Wednesday, November 25, 2020

Birding Vacation to North Sulawesi

I offer birding vacation tour to North Sulawesi for visitors who like to watch tropical birds of Celebes island. This easy birwatching tour will include trip to a waterfall at the suburban area if the city, a trip to Doloduo for watching birds in Tambun Maleo Conservation area. Tangkoko Nature, Mount Mahawu and Sonder will also be visited. 
Sulawesi Pygmy Hornbill
Sulawesi Hornbill
During the tour, participant will watch Pale Blue Monarch, Sulawesi Hanging Parrot, Red-backed Thrush, Sulawesi Malkoha, Green-backed Kingfisher, Gross-beak Myna, Sahul Sunbird, Sooty-headed Bulbul, Ashy Woodpecker, Sulawesi Pygmy Woodpecker, Knobbed Hornbill, Sulawesi Hornbill, and a lot more.
Red-backed Thrush
Red-backed Thrush

After the birding tour to North Sulawesi, the trip can be extended to Raja Ampat islabds in West Papua for visitors to watch Red Bird of Paradise, Wilson's Bird of Paradise as well as other interesting avifauna of mainland New Guinea.
For more info about the itinerary and cost, please, contact me by email to: peace4wp@gmail.com or by whatsapp to: +6281332245180.

Tuesday, November 10, 2020

Birding at Sea and at the Beach of Raja Ampat Islands

Before the Covid-19 pandemic reached Indonesia, I often traveled to Raja Ampat islands to guide visitors. We spent between 3 to 5 days exploring the rainforest, the beach, and the islets to watch beautiful tropical birds such as Red Bird of Paradise, Wilson's Bird of Paradise, Common Paradise Kingfisher, Beach Kingfisher, Red-cheeked Parrot, Eclectus Parrot, Palm Cockatoo, Sulphur-crested Cockatoo, Hooded Butcherbird, Spangled Drongo, Pinon Imperial Pigeon, Pied Imperial Pigeon, and a lot more. These birds live in rainforest along the coastal and hill areas of Waigeo island. 

Wilson's Bird of Paradise
Wilson's Bird of Paradise (Diphyllodes respublica)

Because Wilson's Bird of Paradise can only be found in deeper forest, we need to leave homestay early in the morning and did long morning walk to its display ground. My favorite site for watching this paradise bird was Zedekiah's forest located at the entrance area of Kabui bay. There is a very narrow beach where speed boat can land for tourists to go hiking up steep slopes, to the place of Wilson's Bird of Paradise.

American visitors were birding with Charles Roring in Waigeo island

My favorite places for watching birds were the southern, eastern, and northern areas of Waigeo, Gam island, as well as karst in Kabui bay.  When traveling in the bay, we used a motorized outrigger boat, or speed boat. Sea and coastal birds could be seen at the beaches and in the sky including White-bellied Sea Eagle, Whimbrel, Radjah Shelduck, White-breasted Woodswallow, Eastern Osprey, tern, and a lot more.

Red Bird of Paradise (Paradisaea rubra)
A Couple of Red Bird of Paradise

In certain islets where we could find nice white sand beaches, I would ask boat driver to land on them. We could spend around 1 hour enjoying the beauty of the seascape and watch birds using spotting scope mounted on a tripod.

Raja Ampat had a lot of beautiful things for visitors to see both above and underwater. I really hope that the situation will be better in the near future so that government will allow foreign visitors to come to this country again.  

The main gate to this tropical archipelago is Sorong city. Visitors can fly in from any major cities in Indonesia. Domestic airlines such as Garuda, Sriwijaya Air, Batik Air, Lion and Nam Air offer regular flights to Sorong. Arriving in DOMINE EDUARD OSOK airport, visitors still need to cross the sea by fast ferry boat to Waisai town. There are a lot of homestays and beach resorts which visitors can choose for staying in Raja Ampat for a few days. by Charles Roring

Also read:

Wednesday, November 4, 2020

Magnificent Riflebird Calling His Mating Partner

I have just uploaded a video of a male Magnificent Riflebird calling her female partner. I saw him in Malagufuk forest of Klasow valley. It was a lowland tropical jungle of Sorong regency. 


This bird is one of the 42 species of Birds of Paradise known to science. It can be found in lowland and hill forest of New Guinea. The bird has got iridescent blue breast mostly black feather. The bird dances on a branch of a tree or vine to attract her female partner for mating. 

In addition to the Magnificent Riflebird, visitors who go to West Papua can also watch a lot of other birds including Lesser Birds of Paradise, King Bird of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Magnificent Bird of Paradise, Western Parotia, Red Bird of Paradise and Wilson's Bird of Paradise.

To watch them visitors need binoculars, birding camera and a field guide book: Birds of New Guinea: including Bismarck Archipelago and Bougainville by Phil Gregory or another similar title Birds of New Guinea by Thane K. Pratt, et al.

The main gate to birding in West Papua is Manokwari city and Sorong city. There are tens of hotel which visitors can choose to stay for at least one night before continuing their trip deeper into the forest to watch birds in the villages. This is written by Charles Roring

Tuesday, October 27, 2020

Cendrawasih Merah

Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan hutan tropis Raja Ampat terutama di Pulau Waigeo, Gam dan Batanta. Burung ini memiliki perilaku yang unik yaitu berdansa di dahan-dahan pohon tinggi baik di pagi dan di sore hari. Dalam bahasa Inggris, namanya adalah Red Bird of Paradise. Satwa ini dilindungi sehingga siapa saja tidak boleh menangkapnya. 

Cendrawasih Merah atau Red Bird of Paradise
Seekor Cendrawasih Merah jantan sedang menari di cabang pohon yang tinggi

Di Raja Ampat, wisata pengamatan burung Cendrawasih Merah semakin diminati oleh wisatawan nusantara maupun manca negara. Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan seperti wilayah selatan (Saporkren) dan utara (Urbinasopen) Pulau Waigeo serta kawasan Teluk Kabui. 

Untuk menontonnya, wisatawan perlu membawa binokular. Saya sarankan yang bermerek Nikon (seperti Nikon Monarch 5 10×42mm), Leica, Swarovski, atau Bushnell. Binokular bisa dibeli lewat Tokopedia, Lazada dan Bukalapak. Ada juga yang membawa kamera d-slr dengan lensa telefoto. Kalau lensanya cuma 300 mm, lebih baik, pemakainya menambah tele-converter 2×. Ada juga kamera bridge seperti Canon SX70 HS, Nikon P1000, Sony RX10 IV atau kamera jadul Fujifilm HS50EXR. 



Cendrawasih Merah jantan
Cendrawasih Merah/ Red Bird of Paradise

Ketika matahari terbit dan langit cerah, burung-burung Cendrawasih Merah jantan akan terbang ke tempat di mana mereka biasa berkumpul untuk berdansa. Sebenarnya mereka menari untuk memikat pasangan betinanya supaya diajak kawin. Kadang persaingan terlalu sengit sehingga mengakibatkan perkelahian. Mereka juga menari di sore hari. Durasinya rata-rata dari jam 06.00-09.00 atau dari jam 14.30-17.30. Sebenarnya waktu tersebut di atas bukan jadwal standard. Jam dansa sangat dipengaruhi oleh cuaca. 

Selama berkeliling kawasan hutan dan pantai di Raja Ampat, kita bisa melihat banyak sekali burung yang lain seperti Rufous-bellied Kookaburra, Beach Kingfisher (Raja Udang Pantai), Common Paradise Kingfisher, Eclectus Parrot (Nuri Bayan), Palm Cockatoo (Kakaktua Raja), Sulphur-crested Cockatoo (masyarakat lokal umumnya menyebutnya Kakaktua Putih), White-bellied Sea Eagle (Eagle Perut Putih), Brahminy Kite (Elang Bondol), Pinon Imperial Pigeon (Kumkum), dan masih banyak lagi. 

Baca juga:

Monday, October 12, 2020

Jelajah Hutan di Malam Hari

wisatawan amerika jelajah hutan Distrik Selemkai di Kabupaten Tambrauw
Wisatawan Amerika Serikat sedang memotret burung di malam hari ditemani masyarakat kampung.
Salah satu aktivitas ekowisata yang sangat diminati oleh wisatawan terutama dari manca negara adalah jelajah hutan di malam hari. Sebagai seorang pramuwisata, saya telah melaksanakan kegiatan ini banyak kali, bekerja sama dengan warga kampung di Manokwari, Sorong, Pegunungan Arfak, Tambrauw hingga Raja Ampat. 


Burung Large-tailed Nightjar
Burung Large-tailed Nightjar yang dipotret di malam hari di pinggir sungai Hutan Mesirrokow, Manokwari

Hutan hujan tropis di Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Ada burung-burung surga seperti Cendrawasih Kuning Kecil, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Dada Biru (Toowa Cemerlang), Cendrawasih Magnificent (knang), Cendrawasih Ballerina (Western Parotia), Cendrawasih Botak (Wilson's Bird of Paradise) dan masih banyak lagi. 

Ada juga hewan lainnya seperti rusa, kuskus, tikus tanah, lao-lao, ular, serangga belalang, kumbang, kunang-kunang, jangkrik, moth (kupu-kupu malam). Hewan ini terkadang lebih mudah dijumpai di malam hari ketika mereka keluar dari persembunyiannya untuk mencari makan atau kawin.

kuskus pohon
Kuskus Pohon di Hutan Susnguakti, Manokwari

Kegiatan jalan malam di hutan biasanya dilakukan setelah makan malam, kira-kira sekitar jam 20.30. Di hutan Susnguakti Manokwari, target utama dalam pengamatan adalah kuskus pohon, dan soa-soa duri. Di hutan Lembah Klasow, biasanya yang kita lihat adalah Lao-lao (semacam kanguru tanah berukuran kecil yang dalam bahasa Inggris kita sebut wallaby). 

Red-bellied Pitta in Tropical Rainforest of Manokwari
Burung Pitta Perut Merah Papua di Hutan Susnguakti, Manokwari

Ada banyak ular di hutan Susnguakti, baik ular pohon maupun yang berjalan di tanah. Yang paling berbahaya adalah Ular Putih (ikaheka). Ular ini telah memakan banyak korban jiwa. Oleh karena itu, setiap tur yang kami jalankan di hutan ini selalu mewajibkan peserta untuk mengenakan sepatu. Di samping itu pula, jalan setapak yang ada di dalam hutan kami bersihkan dengan sapu lidi secara teratur. 

Setelah berjalan selama beberapa menit di hutan, kami biasanya berhenti di pepohonan yang ada talinya. Pada saat itu, orang kampung akan memanggil kuskus dengan meniru suara betinanya. Kalau terdengar suara di cabang-cabang pohon, kemungkinan besar, kuskusnya mulai turun. Kalau lama tidak ada kehadiran kuskus, saya, wisatawan dan warga kampung yang menemani kami akan pindah ke lokasi lain. Tingkat keberhasilan untuk melihat kuskus cukuplah tinggi ketika bulan mati (saat tidak ada cahaya bulan di langit sehingga hutan lebih gelap, tetapi tetap ada kerlap-kerlip bintang, atau cahaya dari kunang-kunang dan jamur yang bercahaya di malam hari). 

Aktivitas jelajah hutan bisa berlangsung hingga jam 23.00 atau bahkan jam 01.00 lewat tengah malam.

Di Tambrauw obyek utama pengamatan adalah rusa, ada lokasi tertentu di hutan Lembah Ases tempat minum rusa dan satwa liar lainnya. Biasanya kami ke sana sekitar jam 21.00. Kami melihat rusa minum air di tempat itu. Lembah Ases adalah lokasi wisata pengamatan burung dan satwa liar yang indah sekali di Pegunungan Tambrauw. 

Burung Pitta Kepala Hitam di Hutan Distrik Selemkai di Lembah Klasow Kabupaten Tambrauw
Burung Pitta Kepala Hitam (Hooded Pitta)
di Hutan Sorong

Kawasan Pesisir Tambrauw juga layak dijelajahi terutama di malam hari. Ada penyu yang suka mendarat terutama dari bulan April hingga September. Penyu belimbing adalah target pengamatan yang utama tetapi ada juga penyu lekang, hawksbill dan hijau yang juga mendarat di pantai untuk bertelur. 

Hal yang sama juga bisa kita temui di Pantai di Pulau Waigeo, Raja Ampat. Ketika menjelajah pesisir pantai di malam hari di utara pulau itu, kita bisa melihat penyu mendarat untuk bertelur.

Wisatawan Russia di hutan Susnguakti Manokwari
Wisatawan Russia Jelajah Hutan Susnguakti Manokwari dipandu warga setempat

Nah, jika Anda tertarik untuk berkunjung ke Papua Barat untuk menikmati aktivitas ekowisata baik di hutan dan di pantai (snorkeling untuk melihat keindahan terumbu karang dan ikan yang berwarna-warni), silahkan menghubungi saya lewat whatsapp; +6281332245180 atau email: peace4wp@gmail.com. 

Artikel ini ditulis oleh Charles Roring.

Saturday, October 10, 2020

Wisata Bahari dan Pelestarian Lingkungan Laut

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki potensi wisata bahari (marine tourism) yang berlimpah. Menurut wikipedia, ada 17.504 pulau di negara ini  tetapi sampai bulan Juli 2017 baru 16.056 pulau yang telah dibakukan namanya oleh PBB. Karena Indonesia berada di katulistiwa dengan sebagian besar perairannya jernih maka terumbu karang tumbuh di sebagian besar pulau-pulau tersebut. 

Setiap tahun puluhan juta wisatawan domestik dan manca negara menikmati aktivitas wisata bahari yang ada di negara ini seperti atraksi nonton ikan lumba-lumba di Raja Ampat hingga olah raga selancar air di Kuta Bali. Ada yang memilih memancing di Pulau Banda tetapi ada yang tertarik melihat Gunung Api Krakatau di Selat Sunda.

Wisatawan Australia sedang memotret pemandangan laut di Raja Ampat
Wisatawan Australia sedang memotret keindahan alam bahari di Raja Ampat

Pemandangan pulau-pulau tropis dan dunia bawah air penuh dengan ikan dan terumbu karang yang berwarna-warni adalah daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh banyak negara. 

Pencemaran Laut

Keunikan dan keindahan alam Indonesia ini yang harus dipelihara dan dilindungi. Sayang sekali, sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, tekanan-tekanan terhadap alam bahari kita semakin mengkhawatirkan. Setiap hari sampah plastik dan limbah rumah tangga maupun industri terus mengalir ke laut.  Hal ini terjadi di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.  Sampah inilah yang mengotori pesisir pantai, menutup terumbu karang sehingga tidak bisa menerima sinar matahari dan mematikan banyak satwa laut.

Jika hal ini terus terjadi, kerusakan lingkungan laut akan semakin parah, biota laut semakin banyak yang mati sehingga alam bahari tidak akan menjadi tempat hidup mahluk hidup yang menyenangkan. 

Pesona Wisata Bahari di Raja Ampat
Keindahan alam bahari di Raja Ampat

Beberapa Langkah untuk Mengurangi Kerusakan Lingkungan Pesisir

Ada sejumlah hal yang bisa kita lakukan untuk menghentikan pencemaran laut tersebut. 

  • Kita harus berhenti membuang sampah sembarangan baik ke selokan, sungai maupun di mana saja. Saat musim hujan air akan mengalirkan semua sampah yang terkumpul di saluran pembuangan menuju sungai dan kemudian ke laut.
  • Kita perlu menggunakan material atau bahan alami. Contohnya memakai baju yang bahannya terbuat dari kapas, benang sutra, atau serat alami lainnya. Zaman dulu, masyarakat membungkus makanan menggunakan daun pisang atau daun jati Saat ini, plastik semakin banyak yang digunakan sebagai pembungkus makanan. Kita perlu kembali ke kearifan lokal yang lebih ramah lingkungan.
  • Kegiatan pembersihan pantai (beach clean-up) dari sampah plastik, logam dan hal-hal lain yang berbahaya perlu dilalukan secara teratur.
  • Kita perlu menciptakan zona penyanggah terutama di daerah yang padat penduduk dan berdekatan dengan pantai. Sekat vegetasi hijau di pesisir pantai akan membantu mengurangi tekanan aktivitas manusia terhadap laut yang bisa berakibat pada kerusakan daerah pesisir yang lebih parah  Di beberapa negara maju, ada badan pemerintah atau swasta yang bertugas untuk mengawasi aliran sungai. Industri yang melepas limbah berbahaya ke sungai ditindak tegas. Pembersihan sungai dilakukan secara terus menerus.
  • Penambangan pasir pantai, batu-batu terumbu karang, penebangan hutan bakau yang membahayakan lingkungan laut perlu ditekan. Selain merusak alam pesisir, hal tersebut akan mengakibatkan abrasi. Terumbu karang dan hutan bakau juga memiliki peran sebagai penahan ombak. 
Sebenarnya masih ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk melestarikan alam bahari kita. Yang penting untuk kita sadari bahwa pembangunan dan gaya hidup modern tetap bisa kita nikmati tanpa harus merusak alam bahari kita yang indah ini. Ditulis oleh Charles Roring. 

Monday, September 28, 2020

Burung Cendrawasih Wilson

Nama Diphyllodes respublica diberikan oleh Charles Lucien Bonaparte, seorang keponakan dari Napoleon yang adalah pendukung sejati republik. Ada kecenderungan umum di kalangan para zoologist pada masa itu untuk memberi nama pada spesies baru menurut nama raja, ratu, atau bangsawan tertentu. Ia tidak setuju dengan hal tersebut. Sebagai gantinya, burung surga asal Raja Ampat ini diberi nama ilmiah seperti yang tertulis di atas. Burung Cendrawasih Wilson atau Cendrawasih Botak adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di Kepulauan Raja Ampat bagian utara terutama di Waigeo, Gam dan Batanta. 

Ekowisata pengamatan burung di Raja Ampat
Cendrawasih Wilson

Tubuhnya kecil, yang dewasa sekitar 16 centimeter. Yang jantan memiliki punggung sayap berwarna merah, tengkuk kuning, kulit kepala biru bergaris hitam dan dada yang berwarna hijau tua kegelapan. Ada dua antena melingkar di ekornya. Yang betina warnanya coklat biasa dengan dada krem bergaris coklat kehitaman. 

Burung ini hidup jauh di dalam hutan hujan tropis Raja Ampat. Perilakunya mirip dengan Cendrawasih Belah Rotan yang hidup di hutan pegunungan menengah di daratan utama Tanah Papua. Mereka sama-sama membuat tempat memikat betina di menggunakan tanaman kecil di dekat tanah sebagai tempatnya bertengger. 

Cendrawasih Burung Surga
Cendrawasih Wilson jantan sedang memanggil-manggil pasangan betinanya

Burung Cendrawasih Wilson membersihkan tanah dari daun dan ranting yang jatuh lalu memanggil-manggil pasangan betinanya untuk kawin. Kalau sang betina sudah datang, ia akan menggoyang-goyangkan antena di ekornya, melompat dari tanaman tongkat yang satu ke tongkat lain sambil memamerkan keindahan bulunya yang berwarna-warni.

Burung Cendrawasih Wilson telah menjadi daya tarik ekowisata yang penting di Kepulauan Raja Ampat. Banyak sekali wisatawan pengamat burung yang telah berkunjung ke sana. Mereka datang dari berbagai negara baik Eropa, Inggris, Australia, dan Amerika serta Asia. Meskipun di pinggir hutan Waigeo tidak ada hotel berbintang 5, warga setempat dan para pengusaha di Raja Ampat telah membangun akomodasi yang cukup memadai terutama di Pulau Waigeo, Gam dan Batanta. Ada homestay dengan kualitas kamar standard dan ada juga resort dengan kualitas kamar ber AC yang lebih nyaman. Lokasi pengamatan burung Wilson agak jauh ke dalam hutan, wisatawan perlu berjalan kaki atau menggunakan kendaraan 4 WD. Ada sebuah lokasi pengamatan burung Wilson di bagian selatan pulau Waigeo yang agak terpencil. Untuk menjangkaunya, wisatawan perlu naik perahu motor selama kurang lebih 20 menit dari kampung Saporkren kemudian dilanjutlan dengan jalan kaki selama 1 jam.

Ekowisata di Raja Ampat
Pemandangan di Raja Ampat

Peralatan Pengamatan Burung dan Fotografi

Untuk mengamati burung-burung tropis di hutan Papua, biasanya para pengamat burung menggunakan binokular (teropong dua tabung lensa). Ukuran yang umum dipakai adalah 8×42 mm, 10×42mm jenis prisma roof. Binokular untuk pengamatan burung yang terkenal kualitasnya adalah yang bermerek Leica, Swarovski, Zeiss, Nikon, Vortex Viper HD, Bushnell, dan lain-lain. Teropong yang berkualitas tinggi biasanya menggunakan lensa extra low dispersion, kedap air, ruang tabung diisi gas nitrogen, serta prisma Bak 4, serta cat multi lapisan pelindung lensa yang mencegah silau.

Di samping binokular, peralatan fotografi sering juga dibawa oleh wisatawan. Kamera D-SLR, dengan lensa telefoto seperti Sigma 150-600mm sport adalah pilihan yang baik. Tapi peralatan ini perlu tripod sebagai penstabil kamera. Karena berat dan banyak memakan tempat, banyak wisatawan pengamat burung memilih membawa kamera point and shoot seperti Nikon P1000 atau Nikon P900. Beberapa tahun lalu, saya menggunakan kamera Fujifilm HS50EXR. Meskipun bukan merupakan yang terbaik di pasaran, setidaknya saya bisa membuat gambar Cendrawasih Wilson yang baik untuk keperluan identifikasi dan penulisan jurnal ekowisata pengamatan burung di blog ini. 

Selama berada di Raja Ampat, wisatawan bisa juga melihat banyak burung yang lain serta jalan-jalan menggunakan speedboat untuk melihat kepulauan Raja Ampat yang indah dan permai.  Ditulis oleh Charles Roring.

Thursday, September 17, 2020

Cendrawasih Kuning Kecil

Cendrawasih Kuning Kecil atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor) adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan dataran  dan pegunungan rendah dari Tanah Papua. Burung ini dikenal luas oleh masyarakat karena memiliki bulu yang indah kuning keemasan, putih, coklat serta hijau sehingga menjadikannya sebagai salah satu burung tercantik di dunia. Di wikipedia, menurut IUCN status burung ini adalah least concern yang artinya tidak terlalu memprihatinkan. Memang benar bahwa populasi Cendrawasih Kuning Kecil masih banyak di alam karena sebarannya bisa ditemukan di hampir semua wilayah hutan hujan tropis Papua dan Papua Barat dari wilayah Vogelkop, Bomberai, Kaimana, Nabire, Yapen Waropen, Sarmi, Jayapura; hingga ke kawasan utara Papua New Guinea. 

Burung Cendrawasih Kuning Kecil atau Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor)
Burung Cendrawasih Kuning Kecil di hutan Susnguakti Manokwari

Meskipun masih banyak, populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) mengalami tekanan yang semakin besar. Habitat asli dari Cendrawasih adalah hutan hujan tropis. Di berbagai tempat di Tanah Papua, hutan tersebut ditebang dan lahannya dialihfungsikan menjadi lokasi perkebunan monokultur kakao, kelapa sawit, pala, kebun pertanian hortikultura, wilayah pemukiman penduduk dan perkantoran maupun gedung milik pemerintah dan swasta, lokasi konsesi tambang, hingga jalan raya. 

Hilangnya habitat dan masih adanya perburuan liar merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil dan burung-burung tropis Papua secara drastis. 

Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor)
Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) Jantan di hutan Susnguakti Manokwari

Pertambahan jumlah penduduk, serta aktivitas ekonomi di bidang logging, agrobisnis, agroindustri dan pertambangan telah menyebabkan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran. Meskipun pembukaan lahan tidak dapat dicegah 100%, hal ini bisa ditekan lewat perencanaan wilayah yang hati-hati. Desain tata ruang, dan desain  tapak yang komprehensif diperlukan oleh para pengambil kebijakan dalam pembangunan untuk menyelaraskan kebutuhan pembukaan lahan bagi berbagai kepentingan manusia dengan upaya pelestarian hutan hujan tropis yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri. 

Teknologi informasi yang berkembang sangat cepat diiringi dengan ketersediaan peralatan fotografi yang semakin canggih dengan harga yang lebih terjangkau telah memungkinkan setiap orang yang berkunjung ke hutan hujan tropis di Tanah Papua untuk memotret dan membuat video tentang satwa burung yang indah ini. Hasil pemotretan dan perekaman video tersebut kemudian dibagikan ke media sosial, blog dan website di dunia maya. Ternyata foto dan video dari burung surga tersebut menarik minat banyak sekali pengamat burung dan pencinta alam untuk datang ke Tanah Papua guna menyaksikannya secara langsung. 

wisatawan Spanyol lagi nonton Cendrawasih
Wisatawan Spanyol nonton burung di Manokwari

Kedatangan para wisatawan pencinta alam ini semakin membantu penyebaran informasi mengenai keberadaan burung Cendrawasih Kuning-Kecil dan kekayaan keanekaragaman hayati di Tanah Papua ke masyarakat internasional yang terhubung ke dunia maya. Ekowisata pengamatan burung yang tadinya kecil sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang ikut membantu pemerintah untuk mendatangkan devisa, membuka lapangan kerja sekaligus membantu masyarakat melestarikan alamnya sendiri.

Menurut laporan US Fish and Wildlife Service, Pengamatan burung adalah salah satu aktivitas outdoor tercepat di Amerika. Trend ini terjadi juga di berbagai wilayah lain termasuk di Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Ini adalah peluang ekonomi strategis bagi berbagai negara yang memiliki hutan.

Ekowisata pengamatan burung dan satwa liar sudah berkembang sejak akhir tahun 1990an di Tanah Papua. Jumlah lokasi pengamatan burung semakin bertambah. Di Provinsi Papua Barat beberapa nama tempat yang cocok untuk dikunjungi wisatawan pengamat burung dan satwa liar:

  • Hutan Cagar Alam Pegunungan Wondiboi, dan Hutan Dataran Rendah di Distrik Naikere di Kabupaten Teluk Wondama.
  • Hutan Susnguakti, Hutan Soyti di Kwau, Hutan Syioubri, Hutan Susnguakti di Manokwari;
  • Hutan Ayapokiar, Hutan Ases dan Gunung Sakofsiah, serta sekitar kota Fef, Hutan Weyos di Kabupaten Tambrauw;
  • Hutan Malagufuk, Kampung Klatomok, dan Malaumkarta Raya di Kabupaten Sorong;
  • serta Pulau Waigeo di Raja Ampat (bukan habitat Cendrawasih Kuning Kecil, tapi ada Cendrawasih Merah)
Aksesibilitas ke berbagai lokasi pengamatan burung menjadi faktor penentu keberhasilan program ekowisata di wilayah-wilayah tersebut.
Di samping itu juga, ketersediaan akomodasi yang memadai dapat mempercepat peningkatan jumlah kunjungan wisata ke lokasi-lokasi hutan tersebut di atas. Namun demikian akomodasi bukan merupakan faktor yang sangat vital. Lokasi wisata pengamatan burung di hutan Susnguakti, misalnya, tidak memiliki fasilitas guesthouse yang memadai. Namun demikian, jumlah wisatawan yang telah berkunjung ke sana sudah mencapai ratusan orang. Persentase wisatawan asing yang hutan Susnguakti adalah 99%. 
Tourist basecamp in Susnguakti forest of Manokwari
Basecamp untuk wisatawan di Hutan Susnguakti Manokwari
Kisah sukses program ekowisata terjadi juga di Lembah Klasow. Dua kampung yang sudah dikunjungi wisatawan asing adalah Klatomok dan Malagufuk. Di sini, spesies burung-burung surga lainnya seperti Magnificent Riflebird, King Bird of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Glossy Mantled Manucode bisa ditemukan. 
Sebenarnya ekowisata pengamatan burung tidak hanya terbatas pada pengamatan burung Cendrawasih saja. Semua burung tropis yang ada di hutan Papua baik untuk diamati. 
Tanah Papua adalah surga bagi burung-burung tropis. Dari yang kecil seperti Tit Berrypecker di Pegunungan Arfak dan yang paling besar seperti Northern Cassowary di Hutan Kampung Malagufuk dan Kampung Klatomok merupakan daya tarik ekowisata yang patut kita jaga bersama. 
Untuk bisa menyaksikan secara langsung burung-burung tropis yang indah ini, wisatawan perlu terbang ke Papua Barat. Ada dua kota yang bisa dituju yakni Manokwari dan Sorong. Batik dan Sriwijaya adalah airline yang bisa melayani kedua kota tersebut. Wisatawan pengamat burung internasional kebanyakan lebih memilih Manokwari karena wisatawan bisa mengamati burung di dataran rendah, hingga ke Pegunungan Tinggi sehingga spesies yang bisa dilihat menjadi lebih bervariasi. 
kota Manokwari di Papua Barat, Indonesia
Manokwari
Selain berwisata ke hutan untuk menonton burung dan satwa liar, wisatawan bisa menikmati aktivitas wisata bahari. Ada terumbu karang yang bisa dilihat di pesisir pantai dengan bermacam-macam jenis ikan. Sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat, ada puluhan hotel di kota ini dari yang harga murah hingga yang mahal. Ada juga banyak toko, restoran dan rumah makan. Oleh karena itu wisatawan tidak akan menemui banyak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan mereka selama berlibur di Manokwari.
Pada akhirnya, semua hingar-bingar industri pengamatan burung dan satwa liar di Papua Barat haruslah membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal pemilik hutan. Jika mereka bisa mendapat pekerjaan dan penghasilan dari program ekowisata ini, niscaya kicauan Cendrawasih Kuning Kecil dan nyanyian burung-burung surga di Tanah Papua akan terus terdengar sampai ke akhir zaman. Ini ditulis oleh: Charles Roring.
Baca juga:

Sunday, September 13, 2020

Cendrawasih Raja

Burung Cendrawasih Raja memiliki ukuran yang agak kecil dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain seperti Lesser Birds of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Western Parotia, Long-tailed Paradigala, dan lain-lain. Burung ini memiliki bulu di sayap, punggung dan kepala yang berwarna merah. Dadanya ada buku berbentuk perisai berwarna hijau. Bagian bawah dada, perut hingga buntutnya berwarna putih. Burung Cendrawasih Raja memiliki 2 antena dengan bulatan hijau di ekornya. Paruhnya kuning oranye.
Karena ia sering dilihat orang sedang hinggap di sela-sela tanaman tali atau rotan yang menggantung di pepohonan maka ia agak sulit dilihat.
Burung Cendrawasih Raja di hutan Susnguakti, Papua Barat
Cendrawasih Raja / King Bird of Paradise (Cicinnurus regius)
Cendrawasih Raja hidup di pohon yang ada tali-tali rotan menggantung dan melilit batang utama maupun cabang-cabangnya. Kebanyakan di satu pohon berukuran sedang hanya ada 1 ekor jantan. Ia akan berteriak memanggil pasangan betinanya untuk kawin di pagi hari dari sekitar jam 8 hingga 11 siang dan di sore hari kira-kira jam 14.30 - 16.00. Jika burung-burung betina yang datang ke sebuah pohon ada beberapa ekor, hal ini akan membuat Cendrawasih Raja yang ada di beberapa pohon lain di sekitarnya menjadi cemburu. Mereka akan datang ke pohon tersebut untuk mengejar para betina itu.
Cendrawasih Raja
Cendrawasih Raja di hutan hujan tropis
Cendrawasih Raja jantan yang menjadi tuan rumah di pohon tersebut akan marah dan mengusir jantan-jantan lain pesaingnya tersebut. Maka hal yang tak diinginkan pun terjadi, yakni, perkelahian dan kejar-kejaran di antara mereka.
Di sinilah hukum alam berlaku, siapa yang kuat maka ia akan bertahan. 
Wisata Nonton Burung Cendrawasih
Di Tanah Papua, ada banyak tempat yang bisa dikunjungi khususnya untuk wisatawan yang ingin menonton burung-burung Cendrawasih. 
Wisata Bird watching di Pegunungan Tambrauw
Wisata Prancis di hutan Tambrauw

Di Kabupaten Sorong, hampir semua lokasi hutan dataran rendah dan pegunungan rendah, ada burung Cendrawasih Raja. Beberapa kampung yang bisa dikunjungi antara lain: Malaumkarta, Klatomok, Malagufuk, Asbaken, memiliki habitat burung tersebut dan burung tropis lainnya. ada banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk 

Di Kabupaten Tambrauw, burung ini hidup di sepanjang kawasan pesisir terutama di hutan dataran rendah hingga pegunungan rendah dari Mega, Sausapor, Werur, Saubeba, Jen Womom, Weyos, Waibeem, Wau, dan sekitarnya hingga ke Imbuan dan Distrik Saukorem.
Di Manokwari, salah satu lokasinya adalah di Hutan Susnguakti yang terletak sekitar 1 jam perjalanan dengan kendaraan roda 4 dari Manokwari, ditambah lagi 1 jam jalan kaki naik gunung. 
Di hutan ini ada beberapa spesies burung surga seperti Cendrawasih Kuning Kecil, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Dada Biru/ Toowa Cemerlang, Glossy-mantled Manucode, dll. 
Wisatawan memerlukan teropong (binocular) jika ingin menontonnya. Untuk kamera, Canon SX70HS atau Sony H400 adalah pilihan yang cocok dengan harga yang cukup terjangkau.
Baca juga: 

Sunday, September 6, 2020

Burung-Burung Surga

Burung surga atau yang umumnya dikenal dengan sebutan Cendrawasih memiliki warna bulu indah sekali. Yang paling banyak dipublikasikan di media sosial saat ini adalah Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor). Kita bisa melihat foto, gambar atau ornamennya di mana-mana, baik di baliho para politisi, baju batik Papua, atau di berbagai logo organisasi, maupun perusahaan di dalam dan di luar Tanah Papua. 
Burung Surga Kuning Kecil
Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor)

Burung Cendrawasih Kuning Kecil (Lesser Birds of Paradise) ini hidup di daerah dataran rendah hingga pegunungan rendah dari wilayah vogelkop sampai ke Nabire, wilayah Yapen Waropen, Sarmi, Jayapura sampai kawasan utara Papua New Guinea. Karena sebarannya yang luas sekali maka burung ini poluler di Tanah Papua. Foto Cendrawasih di atas, saya buat di hutan Susnguakti Manokwari.
Sebenarnya ada 42 spesies burung surga yang dikenal dalam ilmu pengetahuan. Tidak semuanya memiliki warna kuning emas seperti Cendrawasih Kuning Kecil. Namun setiap spesies cendrawasih yang ada dalam keluarga besar burung surga (birds of paradise) memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Berikut ini adalah sebagian kecil spesies yang sempat saya potret ketika menjelajah hutan hujan tropis Papua bersama wisatawan.
Cendrawasih Merah (Red Bird of Paradise)
Burung Surga Merah dari Raja Ampat

Red Bird of Paradise (Cendrawasih Merah) ini mirip dengan burung Cendrawasih Kuning Kecil. Tapi Red BOP hidup di Kepulauan Raja Ampat terutama di Waigeo, Gam dan Batanta serta beberapa pulau yang berdekatan di satu kawasan tersebut. 
Western Parotia di Pegunungan Arfak
Western Parotia (Parotia sefilata)
Burung Western Parotia, misalnya, meskipun tidak memiliki warna seindah Cendrawasih Kuning Kecil, ia memiliki tarian yang indah sekali. Burung ini hidup di hutan pegunungan tinggi di wilayah kepala burung (vogelkop) dari Provinsi Papua Barat. Berbeda dengan manusia, dalam dunia perburungan, burung jantanlah yang berdansa. Tariannya mirip seorang penari balet. Oleh karena itu, para pengamat burung ini sering menyebutnya ballerina bird. Sebelum berdansa, tanah tempat ia berdansa akan dibersihkannya terlebih dahulu dari ranting, dan daun-daun yang gugur. Setelah itu, ia akan memanggil para burung Western Parotia betina untuk datang ke lokasi dansa. Ketika mereka telah datang dan berkenan untuk menonton pergelaran tari maka ia akan berdansa.

Masih di wilayah Raja Ampat, ada spesies Cendrawasih Botak (Wilson's Bird of Paradise). Burung ini ukuran badannya kecil sekali dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.
Wilson's Bird of Paradise (Diphyllodes respublica)
Burung Cendrawasih Botak dari Pulau Waigeo Raja Ampat


Long-tailed Paradigala (Paradigala Ekor-panjang) - burung ini memiliki sebaran yang sangat terbatas yakni di kawasan hutan pegunungan tinggi dari Pegunungan Arfak. Oleh karena itu, burung surga tersebut sulit untuk dilihat orang kecuali jika ia sedang beruntung. Secara pribadi, setelah menjalankan profesi sebagai tourist guide selama 10 tahun baru pertama kali itulah saya melihat burung Long-tailed Paradigala di tempat ditaruhnya buah merah. 
Wisata nonton burung surga di Papua Barat
Long-tailed Paradigala
Magnificent Bird of Paradise (Diphyllodes magnificus) hidup di daerah transisi hutan pegunungan rendah ke pegunungan tinggi.  Ada beberapa lokasi yang bisa dikunjungi wisatawan untuk mengamati burung ini. Beberapa di antaranya adalah Hutan Ayapokiar dan Fef di Pegunungan Tambrauw, serta Hutan Soyti di Pegunungan Arfak. Di hutan Andaer Kampung Ayapokiar Pegunungan Tambrauw, lokasi pengamatan burung Magnificent Bird of Paradise hanya berjarak 50 meter dari lokasi pengamatan burung Lesser Birds of Paradise. Oleh karena itu, wisatawan pengamat burung sangat dianjurkan untuk berkunjung ke sana. 
Magnificent Bird of Paradise (Cicinnurus magnificus)
Magnificent Bird of Paradise di Hutan Andaer
Pegunungan Tambrauw, Papua Barat

Burung Magnificent Bird of Paradise atau Cendrawasih Belah Rotan
Magnificent Bird of Paradise

Magnificent Riflebird (Toowa cemerlang)
Burung Toowa Cemerlang atau
Magnificent Riflebird

Magnificent Riflebird atau Toowa Cemerlang di Hutan Malagufuk, lembah Klasow, Kabupaten Sorong
Toowa Cemerlang atau
Magnificent Riflebird di hutan hujan tropis Papua

Magnificent Riflebird (Ptilinoris magnificus) hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah. Dalam bahasa Indonesia, burung ini disebut Toowa Cemerlang. Bulunya hitam dan dadanya ada semacam perisai biru gelap yang berkilau ketika terkena cahaya. Jika sang jantan berdansa untuk memikat betina, polanya berdansa mirip seorang pemandu sorak (cheerleader) di sebuah pertandingan olah raga. Ditulis oleh Charles Roring WA: +6281332245180
Iklan:
Tas Multi Fungsi



Saturday, September 5, 2020

Kumkum

Kumkum adalah nama yang dipakai oleh masyarakat di Tanah Papua untuk burung Pinon Imperial Pigeon (Ducula pinon) dan sejenisnya. Burung ini memiliki fungsi yang penting sekali dalam ekosistem hutan hujan tropis sebagai penyebar biji-bijian. Masih sebangsa dengan burung merpati, burung kumkum sering dijadikan simbol untuk pengungkapan cinta sejati, dan kesetiaan.
Sebenarnya burung-burung yang sejenis dengan kumkum tetapi dengan ukuran tubuh dan warna yang berbeda di seluruh Tanah Papua dan pulau-pulau satelit di sekitarnya ada banyak. Keluarga pigeons dan doves ada sekitar 52 spesies di daerah ini. Beberapa di antaranya (dalam Bahasa Inggris) adalah sebagai berikut:

Kumkum Kelabu
Pinon Imperial Pigeon (Ducula pinon) di Bukit Aiwatar Kabupaten Tambrauw- Foto oleh Wim Boyden
Pinon Imperial Pigeon - warnanya abu-abu dan hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah di Tanah Papua. Makanannya adalah buah-buahan yang ada di hutan. Masyarakat suka berburu burung kumkum karena dagingnya yang cukup lezat. Burung Kumkum Kelabu atau Pergam Papua  kadang terlihat berpasangan di dahan-dahan pohon. Namun demikian burung ini sering berkumpul dalam kelompok besar ketika sedang makan  di sebuah pohon yang berbuah lebat. Ciri khas utamanya adalah adanya gari putih di ekor serta mata yang berwarna merah.
Burung kumkum laut dari Raja Ampat
Spice Imperial Pigeon

Spice Imperial Pigeon - sekilas bentuk dan warna burung ini mirip dengan Pinon Imperial Pigeon. Tetapi burung ini memiliki knob di atas paruhnya. Burung Spice Imperial Pigeon (Ducula myristicivora) mudah dilihat di pulau-pulau kecil yang ada di Kepulauan Raja Ampat.
Kumkum Putih di Raja Ampat
Pied Imperial Pigeon di Waigeo

Pied Imperial Pigeon (Ducula bicolor)- saya sering melihat burung ini ketika bepergian ketika berada di Pulau Waigeo di Raja Ampat. Mereka sering makan buah di pepohonan di pinggir pantai dalam jumlah besar. Burung ini disebut juga Pergam Laut warnanya putih dengan tepian sayap berwarna hitam. Lokasi yang gampang dicapai untuk melihat burung ini adalah di Pantai Warduwer di sebelah selatan Waigeo.
Mountain Fruit Dove
Mountain Fruit Dove

Mountain Fruit Dove - saya memotret burung di atas ketika berada di Pegunungan Arfak. Thane K. Pratt dan Beehler et al dalam buku Birds of New Guinea atas pertimbangan ilmiah tertentu memisahkan spesies ini dengan White-bibbed Fruit Dove. 
Wisata Pengamatan Burung di Papua Barat
Brown Cuckoo Dove di Raja Ampat
Brown Cuckoo Dove - Kalau kita berjalan lebih jauh ke dalam hutan, burung ini akan kita jumpai. Burung ini bisa dijumpai di Kawasan Hutan Dataran hingga Pegunungan Rendah bahkan sampai di kawasan transisi ke hutan Pegunungan Tinggi terutama saat musim buah. Dalam buku Birds of New Guinea: including Bismark Archipelago and Bougainville karya Phil Gregory, spesies burung ini telah dipecah menjadi beberapa spesies sesuai dengan lokasi habitatnya di pulau-pulau yang berbeda. Sebagian orang mengatakan pemisahan (split) species burung tersebut agak dipaksakan.
Wisata Pengamatan Burung di Hutan Pegunungan Tambrauw
Great Cuckoo Dove - Foto: Wim Boyden
Great Cuckoo Dove (Reinwardtoena reinwardti) hidup di sebagian besar wilayah hutan Papua termasuk pulau-pulau di sekitarnya. Di dahan pohon yang sedang berbuah di pinggir sungai dan bahkan di pinggir laut, saya kerap melihatnya.
Cinnamon Ground Dove
Cinnamon Ground Dove di Pegunungan Arfak
Cinnamon Ground Dove (Gallicolumba rufigula) - Burung ini menurut IUCN masuk dalam status Least Concern, artinya populasinya cukup banyak. Namun demikian, burung ini tergolong sulit untuk dilihat dan dipotret oleh para wisatawan pengamat burung. Warna bulu yang coklat mirip tanah di punggung dan kepala menjadikannya agak sulit untuk dipotret. Foto di atas saya buat ketika memandu seorang wisatawan Amerika Serikat di hutan Gunung Soyti di Pegunungan Arfak.
Wompoo Fruit Dove - Burung ini termasuk yang paling indah warnanya dalam keluarga pigeon dan dove. Foto di atas saya ambil saat berada di hutan Tambrauw. Burung ini bersarang di dahan pohon yang cukup rendah dari tanah namun masih terlindung oleh dedaunan dan ranting-ranting. Saya berhasil mendapat celah untuk memotretnya dengan baik. Sarang yang relatif kecil dibandingkan tubuhnya nampak rentan terhadap serangan predator. Demikian pula, jika terjadi angin kencang, dahan bisa bergoyang kuat. Induk burung tetap setia mengerami telurnya.
Wompoo Fruit Dove
Wompoo Fruit Dove di Pegunungan Tambrauw
Salah satu hal yang membuat saya kagum dengan burung kumkum adalah kemampuan mereka untuk terbang cepat sekali menembus celah-celah dahan dan ranting pohon tanpa menabraknya.

Untuk sementara ini dulu ulasan saya tentang burung-burung dalam keluarga kumkum. Nanti saya tambah lagi di lain waktu. Ditulis oleh: Charles Roring

Baca juga:






Tuesday, September 1, 2020

Kisah 5 Wisatawan Belanda Naik Kapal Perintis ke Tambrauw

Salah satu cara murah untuk menikmati keindahan pesisir pantai Tambrauw adalah dengan naik kapal perintis. Saya pernah memandu wisatawan Belanda melihat kampung-kampung di pesisir pantai utara Tambrauw dengan naik KM Kasuari Pasifik 3. Sebelum berlayar, kami berbelanja bahan makanan terlebih dahulu di supermarket di Manokwari. Kami meninggalkan Pelabuhan Manokwari di sore hari. Sang nakhoda berbaik hati mengizinkan kamarnya untuk disewa oleh wisatawan yang jumlahnya 5 orang dari Negeri Belanda.
Sefa international in West Papua
Wisatawan Belanda di KM Kasuari Pasifik 3
Kapal tersebut singgah di Saukorem, Imbuan, Waibem, Wau, Warmandi, Saubeba, Kwor, Opmare, Werur, Sausapor, lalu ke Sorong.
Kapal tersebut menghabiskan waktu selama 2 - 3 jam di setiap persinggahan untuk menurunkan serta menaikkan barang dan penumpang. Umumnya kapal tidak sandar di pelabuhan tapi hanya berlabuh di laut. Wisatawan dan penumpang boleh turun ke darat dengan perahu-perahu motor milik warga kampung yang merapat di samping lambung kapal. ABK akan menurunkan tangga kapal untuk memudahkan naik- turunnya penumpang dan barang.
Wisatawan bisa memanfaatkan waktu kosong tersebut untuk keliling kampung, mandi di pantai, mancing ikan di buritan kapal atau memotret keindahan alam yang ada di daerah itu.
Traveling by ship along the northern coast of Papua Barat
Wisatawan Belanda mencoba rasa pinang

Kapal Kasuari Pasifik III yang membawa kami dengan ratusan penumpang lainnya tersebut ternyata sangat besar manfaatnya dalam meningkatkan putaran ekonomi di kampung-kampung pesisir Tambrauw. Rata-rata masyarakat membawa hasil bumi berupa pisang, kelapa, bijih kakao untuk dijual di kota Sorong. Ada yang menjualnya juga ke ABK untuk kemudian dijual lagi ke kota Sorong.
Warga masyarakat di pantai Saubeba dengan pisang dan kelapa sedang menunggu perahu motor untuk dimuat ke kapal.

Naik kapal perintis di Papua Barat
Wisatawan Belanda bersama para guru yang diperbantukan oleh pemerintah ke sekolah-sekolah di Kabupaten Tambrauw

Pegawai pemerintah, guru, mahasiswa juga memanfaatkan kapal tersebut. Harga tiket per orang dari Manokwari ke Sausapor sangatlah murah yaitu Rp. 50,000. Mungkin harganya telah naik sekarang, tetapi saya yakin bahwa hal tersebut masih terjangkau bagi masyarakat umum.

Berwisata ke Tambrauw di Papua Barat, wisatawan membeli hiasan manik-manik ikat kepala dan tas anyaman buatan seorang Mama Papua
Wisatawan Belanda sedang berpose bersama seniman Papua yang membuat hiasan manik-manik ikat kepala dan tas anyaman yang dikenakannya.

Selama berada dalam perjalanan, masyarakat dan ABK memperlakukan wisatawan dengan ramah. Wisatawan dan para penumpang lainnya saling berbagi bahan makanan, berbagi cerita dan berfoto bersama.
KM Kasuari Pasifik 3 memang bukan kapal mewah. Namun demikian kapalnya lumayan bersih ketika kami menaikinya.
KM. Kasuari Pasifik 3 yang sarat dengan muatan kelapa dan pisang untuk dijual ke Sorong

Setelah menikmati keindahan alam dan keramahan masyarakat Tambrauw, kami melanjutkan perjalanan ke Sorong dengan menaiki kapal penumpang kecil. Ini adalah pengalaman wisata yang indah dan murah serta bisa dinikmati oleh siapa saja yang berminat untuk liburan ke Tambrauw.
Semoga Pandemi Covid-19 ini segera berlalu sehingga aktivitas wisata bisa pulih kembali. Ditulis oleh Charles Roring

Baca juga:

Video tentang wisata nonton burung dan satwa liar di Tambrauw: