. Anda dapat pula membeli teropong (kijker).
Pakailah sepatu olah raga (untuk berjalan di hutan dan sandal jepit untuk menyebrangi sungai).
Kalau Anda berencana menginap di hutan selama beberapa hari, siapkanlah tenda.
Makanan kaleng, beras dan mie instan, krim anti serangga harus dibeli di kota.
Semoga perjalanan Anda ke Bukit Aiwatar bisa berlangsung dengan lancar dan sukses. oleh Charles Roring.
Selama tiga bulan berada di Bali, saya sering berkeliling Ubud dengan mengendarai sepeda gunung di sore hari. Saya naik sepeda gunung buatan Wim Cycle dan bukannya sepeda motor. Kalau di Papua, saya biasa menggunakan Polygon Dirt Jump DX 2.0. Sawah, pura dan pemukiman penduduk di daerah pinggiran kota seni tersebut sangat menarik dijelajahi sambil mengayuh sepeda. Ternyata bukan hanya saya saja yang suka keliling-keliling dengan sepeda gunung tetapi banyak juga wisatawan asing melakukan hal serupa. Bahkan ada dari mereka yang berkeliling pulau Bali selama beberapa hari dengan kendaraan roda dua bertenaga manusia ini.
Saat saya bersepeda di Ubud
Jalur tanjakan di jalan Suweta menjadi lokasi terdekat pertama yang saya kunjungi. Pemandangan para petani yang bekerja membajak sawah-sawah terasering menjadi lukisan alam yang enak dipandang mata. Saya selalu membawa kamera travel ke mana-mana untuk memotret berbagai hal menarik yang saya jumpai di jalan. Oleh karena itu, saya tidak lupa mengambil beberapa gambar petani dan sawahnya tersebut. Setelah lelah mengayuh sepeda akhirnya saya sampai di tikungan yang mengarah ke Jalan Sriwedari.
Petani sedang membajak sawah
Bagi saya ini adalah downhill yang bagus. Sepeda yang saya kayuh melaju melewati jejeran villa, resort dan pura. Angin dingin yang menerpa di badan membuat tubuh saya yang tadinya dipenuhi peluh akhirnya segar kembali. Dari Jalan Sriwedari, saya masuk lagi ke Jalan Raya Ubud yang sering macet di siang hari karena dipadati bus-bus wisatawan. Sesampainya saya di penginapan, tempat pertama yang saya tuju adalah kulkas. Sebotol air es atau pocari sweat sudah cukup untuk melepas dahaga.
Sebagai destinasi wisata terpopuler di Indonesia, Bali memiliki infrastruktur dan fasilitas yang sangat memadai untuk wisatawan baik domestik maupun manca negara, termasuk pula untuk para pencinta olah raga sepeda. Ada sejumlah perusahaan tur yang menawarkan paket keliling Bali dengan sepeda gunung. Bagi wisatawan yang ingin menjelajah Bali tanpa ditemani guide, mereka bisa menyewa sepeda di beberapa tempat di kota Ubud dengan harga yang sangat terjangkau. Rata-rata harga yang dikenakan oleh pemilik sepeda adalah Rp. 75.000 sampai 100.000/hari, tergantung jenis, dan usia sepeda.
Kalau Kuta adalah tempat bagi para pencinta pantai, maka Ubud lebih cocok buat wisatawan yang suka dengan alam pedesaan, seni dan budaya. Ada banyak galeri lukisan di tempat ini baik yang kecil maupun yang besar seperti Museum Puri Lukisan dan Neka Art Museum. Saya suka seni lukis sehingga sebagian besar galleri dan museum seni di Ubud, saya kunjungi.
Pada malam hari pentas tari tradisional Bali seperti legong, dan pendet bisa disaksikan dengan harga yang sangat terjangkau. Ada banyak hotel murah atau homestay di Ubud sehingga siapa saja yang ingin berkunjung ke Bali tidak akan menemui kesulitan memperoleh penginapan. Oleh Charles Roring
Baca juga:
Selama ini kota Kaimana lebih dikenal di Indonesia lewat lagu Alfian yang berjudul, Senja di Kaimana. Tetapi sebenarnya kabupaten ini memiliki sejumlah tempat yang patut dikunjungi oleh para pelancong yang suka dengan pemandangan alam.
Pantai-pantai dan pulau-pulau sunyi
Teluk Triton, Selat Iris, Pulau Namatote; Aiduma; Dramai; Adi; Nusurumi; Mauwara; Semisarom; dan Venue memiliki keindahan yang luar biasa dan bisa disejajarkan dengan berbagai destinasi wisata bahari di belahan dunia lainnya. Banyak pulau dan pantai-pantai berpasir putih di Kaimana yang tidak didiami orang. Selama berada di sana, yang terdengar hanyalah deburan ombak, kicauan burung dan suara daun ditiup angin.
Pantai Waala
Destinasi Diving Kelas Dunia
Kunjungan saya ke Selat Iris dan Teluk Triton beberapa bulan lalu di sebelah tenggara kota Kaimana telah membuat saya tercengang-cengang dengan panorama alam Papua yang masih perawan tersebut. Memang kebanyakan masyarakat Indonesia belum mengenal Teluk Triton dan Selat Iris ataupun Pulau Adi. Oleh karena itu saya menulis artikel yang pendek ini untuk memperkenalkan tempat-tempat tersebut kepada pembaca. Bila Anda adalah seseorang yang hobi menyelam atau snorkeling, maka Triton adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Setiap tahun, mulai bulan Oktober hingga Maret, kapal-kapal liveaboard yang membawa para penyelam asing datang ke Kaimana.
Soft coral dan hardcoral di daerah itu merupakan surga bawah laut yang ingin mereka lihat. Ada ribuan spesies ikan yang menarik di Kaimana. Salah satunya adalah walking shark atau hiu berjalan (Hemiscyillum henryi). Ikan ini merupakan species yang endemik di perairan tersebut.
Hiu Paus, Paus dan Lumba-lumba
Selain menyelam di kawasan terumbu karang yang berwarna-warni, wisatawan dapat pula melihat ikan hiu paus (whale shark) yang datang untuk menikmati sarapan ikan puri di bagan-bagan milik para nelayan. Wisatawan dapat pula menyelam atau snorkeling bersama-sama dengan ikan hiu paus namun dengan tetap tidak mengganggu kenyamanan mereka.
Bila musim angin selatan tiba dengan gelombangnya yang besar-besar, maka banyak ikan-ikan kecil mencari perlindungan di dalam Teluk Bitsyari dan Teluk Triton. Hal itu menarik predator mereka yang merupakan ikan-ikan besar untuk ikut masuk ke dalam teluk-teluk itu guna mencari makanan. Lumba-lumba juga banyak dijumpai di perairan Kaimana. Mereka sering mengiringi perahu-perahu motor yang melaju menuju Teluk Triton atau kembali ke kota senja yang indah dan permai tersebut.
Kota Kaimana
Penerbangan ke Kaimana
Maskapai penerbangan Wings air melayani penerbangan ke kota ini dari kota-kota besar di Indonesia. Kunjungi masing-masing website dari maskapai penerbangan tersebut atau hubungi agen perjalanan di kota Anda untuk membeli tiket penerbangan ke Kaimana.
Hotel
Kaimana Beach Hotel terletak tidak terlalu jauh dari bandara Utarom saat ini merupakan hotel yang terbesar di Kaimana. Harga kamarnya sekitar Rp. 500 - 700 ribu/malam. Ada juga beberapa hotel kecil di dalam kota Kaimana dengan harga yang lebih murah. Ditulis oleh Charles Roring
Wisata hutan adalah jenis tur yang dilaksanakan di dalam hutan. Di Indonesia kebanyakan hutan yang ada adalah hutan hujan tropis yang dalam bahasa Inggris disebut tropical rainforest. Sebagai sebuah lingkungan alam yang kompleks, hutan tropis merupakan habitat alami bagi berbagai jenis binatang seperti mamalia, burung, reptil, amfibi dan serangga. Pohon-pohon yang dapat kita lihat di hutan hujan tropis lebih beragam dan ada yang memiliki diameter lebih besar dari satu meter. Wisata hutan yang saya promosikan dalam artikel ini bertujuan untuk menyediakan skema pariwisata alternatif bagi para wisatawan petualang dan pada saat yang sama mempromosikan konservasi lingkungan hidup yang berharga tersebut.
Hutan Rawa di Distrik Kais - Papua Barat
Saya mengunjungi Distrik Kais bulan April 2012 yang lalu. Selama dua hari saya berada di sana. Saya berangkat ke Kais sebagai bagian dari perjalanan survei di daerah kepala burung Papua Barat untuk mengembangkan dan mempromosikan program ekowisata. Secara administratif, Kais berada di bawah Kabupaten Sorong Selatan yang ibukotanya adalah Teminabuan. Kabupaten ini bertetangga dengan Raja Ampat - destinasi wisata penyelaman kelas dunia.
Daratan bagian selatan dari Tanah Papua lebih datar dan berawa dengan pohon-pohon sagu dan nipa tumbuh di sepanjang daerah tepian sungai. Pohon bakau umumnya bisa ditemukan di wilayah pesisir. Vegetasi yang saya lihat di dataran Kais agak berbeda dengan yang ada di bagian lainnya dari Provinsi Papua Barat.
Pengamatan Burung
Satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah berlimpahnya kehidupan burung di hutan hujan tropis Distrik Kais. Selama tur singkat menyusuri anak sungai Kais, saya berhasil melihat beberapa spesies burung termasuk kakaktua putih (Cacatua galerita), taun-taun (Rythiceros plicatus), kumkum (Ducula pinon), luri, elang, drongo, raja udang. Ada juga hewan kelelawar yang menggantung di daun-daun nipa.
Burung Kumkum
Bagaimana pergi ke sana?
Anda perlu berangkat dari tempat tinggal Anda ke kota Sorong. Sejumlah maskapai penerbangan nasional memiliki pesawat yang terbang ke sana setiap hari. Kota Sorong dapat pula dijangkau dengan naik kapal PELNI.
Sesampainya di kota Sorong, jika Anda adalah orang asing, pergilah ke kantor polisi untuk mendapatkan surat jalan. Sebutkan Distrik Kais dan kota Teminabuan di dalam daftar nama tempat-tempat yang akan dikunjungi.
Selanjutnya Anda sudah bisa berangkat ke Teminabuan dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan perahu motor ke Distrik Kais.
Sebelum berangkat ke Teminabuan dengan kendaraan pick-up Toyota Hilux, dari terminal kota Sorong, Anda perlu membeli sejumlah bahan makanan dan bensin sebanyak minimal 120 liter (sebagai bahan bakar untuk perahu motor yang akan membawa Anda ke sana). Bila Anda hendak menghabiskan waktu lebih lama di Kais, contohnya: 3 hari, maka bahan bakar yang perlu dibawa haruslah dua ratus liter.
Cara termudah menjelajah hutan hujan tropis di Kais adalah dengan menggunakan perahu motor. Setelah melakukan tur keliling hutan di pagi hari di pinggiran kampung Kais dengan berjalan kaki, saya melanjutkan perjalanan hari itu dengan menggunakan perahu kecil. Dua orang penduduk kampung mendayung perahu itu. Saya duduk di depan sambil memegang kamera.
Ketika kami memasuki Sungai Kerzek yang adalah anak Sungai Kais, kami bisa mendengar suara beberapa ekor kakaktua putih berteriak di cabang sebuah pohon yang tinggi. Mungkin teriakan itu bertujuan untuk memperingatkan teman-teman mereka yang lain tentang kedatangan kami. Burung kakaktua memang memiliki mata yang tajam. Mereka bisa dengan mudah mengenali kami meskipun kami mendayung perahu dengan sangat perlahan di bawah cabang dan daun pohon yang menutupi sungai kecil itu.
Provinsi Papua Barat
Hutan tropis Kais masih dalam kondisi pristine. Hutan tersebut adalah destinasi yang pas buat para petualang yang tertarik dengan penjelajahan hutan, rawa dan sungai-sungai Papua selama beberapa hari. Jika Anda tertarik ke sana, silahkan menghubungi saya, Charles Roring, lewat e-mail: peace4wp@gmail.com untuk membantu merencanakan perjalanan Anda ke sana.
Untuk mendukung kelangsungan website ini, Anda bisa membeli beberapa merchandise bergambar Cendrawasih. Silahkan klik foto-foto berikut:
Burung surga atau disebut juga burung Cendrawasih memiliki warna bulu yang indah sekali. Kepalanya berwarna kuning dengan leher hijau dan sayapnya berwarna coklat tua. Di sela-sela sayap ada bulu kuning dan putih yang melambai-lambai ketika ia berdansa atau terbang. Burung ini dalam bahasa Inggris disebut birds of paradise. Sebenarnya ada 38 spesies burung surga yang dikenal dalam dunia sains. Jumlahnya bisa berkembang sejalan dengan adanya eksplorasi dan penemuan baru yang kemungkinan bisa terjadi di Papua.
Selama ratusan tahun, burung Cendrawasih menjadi incaran para pedagang dan kolektor burung. Masyarakat Papua sendiri menyimpan sekurangnya 1 ekor burung Cendrawasih yang telah dikeringkan dalam rumah mereka untuk keperluan upacara, penyambutan tamu, atau tari-tarian adat. Namun demikian burung yang telah dikeringkan tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga hal tersebut bisa dimaklumi.
Perburuan burung Cendrawasih untuk diperdagangkan ke luar tanah Papua telah dilarang oleh pemerintah dalam hal ini lewat instansi Konservasi Sumber Daya Alam di Departemen Kehutanan. Sayangnya tetap saja masih terjadi perdagangan burung antar pulau.
Untuk menekan atau menghapus jaringan perdagangan burung surga maka harus ada mekanisme alternatif yang bisa diperkenalkan kepada para penduduk Papua. Salah satu yang saya laksanakan adalah ekowisata. Dalam program ekowisata (ecotourism), wisatawan datang ke tempat burung Cendrawasih berkumpul untuk menonton mereka berdansa di pagi dan sore hari. Dari kegiatan wisata menonton burung tersebut, penduduk asli Papua bisa memperoleh penghasilan tambahan dari sumber daya alam yang mereka miliki tanpa harus merusaknya. Meskipun jumlah wisatawan yang datang untuk menonton burung surga jumlahnya masih kecil, kontribusi mereka bagi perekonomian masyarakat lokal mulai terasa.
Contohnya, di Kampung Warmarway yang letaknya sekitar 1 jam perjalanan darat ke arah selatan Manokwari, ada sebuah hutan yang telah saya promosikan di internet sebagai destinasi untuk pengamatan burung Surga. Hampir setiap bulan ada saja orang asing (dari Eropa, Amerika Serikat) yang datang untuk menontonnya. Pemilik hak ulayat di hutan Warmarway adalah Bpk. Yunus Sayori. Penghasilan yang diperolehnya dari para wisatawan dapat ia gunakan untuk mendukung anaknya yang sedang kuliah di Manado. Tentu hal tersebut cukup membanggakan karena tidak semua keluarga di kampung Warmarway bisa menyekolahkan anak mereka ke luar pulau Papua.
Masih banyak hal yang harus dilakukan untuk membuat program ekowisata di Papua berhasil. Dengan dukungan masyarakat adat, pemerintah dan operator tur, saya optimis, kita bisa melestarikan alam Papua dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. oleh Charles Roring