![]() |
| Sulawesi Hornbill |
![]() |
| Red-backed Thrush |
Wildlife watching in tropical rainforest and marine environment of Indonesia from snorkeling in Raja Ampat to hiking and birding in Manado city, Minahasa highland and Tangkoko Nature Reserve. My e-mail: peace4wp@gmail.com
![]() |
| Sulawesi Hornbill |
![]() |
| Red-backed Thrush |
Before the Covid-19 pandemic reached Indonesia, I often traveled to Raja Ampat islands to guide visitors. We spent between 3 to 5 days exploring the rainforest, the beach, and the islets to watch beautiful tropical birds such as Red Bird of Paradise, Wilson's Bird of Paradise, Common Paradise Kingfisher, Beach Kingfisher, Red-cheeked Parrot, Eclectus Parrot, Palm Cockatoo, Sulphur-crested Cockatoo, Hooded Butcherbird, Spangled Drongo, Pinon Imperial Pigeon, Pied Imperial Pigeon, and a lot more. These birds live in rainforest along the coastal and hill areas of Waigeo island.
![]() |
| Wilson's Bird of Paradise (Diphyllodes respublica) |
Because Wilson's Bird of Paradise can only be found in deeper forest, we need to leave homestay early in the morning and did long morning walk to its display ground. My favorite site for watching this paradise bird was Zedekiah's forest located at the entrance area of Kabui bay. There is a very narrow beach where speed boat can land for tourists to go hiking up steep slopes, to the place of Wilson's Bird of Paradise.
My favorite places for watching birds were the southern, eastern, and northern areas of Waigeo, Gam island, as well as karst in Kabui bay. When traveling in the bay, we used a motorized outrigger boat, or speed boat. Sea and coastal birds could be seen at the beaches and in the sky including White-bellied Sea Eagle, Whimbrel, Radjah Shelduck, White-breasted Woodswallow, Eastern Osprey, tern, and a lot more.
![]() |
| A Couple of Red Bird of Paradise |
In certain islets where we could find nice white sand beaches, I would ask boat driver to land on them. We could spend around 1 hour enjoying the beauty of the seascape and watch birds using spotting scope mounted on a tripod.
Raja Ampat had a lot of beautiful things for visitors to see both above and underwater. I really hope that the situation will be better in the near future so that government will allow foreign visitors to come to this country again.
The main gate to this tropical archipelago is Sorong city. Visitors can fly in from any major cities in Indonesia. Domestic airlines such as Garuda, Sriwijaya Air, Batik Air, Lion and Nam Air offer regular flights to Sorong. Arriving in DOMINE EDUARD OSOK airport, visitors still need to cross the sea by fast ferry boat to Waisai town. There are a lot of homestays and beach resorts which visitors can choose for staying in Raja Ampat for a few days. by Charles Roring
Also read:
I have just uploaded a video of a male Magnificent Riflebird calling her female partner. I saw him in Malagufuk forest of Klasow valley. It was a lowland tropical jungle of Sorong regency.
This bird is one of the 42 species of Birds of Paradise known to science. It can be found in lowland and hill forest of New Guinea. The bird has got iridescent blue breast mostly black feather. The bird dances on a branch of a tree or vine to attract her female partner for mating.
In addition to the Magnificent Riflebird, visitors who go to West Papua can also watch a lot of other birds including Lesser Birds of Paradise, King Bird of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Magnificent Bird of Paradise, Western Parotia, Red Bird of Paradise and Wilson's Bird of Paradise.
To watch them visitors need binoculars, birding camera and a field guide book: Birds of New Guinea: including Bismarck Archipelago and Bougainville by Phil Gregory or another similar title Birds of New Guinea by Thane K. Pratt, et al.
The main gate to birding in West Papua is Manokwari city and Sorong city. There are tens of hotel which visitors can choose to stay for at least one night before continuing their trip deeper into the forest to watch birds in the villages. This is written by Charles Roring
Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan hutan tropis Raja Ampat terutama di Pulau Waigeo, Gam dan Batanta. Burung ini memiliki perilaku yang unik yaitu berdansa di dahan-dahan pohon tinggi baik di pagi dan di sore hari. Dalam bahasa Inggris, namanya adalah Red Bird of Paradise. Satwa ini dilindungi sehingga siapa saja tidak boleh menangkapnya.
![]() |
| Seekor Cendrawasih Merah jantan sedang menari di cabang pohon yang tinggi |
Di Raja Ampat, wisata pengamatan burung Cendrawasih Merah semakin diminati oleh wisatawan nusantara maupun manca negara. Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan seperti wilayah selatan (Saporkren) dan utara (Urbinasopen) Pulau Waigeo serta kawasan Teluk Kabui.
Untuk menontonnya, wisatawan perlu membawa binokular. Saya sarankan yang bermerek Nikon (seperti Nikon Monarch 5 10×42mm), Leica, Swarovski, atau Bushnell. Binokular bisa dibeli lewat Tokopedia, Lazada dan Bukalapak. Ada juga yang membawa kamera d-slr dengan lensa telefoto. Kalau lensanya cuma 300 mm, lebih baik, pemakainya menambah tele-converter 2×. Ada juga kamera bridge seperti Canon SX70 HS, Nikon P1000, Sony RX10 IV atau kamera jadul Fujifilm HS50EXR.
![]() |
| Cendrawasih Merah/ Red Bird of Paradise |
Ketika matahari terbit dan langit cerah, burung-burung Cendrawasih Merah jantan akan terbang ke tempat di mana mereka biasa berkumpul untuk berdansa. Sebenarnya mereka menari untuk memikat pasangan betinanya supaya diajak kawin. Kadang persaingan terlalu sengit sehingga mengakibatkan perkelahian. Mereka juga menari di sore hari. Durasinya rata-rata dari jam 06.00-09.00 atau dari jam 14.30-17.30. Sebenarnya waktu tersebut di atas bukan jadwal standard. Jam dansa sangat dipengaruhi oleh cuaca.
Selama berkeliling kawasan hutan dan pantai di Raja Ampat, kita bisa melihat banyak sekali burung yang lain seperti Rufous-bellied Kookaburra, Beach Kingfisher (Raja Udang Pantai), Common Paradise Kingfisher, Eclectus Parrot (Nuri Bayan), Palm Cockatoo (Kakaktua Raja), Sulphur-crested Cockatoo (masyarakat lokal umumnya menyebutnya Kakaktua Putih), White-bellied Sea Eagle (Eagle Perut Putih), Brahminy Kite (Elang Bondol), Pinon Imperial Pigeon (Kumkum), dan masih banyak lagi.
Baca juga:
![]() |
| Wisatawan Amerika Serikat sedang memotret burung di malam hari ditemani masyarakat kampung. |
![]() |
| Burung Large-tailed Nightjar yang dipotret di malam hari di pinggir sungai Hutan Mesirrokow, Manokwari |
Hutan hujan tropis di Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Ada burung-burung surga seperti Cendrawasih Kuning Kecil, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Dada Biru (Toowa Cemerlang), Cendrawasih Magnificent (knang), Cendrawasih Ballerina (Western Parotia), Cendrawasih Botak (Wilson's Bird of Paradise) dan masih banyak lagi.
Ada juga hewan lainnya seperti rusa, kuskus, tikus tanah, lao-lao, ular, serangga belalang, kumbang, kunang-kunang, jangkrik, moth (kupu-kupu malam). Hewan ini terkadang lebih mudah dijumpai di malam hari ketika mereka keluar dari persembunyiannya untuk mencari makan atau kawin.
![]() |
| Kuskus Pohon di Hutan Susnguakti, Manokwari |
Kegiatan jalan malam di hutan biasanya dilakukan setelah makan malam, kira-kira sekitar jam 20.30. Di hutan Susnguakti Manokwari, target utama dalam pengamatan adalah kuskus pohon, dan soa-soa duri. Di hutan Lembah Klasow, biasanya yang kita lihat adalah Lao-lao (semacam kanguru tanah berukuran kecil yang dalam bahasa Inggris kita sebut wallaby).
![]() |
| Burung Pitta Perut Merah Papua di Hutan Susnguakti, Manokwari |
Ada banyak ular di hutan Susnguakti, baik ular pohon maupun yang berjalan di tanah. Yang paling berbahaya adalah Ular Putih (ikaheka). Ular ini telah memakan banyak korban jiwa. Oleh karena itu, setiap tur yang kami jalankan di hutan ini selalu mewajibkan peserta untuk mengenakan sepatu. Di samping itu pula, jalan setapak yang ada di dalam hutan kami bersihkan dengan sapu lidi secara teratur.
Setelah berjalan selama beberapa menit di hutan, kami biasanya berhenti di pepohonan yang ada talinya. Pada saat itu, orang kampung akan memanggil kuskus dengan meniru suara betinanya. Kalau terdengar suara di cabang-cabang pohon, kemungkinan besar, kuskusnya mulai turun. Kalau lama tidak ada kehadiran kuskus, saya, wisatawan dan warga kampung yang menemani kami akan pindah ke lokasi lain. Tingkat keberhasilan untuk melihat kuskus cukuplah tinggi ketika bulan mati (saat tidak ada cahaya bulan di langit sehingga hutan lebih gelap, tetapi tetap ada kerlap-kerlip bintang, atau cahaya dari kunang-kunang dan jamur yang bercahaya di malam hari).
Aktivitas jelajah hutan bisa berlangsung hingga jam 23.00 atau bahkan jam 01.00 lewat tengah malam.
Di Tambrauw obyek utama pengamatan adalah rusa, ada lokasi tertentu di hutan Lembah Ases tempat minum rusa dan satwa liar lainnya. Biasanya kami ke sana sekitar jam 21.00. Kami melihat rusa minum air di tempat itu. Lembah Ases adalah lokasi wisata pengamatan burung dan satwa liar yang indah sekali di Pegunungan Tambrauw.
![]() |
| Burung Pitta Kepala Hitam (Hooded Pitta) di Hutan Sorong |
Kawasan Pesisir Tambrauw juga layak dijelajahi terutama di malam hari. Ada penyu yang suka mendarat terutama dari bulan April hingga September. Penyu belimbing adalah target pengamatan yang utama tetapi ada juga penyu lekang, hawksbill dan hijau yang juga mendarat di pantai untuk bertelur.
Hal yang sama juga bisa kita temui di Pantai di Pulau Waigeo, Raja Ampat. Ketika menjelajah pesisir pantai di malam hari di utara pulau itu, kita bisa melihat penyu mendarat untuk bertelur.
![]() |
| Wisatawan Russia Jelajah Hutan Susnguakti Manokwari dipandu warga setempat |
Nah, jika Anda tertarik untuk berkunjung ke Papua Barat untuk menikmati aktivitas ekowisata baik di hutan dan di pantai (snorkeling untuk melihat keindahan terumbu karang dan ikan yang berwarna-warni), silahkan menghubungi saya lewat whatsapp; +6281332245180 atau email: peace4wp@gmail.com.
Artikel ini ditulis oleh Charles Roring.
Setiap tahun puluhan juta wisatawan domestik dan manca negara menikmati aktivitas wisata bahari yang ada di negara ini seperti atraksi nonton ikan lumba-lumba di Raja Ampat hingga olah raga selancar air di Kuta Bali. Ada yang memilih memancing di Pulau Banda tetapi ada yang tertarik melihat Gunung Api Krakatau di Selat Sunda.
![]() |
| Wisatawan Australia sedang memotret keindahan alam bahari di Raja Ampat |
Pemandangan pulau-pulau tropis dan dunia bawah air penuh dengan ikan dan terumbu karang yang berwarna-warni adalah daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh banyak negara.
Keunikan dan keindahan alam Indonesia ini yang harus dipelihara dan dilindungi. Sayang sekali, sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, tekanan-tekanan terhadap alam bahari kita semakin mengkhawatirkan. Setiap hari sampah plastik dan limbah rumah tangga maupun industri terus mengalir ke laut. Hal ini terjadi di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sampah inilah yang mengotori pesisir pantai, menutup terumbu karang sehingga tidak bisa menerima sinar matahari dan mematikan banyak satwa laut.
Jika hal ini terus terjadi, kerusakan lingkungan laut akan semakin parah, biota laut semakin banyak yang mati sehingga alam bahari tidak akan menjadi tempat hidup mahluk hidup yang menyenangkan.
![]() |
| Keindahan alam bahari di Raja Ampat |
Ada sejumlah hal yang bisa kita lakukan untuk menghentikan pencemaran laut tersebut.
Nama Diphyllodes respublica diberikan oleh Charles Lucien Bonaparte, seorang keponakan dari Napoleon yang adalah pendukung sejati republik. Ada kecenderungan umum di kalangan para zoologist pada masa itu untuk memberi nama pada spesies baru menurut nama raja, ratu, atau bangsawan tertentu. Ia tidak setuju dengan hal tersebut. Sebagai gantinya, burung surga asal Raja Ampat ini diberi nama ilmiah seperti yang tertulis di atas. Burung Cendrawasih Wilson atau Cendrawasih Botak adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di Kepulauan Raja Ampat bagian utara terutama di Waigeo, Gam dan Batanta.
![]() |
| Cendrawasih Wilson |
Tubuhnya kecil, yang dewasa sekitar 16 centimeter. Yang jantan memiliki punggung sayap berwarna merah, tengkuk kuning, kulit kepala biru bergaris hitam dan dada yang berwarna hijau tua kegelapan. Ada dua antena melingkar di ekornya. Yang betina warnanya coklat biasa dengan dada krem bergaris coklat kehitaman.
Burung ini hidup jauh di dalam hutan hujan tropis Raja Ampat. Perilakunya mirip dengan Cendrawasih Belah Rotan yang hidup di hutan pegunungan menengah di daratan utama Tanah Papua. Mereka sama-sama membuat tempat memikat betina di menggunakan tanaman kecil di dekat tanah sebagai tempatnya bertengger.
![]() |
| Cendrawasih Wilson jantan sedang memanggil-manggil pasangan betinanya |
Burung Cendrawasih Wilson membersihkan tanah dari daun dan ranting yang jatuh lalu memanggil-manggil pasangan betinanya untuk kawin. Kalau sang betina sudah datang, ia akan menggoyang-goyangkan antena di ekornya, melompat dari tanaman tongkat yang satu ke tongkat lain sambil memamerkan keindahan bulunya yang berwarna-warni.
Burung Cendrawasih Wilson telah menjadi daya tarik ekowisata yang penting di Kepulauan Raja Ampat. Banyak sekali wisatawan pengamat burung yang telah berkunjung ke sana. Mereka datang dari berbagai negara baik Eropa, Inggris, Australia, dan Amerika serta Asia. Meskipun di pinggir hutan Waigeo tidak ada hotel berbintang 5, warga setempat dan para pengusaha di Raja Ampat telah membangun akomodasi yang cukup memadai terutama di Pulau Waigeo, Gam dan Batanta. Ada homestay dengan kualitas kamar standard dan ada juga resort dengan kualitas kamar ber AC yang lebih nyaman. Lokasi pengamatan burung Wilson agak jauh ke dalam hutan, wisatawan perlu berjalan kaki atau menggunakan kendaraan 4 WD. Ada sebuah lokasi pengamatan burung Wilson di bagian selatan pulau Waigeo yang agak terpencil. Untuk menjangkaunya, wisatawan perlu naik perahu motor selama kurang lebih 20 menit dari kampung Saporkren kemudian dilanjutlan dengan jalan kaki selama 1 jam.
![]() |
| Pemandangan di Raja Ampat |
Untuk mengamati burung-burung tropis di hutan Papua, biasanya para pengamat burung menggunakan binokular (teropong dua tabung lensa). Ukuran yang umum dipakai adalah 8×42 mm, 10×42mm jenis prisma roof. Binokular untuk pengamatan burung yang terkenal kualitasnya adalah yang bermerek Leica, Swarovski, Zeiss, Nikon, Vortex Viper HD, Bushnell, dan lain-lain. Teropong yang berkualitas tinggi biasanya menggunakan lensa extra low dispersion, kedap air, ruang tabung diisi gas nitrogen, serta prisma Bak 4, serta cat multi lapisan pelindung lensa yang mencegah silau.
Di samping binokular, peralatan fotografi sering juga dibawa oleh wisatawan. Kamera D-SLR, dengan lensa telefoto seperti Sigma 150-600mm sport adalah pilihan yang baik. Tapi peralatan ini perlu tripod sebagai penstabil kamera. Karena berat dan banyak memakan tempat, banyak wisatawan pengamat burung memilih membawa kamera point and shoot seperti Nikon P1000 atau Nikon P900. Beberapa tahun lalu, saya menggunakan kamera Fujifilm HS50EXR. Meskipun bukan merupakan yang terbaik di pasaran, setidaknya saya bisa membuat gambar Cendrawasih Wilson yang baik untuk keperluan identifikasi dan penulisan jurnal ekowisata pengamatan burung di blog ini.
Selama berada di Raja Ampat, wisatawan bisa juga melihat banyak burung yang lain serta jalan-jalan menggunakan speedboat untuk melihat kepulauan Raja Ampat yang indah dan permai. Ditulis oleh Charles Roring.
Cendrawasih Kuning Kecil atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor) adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah dari Tanah Papua. Burung ini dikenal luas oleh masyarakat karena memiliki bulu yang indah kuning keemasan, putih, coklat serta hijau sehingga menjadikannya sebagai salah satu burung tercantik di dunia. Di wikipedia, menurut IUCN status burung ini adalah least concern yang artinya tidak terlalu memprihatinkan. Memang benar bahwa populasi Cendrawasih Kuning Kecil masih banyak di alam karena sebarannya bisa ditemukan di hampir semua wilayah hutan hujan tropis Papua dan Papua Barat dari wilayah Vogelkop, Bomberai, Kaimana, Nabire, Yapen Waropen, Sarmi, Jayapura; hingga ke kawasan utara Papua New Guinea.
![]() |
| Burung Cendrawasih Kuning Kecil di hutan Susnguakti Manokwari |
Meskipun masih banyak, populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) mengalami tekanan yang semakin besar. Habitat asli dari Cendrawasih adalah hutan hujan tropis. Di berbagai tempat di Tanah Papua, hutan tersebut ditebang dan lahannya dialihfungsikan menjadi lokasi perkebunan monokultur kakao, kelapa sawit, pala, kebun pertanian hortikultura, wilayah pemukiman penduduk dan perkantoran maupun gedung milik pemerintah dan swasta, lokasi konsesi tambang, hingga jalan raya.
Hilangnya habitat dan masih adanya perburuan liar merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil dan burung-burung tropis Papua secara drastis.
![]() |
| Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) Jantan di hutan Susnguakti Manokwari |
Pertambahan jumlah penduduk, serta aktivitas ekonomi di bidang logging, agrobisnis, agroindustri dan pertambangan telah menyebabkan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran. Meskipun pembukaan lahan tidak dapat dicegah 100%, hal ini bisa ditekan lewat perencanaan wilayah yang hati-hati. Desain tata ruang, dan desain tapak yang komprehensif diperlukan oleh para pengambil kebijakan dalam pembangunan untuk menyelaraskan kebutuhan pembukaan lahan bagi berbagai kepentingan manusia dengan upaya pelestarian hutan hujan tropis yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Teknologi informasi yang berkembang sangat cepat diiringi dengan ketersediaan peralatan fotografi yang semakin canggih dengan harga yang lebih terjangkau telah memungkinkan setiap orang yang berkunjung ke hutan hujan tropis di Tanah Papua untuk memotret dan membuat video tentang satwa burung yang indah ini. Hasil pemotretan dan perekaman video tersebut kemudian dibagikan ke media sosial, blog dan website di dunia maya. Ternyata foto dan video dari burung surga tersebut menarik minat banyak sekali pengamat burung dan pencinta alam untuk datang ke Tanah Papua guna menyaksikannya secara langsung.
![]() |
| Wisatawan Spanyol nonton burung di Manokwari |
Kedatangan para wisatawan pencinta alam ini semakin membantu penyebaran informasi mengenai keberadaan burung Cendrawasih Kuning-Kecil dan kekayaan keanekaragaman hayati di Tanah Papua ke masyarakat internasional yang terhubung ke dunia maya. Ekowisata pengamatan burung yang tadinya kecil sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang ikut membantu pemerintah untuk mendatangkan devisa, membuka lapangan kerja sekaligus membantu masyarakat melestarikan alamnya sendiri.
Menurut laporan US Fish and Wildlife Service, Pengamatan burung adalah salah satu aktivitas outdoor tercepat di Amerika. Trend ini terjadi juga di berbagai wilayah lain termasuk di Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Ini adalah peluang ekonomi strategis bagi berbagai negara yang memiliki hutan.
Ekowisata pengamatan burung dan satwa liar sudah berkembang sejak akhir tahun 1990an di Tanah Papua. Jumlah lokasi pengamatan burung semakin bertambah. Di Provinsi Papua Barat beberapa nama tempat yang cocok untuk dikunjungi wisatawan pengamat burung dan satwa liar:
![]() |
| Basecamp untuk wisatawan di Hutan Susnguakti Manokwari |
![]() |
| Manokwari |
![]() |
Cendrawasih Raja / King Bird of Paradise (Cicinnurus regius) |
![]() |
| Cendrawasih Raja di hutan hujan tropis |
![]() |
| Wisata Prancis di hutan Tambrauw |
![]() |
| Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) |
![]() |
| Burung Surga Merah dari Raja Ampat |
![]() |
| Western Parotia (Parotia sefilata) |
![]() |
| Burung Cendrawasih Botak dari Pulau Waigeo Raja Ampat |
![]() |
| Long-tailed Paradigala |
![]() |
| Magnificent Bird of Paradise di Hutan Andaer Pegunungan Tambrauw, Papua Barat |
![]() |
| Magnificent Bird of Paradise |
![]() |
| Burung Toowa Cemerlang atau Magnificent Riflebird |
![]() |
| Toowa Cemerlang atau Magnificent Riflebird di hutan hujan tropis Papua |
![]() |
| Tas Multi Fungsi |
![]() |
| Pinon Imperial Pigeon (Ducula pinon) di Bukit Aiwatar Kabupaten Tambrauw- Foto oleh Wim Boyden |
![]() |
| Spice Imperial Pigeon |
![]() |
| Pied Imperial Pigeon di Waigeo |
![]() |
| Mountain Fruit Dove |
![]() |
| Brown Cuckoo Dove di Raja Ampat |
![]() |
| Great Cuckoo Dove - Foto: Wim Boyden |
![]() |
| Cinnamon Ground Dove di Pegunungan Arfak |
![]() |
| Wompoo Fruit Dove di Pegunungan Tambrauw |
![]() |
| Wisatawan Belanda di KM Kasuari Pasifik 3 |
![]() |
| Wisatawan Belanda mencoba rasa pinang |
![]() |
| Warga masyarakat di pantai Saubeba dengan pisang dan kelapa sedang menunggu perahu motor untuk dimuat ke kapal. |
![]() |
| Wisatawan Belanda bersama para guru yang diperbantukan oleh pemerintah ke sekolah-sekolah di Kabupaten Tambrauw |
![]() |
| Wisatawan Belanda sedang berpose bersama seniman Papua yang membuat hiasan manik-manik ikat kepala dan tas anyaman yang dikenakannya. |
![]() |
| KM. Kasuari Pasifik 3 yang sarat dengan muatan kelapa dan pisang untuk dijual ke Sorong |